Disiplin dengan Kasih Sayang (DKS) – Bagian 5 (terakhir)

foto bersama ibu elly risman

Pentingnya mengajarkan keterampilan mengatasi emosi/kendali diri dan keterampilan sosial

  1. Komponen ‘mengajarkan’ sering diabaikan dalam pendisiplinan anak
  2. Orang dewasa harus membantu anak dan remaja mengembangkan kemampuan yang mereka perlukan untuk mencegah mereka mengulangi tingkah laku negatif
  3. Mereka harus diajari: tidak berekasi atas dasar emosi, memikirkan konsekuensi dan bagaimana membantu diri sendiri melakukan apa yang mereka tidak suka.

Keterampilan harus diajarkan, tidak bisa sebatas disampaikan secara lisan:

  1. Temukan apa saja keterampilan yang hilang
  2. Role play (ulangi lagi kejadiannya, tambahkan dengan melatihkan keterampilan tersebut)

Tujuan mengajarkan keterampilan untuk mengatasi emosi:

  1. Untuk tetap di jalur yang benar dan hidup sehat secara produktif
  2. Untuk menenangkan diri at mereka sangat marah/sedih
  3. Untuk menggunakan kata-kata bukan aksi
  4. Untuk menaati aturan yang tidak mereka setujui/tidak mereka suka
  5. Untuk mempehatikan perasaan orang lain
  6. Untuk tetap fokus
  7. Untuk berhenti saat mereka merasa tidak ingin berhenti
  8. Untuk membuat mereka mau mengerjakan sesuatu, bahkan ketika mereka tidak ingin bekerja
  9. Untuk menangasi rasa frustasi/kecewa
  10. Untuk menangani kesuksesan
  11. Untuk memperhatikan ruang orang lain
  12. Untuk merespon orang yang berwenang
  13. Untuk bekerjasama dengan orang lain
  14. Untuk mengambil gilirannta
  15. Untuk bersikap sopan dan penuh hormat
  16. Untuk tetap hormat bahkan ketika orang lain bersikap kasar
  17. Untuk berkata’Tidak” kepada teman sebaya
  18. Untuk meminta bantuan saat mereka membutuhkannya

Cara mengajarkan keterampilan mengatasi emosi/kendali diri dan keterampilan sosial:

  1. Bertanyalah terlebih dahulu
  2. Anak belajar melalui permainan
  3. Berikan contoh yang baik
  4. Memberikan pengertian tentang cara kerja otak EPA
  5. Mengkaji ulang tingkah laku yang dapat diterima bersama anak
  6. Temukan keterampilan yang hilang
  7. Bagaimana cara mengajarkan keterampilan yang hilang tersebut.

Dalam mengajarkan anak/menegur/menegakkan disiplin, selalu dan selalu gunakan kalimat pendek. Kalimat pendek lebih efektif. Selain itu, biasakan menggunakan kalimat kalimat suruhan daripada larangan. Bu Elly tidak melarang kata ‘jangan’, tapi jangan menggunakan kata itu terlalu rutin dan tanpa alasan yang jelas. Kata ‘jangan’ tetap dibutuhkan, terutama untuk hal-hal yang sifatnya mencegah dari bahaya. Gunakan kata ‘jangan’ seperlunya. Mengakapa kalimat negatif sebaiknya dibatasi, karena pesan positif akan lebih mudah diterima. Di alam bawah sadar, anak akan mengulang-ulang dalam dirinya sendiri. Terpatri sampai kapanpun, tidak membutuhkan dorongan dari luar. Contoh pesan positif dalam kalimat pendek: jaga solatmu tepat waktu, tahan pandanganmu, pelihara kemaluanmu. Manfaat kalimat pendek: menghindari debat dan pemborosan energi, berefek baik untuk dua belah pihak, dan membuat anak menerima lebih cepat.

Dua cara efektif dalam mengatasi situasi frustasi dan marah sendiri:

  1. Menggunakan kalimat-kalimat singkat berulang. Ketimbang memborbardir dengan cermah panjang.
  2. Berpegang pada ‘aturan dua kalimat’. Yanki berhenti bicara setelah mengatakan dua kalimat. Karena semakin panjang kalimat, akan semakin diabaikan oleh pendengar (Sandra Halperin, Ph.D)

Alasan mengulangi kalimat-kalimat singkat:

  1. Lebih baik menggunakan kalimat pendek untuk meminta anak melakukan sesuatu yang benar daripada melarang mereka berhenti melakukan yang salah.
  2. Lebih efektif mengatakan “makan yang sehat” atau “ingat langsing” daripada mengatakan “jangan makan cokelat”.
  3. Pengulangan kata ‘jangan’ yang terlalu sering dan rutin justru membuat anak mudah mengabaikan apa yang diucapkan.
  4. Mengatakan perintah diawali dengan kata “Lakukan…” akan mempermudah anak melakukan apa yang diminta, daripada sebaliknya.
  5. Segera setelah menerima pesan positif yang berulang, anak akan mengulang pesan tersebut bagi dirinya sendiri dan tidak membutuhkan dorongan dari luar serta tidak membutuhkan banyak energi dari orang tua untuk membuat mereka mengingatnya.
  6. Kalimat pendek yang baiknya diucapkan adalah yang bersifat direktif, positif, serta berfokus pada tingkah laku khusus yang perlu dipelajari anak.
  7. Kalimat tersebut terdisri dari 1-3 kata, dan sebaiknya berisi pengingat bagi anak untuk mengendalikan diri.

Hal-hal yang perlu diperhatikan:

  1. Anak-anak peka terhadap harapan orang dewasa
  2. Seringlah memuji
  3. Pujilah perbuatannya dan bukan orangnya
  4. Pujian sederhana juga kerap berhasil
  5. Bantu mereka melihat masa depan
  6. Menggambarkan masa depan dengan istilah yang emosional.

Kapan kalimat panjang bisa dilontarkan? Pada saat santai atau suasana settingan yang nyaman dimana memungkinkan pembicaraan panjang dari hati ke hati antara orang tua dan anak.

Kunci DKS:

  1. Perhatikan perasaan
  2. Kalimat tanya
  3. Aturan BMM: berfikir, memilih, mengambil keputusan
  4. Kalimat pendek dan positif

Menurut saya, kekuatan dari seminar Ibu Elly adalah penjelasan teknisnya yang dibuat sesederhana mungkin dan penguatannya lewat contoh di lapangan. Contoh ini benar-benar riil karena merupakan pengalaman masa kecil Ibu Elly sendiri maupun pengalamannya menghadapi berbagai kasus pelik anak dan remaja. Inilah yang membuat paparan Ibu Elly terasa hidup, menggungah, dan mampu mengaduk-aduk emosi pesertanya. Seminar YKBH adalah seminar yang menurut saya sangat layak untuk diikuti, didalami, bahkan secara berkalai diulangi. Sebab parenting dan dunia sekitarnya membutuhkan pengasahan agar tetap mumpuni dijalani sesuai dengan jaman yang melingkupinya.

Advertisements

Disiplin dengan Kasih Sayang (DKS) – Bagian 2


Saya jatuh cinta dengan gaya bicara Ibu Elly, sejak awal jumpa. Sebagai sesama orang Sumatera, saya mampu mendeteksi ke-Sumatera-an beliau dari logat bicaranya, ada cengkok khas di sana. Tapi jangan tanya soal caranya menyapa pendengar, orang Jakarta banget! Hahaha. Berkali-kali ia melempar jokes, lalu kami tertawa riuh, dan di ujungnya ia bertanya, “Siape yang elu ketawain? Diri sendiri? Alhamdulillah, masih pada waras, ya!” Yes, we laugh at ourself. Melihat ke dalam, memeriksa tindakan dan ucapan yang sebenarnya tidak penting, saking tidak pentingnya jadi tidak berguna, saking tidak bergunannya jadi tidak berpengaruh dalam pola asuh. Sadar kalau salah, tapi terus dan tetap saja dilakukan. See, kita memang butuh ditolong oleh psikolog, minimal via seminar parenting semacam ini lah.

Ibu Elly mengingatkan pentingnya berulang kali mempertanyakan dahulu ke diri sendiri tentang sejauh apa kewenangan kita terhadap anak. Siapa kita, siapa anak kita? Anak bukan milik kita, ia titipan Allah. Ia amanah besar yang Allah turunkan langsung tanpa perantara, dijadikan dari satu sel sperma dan satu sel telur, dititipkan lewat rahim, dilahirkan dari tubuh seorang Ibu. Anak bukan tempat melakukan kesewenangan. Sebab ia amanah dari langit, menumbuhkannya pun tak sembarangan.

Penting untuk megingat tentang urgensi penanaman disiplin pada anak di usai awal hidupnya. Batasan yang disepakati sebatgai aturan di rumah harus tegas sejak anak berusia 0-7 tahun, usia inilah fase penanaman aturan, karena di usia ini anak masih bisa diatur, karena serabut otak belum bersambungan. Di atas usia 7 tahun, anak-anak yang mulai tersambung serabut otaknya akan mulai menguji batasan yg ditetapkan. Misalnya: ia sengaja melanggar batas waktu bermain, sengaja menghabiskan lebih dari jatahnya jajan, hanya untuk meihat reaksi orang tuanya. Jika batasan sudah jelas dan disiplin sudah tertanam, membantu anak meluruskannya kembali akan lebih mudah, ketimbang jika di usia awal anak dibuat bingung dengan ketidakjelasan aturan. Ketidak jelasan ini bisa karena aturan kerap berubah, aturan tidak jelas batasannya, atau orang tua yang tidak konsisten melaksanakannya.

Terkait dengan hal di atas, Ibu Elly mengingatkan tentang The V of LoVe. Lipat jari manis dan kelingking tangan kiri, lalu tegakkan sisa tiga jari yang lain. V adalah posisi antara jari tengah dan telunjuk. Masukkan jari telunjuk tangan kanan ke rongga V, inilah V of LoVe. Bagian menyempit di bagian bawah ‘V’ adalah fase 0-7 tahun. Telunjuk adalah simbol disiplin. Telunjuk yang menekan ke sudut ‘V’, menggambarkan mudahnya penanaman disiplin di usia dini, lalu merenggangnya bagian tengah dan atas ‘V’ menggambarkan bahwa dengan makin bertambahnya usia anak, pola asuh pun mulai bergeser menjadi kian ‘longgar’. Hal ini berarti pada usia anak yang kian dewasa, orang tua tak bisa lagi melakukan top down approach (bahasa penulis ini sih, bukan bahasa Ibu Elly :D), melainkan berusaha menjadi sahabat anak dan menjadikan dirinya tempat ternyaman bagi anak untuk berbagi. Pola ini bisa diterapkan jika orang tua mengasuh sendiri anaknya. Mendelegasikan pengasuhan kepada orang lain seringkali berakibat sebaliknya, tercipta pola ‘V’ terbalik, dimana anak pada usia 0-7 tahun justru mendapatkan kelonggaran, akses tanpa batas dan aturan yang tidak jelas, sehingga ketika anak masuk ke fase ‘menguji batasan’, orang tua baru mulai mengencangkan aturan dan mengeraskan hukuman. Sudut sempit pada ‘V’ terbalik ada di atas menggambarkan sulitnya anak pada fase lanjut untuk diperlakukan keras dan kaku. Tekanan ini justru beresiko pada ‘lompatan’ anak-anak ke luar jalurnya, misalnya: kenakalan remaja, seks bebas, pemakaian obat-obatan terlarang, penyimpangan seks, dll.

Penting untuk diingat dalam parenting, bahwa selalu akan menjadi pekerjaan besar bagi para orang tua untuk menciptakan harmoni antara keunikan pada masing-masing anak, fleksibilitas dalam pelaksanaan peraturan, dan batasan yang tegas serta masuk akal sehingga dalam pelaksanaannya aturan disiplin bisa lebih mudah dan mungkin untuk diterapkan (feasible). Dalami keunikan pada diri anak, gaya parenting yang berhasil untuk anak satu, belum tentu cocok untuk anak lain. Contohnya, anak Ibu Elly yang pertama dan kedua, berhasil dengan pola penegakan disiplin dengan menuliskan aturan rumah pada kertas yang ditempel di kulkas. Ketika pelanggaran terjadi, anak-anak diminta berjalan ke depan kulkas, membaca ulang aturan, menyadari kesalahan, dan lalu menerima konsekuensi pelanggarannya. Pada anak ke tiga, cara ini tidak bisa Ibu Elly terapkan. Pada usia enam tahun, putri ketiganya dengan tegas bilang bahwa dia tidak mau melihat kulkas tiap melakukan kesalahan, dia bilang, dia bukan dan tidak seperti kedua kakaknya. Maka Ibu Elly pun tidak menerapkan cara tersebut pada putri ke-3 nya.

Tahukah kita, kalau sebagai akibat pola asuh yang diterima saat kita kecil dan pengulangan kebiasaan lewat proses wiring, masing-masing kita punya ‘tombol’ yang bisa teraktivasi begitu tekanan melanda. Itulah sebabnya, seorang anak perempuan yang dididik dengan teriakan dan bentakan penuh amarah, akan tumbuh menjadi ibu pemarah yang juga akan dengan mudahnya berteriak dan membentak anak-anaknya. Pun, seorang anak lelaki yang dibentuk disiplinnya lewat pukulan dan kekerasan, akan tumbuh jadi ayah yang keras dan mudah melayangkan pukulan dan hukuman fisik pada anak-anaknya.

Selain ‘tombol’ mengerikan yang siap menghajar anak-anak kita kapan saja akibat urusan dalam diri orang tua yang tak beres, ada pula orang tua dengan senjata ‘palu’ dalam mendidik anak. Orang tua ini hanya punya ‘palu’ (baca: kekerasan) yang terus dijadikan senjata menghadapi ketidakmampuannya mengendalikan situasi tertentu saat membersamai anak. ‘Tombol’ dan ‘palu’ sebagai hasil dari sampah masa lalu ini adalah salah satu poin yang sejak awal sessi sudah Ibu Elly ingatkan untuk diselesaikan terlebih dahulu: inner child within.

Saya tertegun waktu Ibu Elly bilang, bahwa Allah sungguh telah menciptakan makhluk sempurna dan cerdas ketika menghadirkan anak-anak di dunia. Kemunduran kecerdasan, baik kognitif maupun kecerdasan sosial, justru terjadi karena asalah asuh yang dilakukan orang tuanya. Orang tua berpotensi besar memundurkan kecerdasan anak. Orang tua berpotensi besar merusak dan atau membuat anak jadi lebih tidak baik daripada proses awalnya anak diciptakan Allah. Subhanallah, kitakah orang tua yang ‘membuat mundur’ anak-anak kita? 😥

Oleh karenanya, perenting adalah proses belajar orang tua. Parenting adalah proses panjang yang hasilnya tak bisa dilihat segera. Orang tua harus belajar demi menemukan dan merumuskan cara terbaik dalam mendidik masing-masing anak. Dalam berproses ini, keluarga muslim hendaknya berpegang pada Al-Quran dan Hadits. Ingatkan selalu, bahwa dalam agama Islam, tugas utama orang tua adalah memuliakan anak dan mengajarkan mereka akhlak yang baik. Jadi, anak-anak tidak boleh dihinakan dan dijatuhkan harga dirinya dengan kata-kata dan hukuman yang tak pantas. Sebagian besar hukuman reaktif justru merusak harga diri anak, dan dalam banyak hal karena dielaborasikan dengan kemarahan, hukuman pun menjadi tidak efektif karena anak tak paham mengapa ia dihukum dan tak membuahkan hasil yang baik di masa yang akan datang. Pun, keteladananan adalah hal mutlak jika ingin membentuk pribadi dan karakter positif pada anak.

Penegakan disiplin sejak anak masih kecil adalah hal penting yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Namun pada fase ini, orang tua dituntut bijak dalam melaksanakan disiplin. Hadiah dan hukuman kebanyakan tidak efektif di rentang usia ini. Hadiah boleh diberikan asalkan tidak diiiming-imingkan sebelum suatu proses/hasil dicapai. Memberi iming-iming hadiah sebelum anak berhasil akan menumbuhkan sifat bergantung pada hadiah, atau berorientasi hadiah. Hadiah boleh diberikan setelah anak berhasil, tanpa diberitahu sebelumnya. Jadi sifatnya adalah sebagai kejutan atau sebagai ungkapan terima kasih dan kasih sayang atas apa yang telah diupayakan si anak.

Dalam Islam, memukul memang diperbolehkan. Tapi ingat syaratnya yang berderet, memukul boleh jika dilakukan di telapak kaki dan pemukulnya harus dibungkus/dilapis sesuatu yang tidak mengenai kulit langsung. Bayangkan jika kita tengah marah dan ingin memukul, lalu buru-buru mencari kain atau pembungkus untuk membungkus tangan dan alat pukul, bisa dipastikan kemarahan sudah mereda dan menguap setelahnya. Pukulan tak beraturan akan membuat anak merasa dirinya jelek atau tak berguna. Anak-anak boleh dihukum dan diberi hadiah, jika anak sudah mengerti aturan. Jadi terlebih dahulu anak harus paham aturan dan aturan mainnya, paham batasannya kapan disebut menuruti dan kapan disebut melanggar, paham akibat atau konsekuensinya, baru terapkan punish and reward.

Sebisa mungkin, usahakan sesering mungkin tersenyum, terutama di depan anak. Secara fisiologis, senyum membuat otot wajah tertarik dan mengakibatkan batang otak mendingin. Proses ini memicu seretonin mengalir ke otak. Seretonin memberi efek tenang dan anti agresivitas. Dan jika senyum ini dilihat oleh orang lain lalu memicu orang tersebut untuk tersenyum, maka efek yang sama pun terjadi. Inilah sebabnya senyum adalah sedekah buat diri sendiri dan orang lain. Dicoba deh, kalau lagi marah sama anak, cubit atau marah-marahlah sambil senyum, dijamin, gak bakal bisa! Hehehe.

Karena asah-asih-asuh anak-anak adalah urusan antara orang tua dan anak, maka tetapkan model dan gaya parenting anda sendiri. Jangan ikut-ikutan, parenting harus punya prinsip. No matter what people say. Kemampuan orang tua bertahan dan menguat selama proses pengasuhan adalah mutlak. Di kantor YKBH di Jatibening, ada sessi gratis konsultasi untuk umum. Dari hasil pendampingan para remaja bermasalah YKBH, ditemukan kenyataan bahwa pada umumnya kedekatan antar orang tua (baca: keharmonisan pernikahan) umumnya berada pada titik terendah pada saat anak beranjak remaja. Kondisi tidak harmonis ini jelas melemahkan dan memperburuk tekanan yang terjadi pada remaja bermasalah. Gratis konsultasi YKBH bisa dilaksanakan bila orang tua sanggup menemani anaknya selama proses pendampingan, awalnya sebanyak 12x pendampingan. Rata-rata orang tua ini gugur selama prosesnya, dengan menyisakan masalah pelik yang mungkin saja tak terselesaikan. Ini menunjukkan lemahnya hubungan kedua orang tua, dan melemahnya kemampuan untuk secara konsisten bertahan melakukan pendampingan terhadap anak. Pernikahan melemah, anak berkutat dalam kubangan masalahnya. Parenting sangat mungkin membuat seluruh anggota keluarga jatuh bangun saat menjalaninya. Tetapkan prinsip bersama, jalani dengan kuat, dan jangan lupa banyak tersenyum.

Terakhir sebelum masuk ke materi Ibu Elly mengingatkan agar masing-masing kita memiliki kemampuan untuk memproyeksikan tindakan. Pikirkan dari sekarang, sebelum tindakan diambil, apakah yang kita lakukan ke anak akan berakibat baik atau buruk? Keburukan yang kita tebar, bak proyektor, kelak akan muncul dalam wujud yang lebih besar, lebih masif. Bayangkan keburukan sebesar apa yang akan muncul di diri anak kita setelah ia dewasa akibat keburukan ‘kecil’ yang rajin kita tebar sehari-hari. Berpikir sebelum bertindak, bayangkan, proyeksikan.

Kalian Pasti Suka Tempat Ini, Daan, Azz!


Yuhuyyy, saya masih mau ngomongin kantor baru saya. Iyaaa, yang cuma 15 menit dari rumah itu tuh. bangga

Jadi, yah, dari pertama menjejakkan kaki di sini dengan menyadang status pegawai pindahan, saya udah punya feeling kalau anak-anak bakal suka tempat ini, seperti yang udah saya ceritain sebelumnya. Geregetan liat pasukan capung bersliweran, burung-burung gereja yang tanpa takut bertenggeran di tanah, kamboja putih eksotik yang bertaburan di atas karpet rumput hijau rapi nan terawat. Ugh, saya beneran gak sabar pengen bawa anak-anak ke sini. Dengan luas, indah dan bersihnya ruang terbuka di kantor, saya jamin, anak-anak akan merasa tempat ini gak ubahnya taman bunga dimana mereka bisa bebas berlarian, menggelinding, dan tertawa riang ditingkahi aneka flora dan fauna yang apik.

Karena atmosfirnya mirip banget sama tempat kerja Ayah saya yang juga jadi ‘area bermain’ masa kanak-kanak saya (ya iyalah, namanya juga satker yang masih dalam garis koordinasi pemerintah bidang ketenagakerjaan. nasib, dari pendidikan ampe karir saya emang ngintilin Ayah saya melulu. :p), saya jadi cerita, deh, ke Kakeknya anak-anak. Sambil senyum-senyum (saya haqqul yaqin beliau senyum, kerasa dari intonasi bicaranya 😀 hihihi), dia malah yang semangat nyuruh saya segera ajak anak-anak. Well, kayaknya yang nostalgileee bukan cuma saya, ya. Sejarah berulang di rentangan waktu berbeda padahal bukan suatu kesengajaan itu: keajaiban! Dan inilah yang saya sebut hadiah dari-Nya, jawaban dari permohonan di atas kebingungan yang kemarin-kemarin itu.

Sabtu kemarin, Yayah Azis masuk kantor, dong, pemirsa. Ya iyalah, gak seru! Mau ajak main anak-anak, bingung mau kemana. Ke mall, gak mungkin, rempong! Hwihihi. Spontan bawa duo bocah ini muter-muter naik motor, dari cari nasi uduk sampe beli susu UHT. Masih males pulang, saya kepikiran bawa mereka ke kantor. Liburan, pasti kantor gak rame, tapi juga gak sepi karena anak-anak calon peserta magang ke Jepang pasti masih beraktivitas.

Ealah, ternyata Sabtu kemaren, kantor bukannya rame lagi, tapi rame banget! Ternyata ruang serba gunanya lagi dipakai buat resepsi. Untung, meskipun pake baju kucel, satpamnya inget muka saya yang baru dua minggu mewarnai kantor ini (tsaaahhh… :D). Jadi kami bisa melenggang masuk. Ngegembol dua anak plus bawa makanan dan cemilan yang baru kami beli sebelumnya.

Daanish langsung gak sabar nyobain jalan setapak yang dibuat membelah taman cantik dengan burung-burung di sekitarnya. Azzam gak mau kalah, dia meronta minta turun dari gendongan, dan terburu-buru mengejar Rakanya. Sesekali bocah 1,5 tahun ini terjatuh, sebab undakan di mana-mana. Tapi mereka terkekeh lagi. Berputar di antara pepohonan perdu, mereka tampak benar-benar menikmatinya. “Main, ya, Buuun!” terisk si sulung.

Istirahat, saya minta anak-anak duduk di bangku batu di pinggir taman, kamboja dan bebungaan lain mengitari kami. Rindang. Romantis. Mereka membuka cemilannya, menghisap susu dari sedotan, sambil menggenggam kamboja yang dipungut dari atas rumput. Sesekali orang-orang melintas di lorong dekat tempat duduk kami, tapi anak-anak paling takjub lihat para peserta trainee yang ramai sekali.

Mereka dikumpulkan, lalu setengah berlari, berteriak bilang potongan-potongan kata dalam Bahasa Jepang, “Konnichiwa”, “Hashiraseru”, dsb. Tetiba mereka bergumul menuju satu tempat, duduk tegak dan sejurus kemudian dudung melingkari meja-meja yang sudah disediakan untuk makan. Azzam menatap lurus-lurus ke kantin besar tempat mereka makan dalam dian dan cepat. Berat ya, Nak, untuk menjalani pilihan hidup itu. Dan kelak kamu akan tahu, memang begitulah cara manusia menjalani hidupnya, tidak melulu manis, tidak selalu mudah. Eh, jadi kejauhan deh, mikirnya. 😀

Saya ajak anak-anak menepi dari keramaian tadi. Mereka berdiri di tengah area taman yang lain. Hanya ada tanaman pendek tanpa pepohonan di sana. Tapi yang seru, puluhan capung oranye beterbangan di atas kepala mereka, rendah sekali. Daanish terlonjak senang dan segera berlari ke sana kemari sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk menyentuh capung-capung itu. Dia berputar ke sana-kemari, melompat, memanjangkan tangannya, dan berpikir seolah ia dapat menangkap mereka. Azzam ikut tertawa, ia pun mengulurkan tangannya ke atas. Tawa mereka bertambah ramai. Siang yang sama sekali tak panas itu kian membuat mereka semangat dan tak merasa lelah di sana.

Belum puas, kami berjongkok di rerumputan, menemukan kupu-kupu kecil menghinggpai bebungaan kecil. Kupu-kupu berwarna coklat atau putih yang monoton, kontras dengan ungu-kuning bebungaan liar yang mungil. Azzam selalu ingin menangkap mereka. Tapi, biar kecil, mereka sigap menghindari tangan Azzam. Setiap kali gagal menangkap, bukannya sedih, Azzam justru akan tertawa-tawa. Lucu kali ya, dilihatnya kupu-kupu itu pandai sekali mengelak.

Azzam tampak enggan pulang. Saya menggandeng Daanish dan berpura-pura meninggalkan Azzam. Kami bersembunyi di balik tiang atau pot-pot besar. Dan ketika Azzam mendekat, “Baaa!” Kami berteriak mengejutkan Azzam. Gelak riang tak putus-putus dari dua anak itu tiap kali permainan diulang. Terus begitu sampai kami merasa lelah.

Di lorong, Daanish yang mulai suka diajak berfoto mulai beraksi dengan ekspresi lucunya ketika saya bilang, “Daanish, selfie, yuk,” seraya menyorongkan kamera di depan kami. Angka yang menghitung mundur dimanfaatkan Daanish untuk mengubah-ubah mimik mukanya. Ugh, ini bocah satu yaaa. Gemes!

Anak-anak yang puas main keliatan agak berat ketika diajak pulang. Tapi saya gak kalah akal, dong. alih-alih lewat jalan lorong yang membosankan, saya ajak mereka pulang lewat jalan setapak di area taman lainnya. Sambil dadah-dadah ke kucing lewat dan burung-burung gereja yang beterbangan begitu kami mendekat, akhirnya anak-anak bisa pulang dengan damai. Tanpa Ibubun ngomel-ngomel. Tanpa anak-anak nangis.

Sesiangan yang seru didukung suasana mendung tapi udaranya enak banget. Yang tadinya dikira bakal jadi ngebosenin karena Yayah kerja, ternyata kami berhasil menemukan kesenangan baru. Iyaaa, gitu aja udah bikin liburan jadi seru dan menyenangkan banget loh. Udah murah, deket pula. Yuk ah, kapan-kapan kita main ke ‘kantor’ Ibubun lagi ya, Nak, terutama kalau Yayah kerja dan kita (nyaris) mati gaya di rumah. Have fun with your work, Yayah! Hihihi. ^^

[Bermain Kaya] Beruang Dari Kertas Kokoru


Sebenernya udah pesen kertas kokoru dari olshop langganan Halaman Moeka, punyanya Mba Retno. Cerita dikit ya, tentang olshop Halaman Moeka (HM) kesayangan ini. Saya sih demen banget deh, belanja di Halaman Moeka. Olshopnya emang fokus jualan buku bekas buat anak-anak dan buku parenting terkait, dan belakangan merambah juga ke jualan bahan prakarya/kreativitas anak dan mainan edukatif. Buku-buku anak bekas yang dijual di HM nih yang bener-bener bikin saya susah ngeren belanja. Bukunya banyak yang jarang, udah gitu banyak versi macam ensiklopedi anak gitu. Pastinya buku cerita anak lokal maupun saduran juga banyak. Tapi karena udah kebanyakan punya cuku cerita anak, saya emang tergila-gilanya sama buku model-model ensiklopedia gitu. Dan buku begituan, banyaaaak di HM. Eh, gak banyak, ding. Cuma dikit. Udah gitu rebutan pula. Makanya, buruan gih, kepoin FBnya di sini.

Saya udah lama naksir kertas kokoru, tapi ga tau belinya dimana. Makanya langsung semangat begitu ada di HM. Tapi karena saya numpuk belanjaan dulu di HM, biar ngirimnya sekalian, saya jadi lupa kalo pernah pesen kokoru. Akhir minggu lalu, ke toko buku karena mau cari kartu bergambar buat permainan kosa kata Daanish, eh, malah nemu si kokoru ini. Girang, akhirnya langsung beli aja, deh. Terpaksa batal beli yang di HM. Aneka bentuk yang dibikin pake kertas kokoru ini di gambarnya sih perasaan gampang, ya. Pas dicoba, lumayan juga. Lumayan bikin jari keriting buat pemula macam saya, maksudnya. Hihihi. Payah nih ya, otak kanan saya. 😀

Buat yang pengen tau kokoru tuh kayak apa. Ini gambarnya. Dia bergelombang, mirip sama kertas kardus kalo sisinya dirobek. Gelombangnya ini yang bikin dia bertekstur dan bervolume. Makanya kreativitas yang bisa dibikin dari kokoru pun jadi bisa lebih ‘hidup’, bisa lebih tiga dimensi (3D) gitu lah.

image

Nah, percobaan pertama, saya bikin dua ekor beruang yang lagi main jungkat-jungkit. Itu tuh, kayak contoh gambar yang ada di kavernya si kokoru di foto di atas. Liat kan, ya, yang gambar sebelah kiri. Seru sih, bikin-bikinan pake kokoru itu. Tapi kan namanya bebikinan sambil ditemenin anak-anak. Pastinya mereka juga bosen kalo dicuekin kelamaan, akhirnya beruang saya dong, cuma jadi seekor. Biar cuma seekor yang penting dia udah duduk manis di atas jungkat-jungkit, sambil pegangan pula. Hihihi. Baru jadi ‘separuh’ gini aja saya udah hepi maksimal. Yah, meskipun beruang saya sempet ga dikira beruang sih ama si Mas. Masa, mentang-mentang moncongnya agak terlalu maju, terus jadi dikira babi, sih. Huhu. Teganya.
image

Yak, inilah hasil prakarya kokoru saya. Beruangnya cuma satu. Tapi seneeeng, karena sambil elus-elus sayang, berulang kali Daan bilang, “Wah, bagus yaaa. Bagus!” Ah, nak, kamu memang fans paling setianya Ibubun, yak. No matter what!

[Bermain Kaya] Dobi, Boneka dari Gulungan Tisu Bekas


Udah lama ngumpulin roll/gulungan tisu bekas, dibuang lagi. Dikumpulin, dibuang lagi. Kenapa susaaah banget ya, cari waktu mau bebikinan prakarya sama anak-anak. Padahal yang ini mah bikinnya gampang banget, ga pake susah.

Ini pun udah ada kali seminggu lebih tergeletak aja. Dibawa bobo Daanish, diseret ke ruang tamu, ditaruh di meja rias, diumpetin di boks mainan. Ah, padahal udah lama ngejanjiin Daan mau bikin boneka. Daan juga udah beberapa kali ngingetin, “Bubun, (n)anti (p)asang mata yaaa.” Dan emaknya yang sok sibuk bin sok gampang capek ini pun gak kunjung pasangin mata lucu buat si gulungan tisu bekas.

Kemaren akhirnya beli lem dan kertas origami. Ada beberapa bahan prakarya lain juga. Kalo mata, sudah lama punya. Cuma modal gunting-gunting sederhana dan tempel-tempel, jadilah si Dobi. Nama aslinya Bobi, tapi Daan nyebutnya Dobi. Ini muka versi ke dua, karena yang versi pertama udah abis ‘dioperasi’ sama Azzam, saking gregetannya dia. Hidung dan mulut Dobi versi satu udah dicopot paksa lalu dikulum-kulum sama Azzam. Huhuhu. Kesian, Dobi.

image

Akhirnya, Dobi dibenerin, dikasih hidung dan mata baru. Kali ini dari manik yang lebih gede dan mulutnya dari pompom bulu. Udah begini, baru deh cetar badai anti tsunami alias susah dicongkel Azzam. Dobi pun digiring sana-sini. Digilir dari Azzam ke Daanish. Gantian, Daanish ke Azzam lagi. Serunya,  mereka mau main gantian, gak pake rebutan heboh. Dobi si kesayangan, Dobi si teman baru. Selamat datang di rumah kami, Dobi! ^^

Ketika Anak-Anak Harus Terluka (4): Curhatlah Dengan Psikolog Anak, Meski Cuma Via Chatting!  


Sekarang saya mau flash-back ke chat history dengan psikolog anak pertama saya. Awalnya sih, saya menghubungi ibu psikolog cantik ini karena mau minta rekomen dari dia buat psikolog anaknya Daanish, eh ternyata dia juga psikolog anak toh. Sayang aja sih yaa, jauhnya gak ketulungan. Hihihi. Dan dengan sabar dan baik hatinya, temen masa SMP-SMA saya ini mau banget dengerin emak galau bin lebay macem saya curhat ke dia. Beneran, saat itu saya masih super galau loh. Itu kan belum lama dari kejadian. Saya juga masih bingung mau cerita detil ke siapa, mau cari solusi gimana, dan mau nyikapinnya juga gimana. Huhuhu. Untunglah ibu sholihat ini mau bantu.

Baiklah, saya bagi sedikit poin-poin dari beliau, ya. Tujuannya cuma berbagi, ya. Siapa tau ada yang bisa diaplikasikan atau siapa tau ada yang mengalami kasus serupa.

  1. Jangan cepat melabeli anak “trauma”. Kata “trauma” sebaiknya gak buru-buru disematkan pada anak yang telah mengalami kejadian buruk. Dalam terminologi psikologi, kata ini hanya digunakan untuk kasus berat dimana telah terbukti jelas beratnya kejadian buruk yang menimpa anak, dan imbasnya pun terlihat nyata dengan adanya perubahan sikap drastis pada diri anak. Pelabelan juga akan membuat anak terpojok sebagai korban, dan membuat orang sekitar (terutama orang tuanya) akan lebih tertekan menghadapi kondisi si anak. Kata ini berkonotasi cukup negatif, dan kata berkonotasi negatif jelas amat dihindari oleh para psikolog. Ingat, kata negatif, memberi nuansa negatif, dan mentransfer juga energi negatif. Label negatif, pasti ada dampak negatifnya, walaupun secara kasat mata tidak nampak. Tenang, dan pikirkan hal positif lainnya selain ‘labelling’.
  2. Usia Daanish (saat itu 2,5 tahun), adalah usia modelling. Anak biasanya gemar meniru apa yang dilihatnya. Semakin banyak terpapar aktivitas negatif, semakin banyak hal negatif yang ditiru. Tapi, biasanya bukan karena trauma, hanya meniru.
  3. Trauma tidaknya seorang anak juga tergantung durasi ia terpapar suatu kejadian buruk. Paparan itu biasanya minimal 6 bulan, kurang dari itu biasanya belum terbentuk trauma.
  4. Cemas boleh, tapi usahakan senetral mungkin saat memaparkan kronologis. Biarkan working diagnosis dari psikolog berjalan untuk menentuka trauma tidaknya anak, juga saran penangakan anak yang tepat.
  5. Membawa anak yang diduga terpapar kejadian negatif ke psikolog adalah langkah tepat. Apalagi jika merasa anak butuh dibantu. Apalagi jika kejadiannya tidak terdokumentasi dengan baik (minim bukti). Psikolog juga akan memantau intelegensi dan karakter/kepribadian si anak. Observasi dan assesmen dari psikolog dapat membantu mermuskan penanganan yang tepat. Sebab dengan kasus yang sama sekalipun, penanganan bisa berbeda. Umur batita memang tidak banyak bisa menerima assesmen, apalagi dengan alat bantu. Lebih banyak diobservasi.
  6. Berusahalah bersikap positif! Hilangkan rasa sedih, dan mulailah memperbaiki. Beritahu anak apa yang sebaiknya ia lakukan, ingatkan jika ia salah. Tiap keluarga punya nilai masing-masing, berpeganglah pada nilai-nilai itu. Memberi tahu anak memang baik, tapi yang terbaik adalah MEMBERI CONTOH.
  7. Biasanya untuk usia Daanish, kalau memang anaknya tidak terlalu sensitif/peka, dengan arahan yang tepat sikap/perilaku anak bisa kembali normal.
  8. Untuk Azzam, kalau ada ketakutan ketika makan akibat perlakuan kasar pengasuh saat memberi makan dulu, bisa diupayakan pendekatan yang lebih intens. Libatkan banyak sentuhan fisik: pelukan, ciuman, kehangatan saat bermain bersama. Bantu anak menenangkan dirinya dan banjiri ia dengan cinta dan kasih sayang.
  9. Secara umum di usia Daanish, anak-anak memang berada pada usia aktif dan pada fase negativistik. Umumnya tampak suka membangkang, self-centered, menolak, dsb.
  10. Dalam kasus Daanish, yang menonjol lainnya adalah penolakan terhadap aktivitas toilet training. Ini juga banyak faktor, bisa memang ada kekerasan, bisa juga karena baru baginya. Ada anak yang jijik, malas, takut, dsb saat memulai toilet training. Penting untuk diobservasi, seberapa berlebihan tantrumnya saat toilet training? Jika anak sampai berteriak, menangis kencang, melempar barang dalam durasi lama, bisa dikategorikan tantrum berleihan/kasar.
  11. Daanish bisa saja sejak awal punya tmperamen sensitif, sikap ART bisa memperburuk. Karakter agak sulit diubah, tapi bisa dikendalikan. Daanish bisa diajari agar tidak marah berlebihan saat ia sedih/kecewa. Temperamen adalah bawaan lahir, dan umumnya genetis.
  12. Sibling rivalry mungkin memng hadir antara Daanish dan Azzam, dan bisa saja diperburuk oleh role model yang salah dari ART. Tapi anak bisa diarahkan. Ubah sikap negatif ke positif. Misal saat Daanish menarik kasar rambut Azzam hingga adiknya menangis, bisa dikomentari dengan membantu Daanish memegang kepala adiknya dengan lembut sambil bilang, “Oh, Daanish maksudnya mau sayang adek kan, ya? Sini sini, kita elus kepalanya Dek Azzam yuk, Daan.”
  13. Catatan buat saya, ibunya: harus bisa release perasaan negatif (bisa dengan meditasi, olahraga, ibadah, dll). Perasaan bersalah pasti ada dan berdampak lama, jadi yang paling pertama harus dilakukan: MENERIMA keadaan dulu. Menerima bahwa kejadiannya memang sudah terlanjur terjadi. Pembawaan sensitif lebih rentan dengan traumatik, tapi dengan menerima setidaknya efek negatif bisa diredam. Menerima adalah proses. Jalani, yakini. Jangan terlalu membebani diri sendiri. Hargai setiap usaha yang sudah diupayakan maksimal. For your children, you are the BEST, you are the UNIVERSE!

Nah, akhirnya tulisan ini jadinya emang poin-poin doang ya, buka ala-ala diary kayak tulisan saya biasanya. Mungkin gak runut, mungkin juga ada yang agak sulit dipahami. Tapi saya berusaha tulis selengkap mungkin. Karena ini konsul pertama saya dengan ahlinya, yaitu psikolog anak. Perlu diketahui, karena konsulnya via chatting, pastinya gak sama dengan hasil observasi/asesmen langsung. Tapi kenapa saya bagi, karena poinnya banyak banget yang ‘ngena’ buat saya. Dan sharing pertama ini bener-bener mengubah sikan dan cara pandang saya, terutama soal pelabelan, penerimaan akan kejadian yang sudah lewat, dan upaya membebaskan diri dari rasa bersalah. Nantinya, bahkan beberapa poin klop kok sama hasil observasi dan asesmen dengan ahli kedua, Ibu Astrid W.E.N, M.Psi di Klinik Kancil. Psikolog Astrid tentunya saya dapet dari rekomendasi psikolog pertama yang saya ajak chatting ini. Sayang lagi di Jerman sih, kalo deket sih, saya datengin. Pertolongan pertamanya bener-bener berguna banget. Makasih banyak, Ibu Afilla Dwitasari, M.Psi. Semoga Allah bales kebaikan Ewi dengan kebaikan berlipat, yah! ^^

image

Pilihan tepat bingit deh curhat sama psikolog saat ketemu masalah beginian. Jelas pengetahuan psikologi anak saya super minim, jelas juga saya butuh bantuan buat menghadapi masalah ini. Curhat dengan temen n keluarga mungkin bikin adem hati sebentar. Lha, terus detilnya saya harus gimana, kan harus saya cari tau juga keleus! Untungnya selain emang udah temenan, Ewi punya ‘ilmu’nya buat ngehandle kacaunya saya saat itu. Ibarat kotak P3K, dia kasih saya pertolongan pertama yang saya butuhkan supaya lukanya gak tambah buruk. Asiknya lagi, masukan buat anaknya dapet, saran buat orang tuanya (terutama ibunya) juga dapet. Cihuy, kaaan! Ah, pokoknya berhutang budi banget deh sama Ewi. Makasih banyak ya, Wi, makasih banget! ^^

[Bermain Kaya] Sepotong Cinta Ayayah Dalam Baling-Baling Kertas


Salah satu PR besar kami setelah anak-anak mengalami kejadian buruk dengan pengasuhnya, adalah menghadirkan cinta dan MENSTIMULASI melalui aktivitas harian mereka. Tentu saja ini bukan PR ringan untuk ortu baru tanpa latar belakang psikologi/pendidikan macam kami. Ada berlembar-lembar halaman dalam buku parenting yg belum habis dibaca. Ada nasihat dan masukan belum tuntas dipahami. Ada hari2 berlalu tanpa manfaat berarti. Ada kelelahan yg menumpuk. Dan, ada mimpi buruk yg sering menghempas kami ke liang rasa bersalah itu kembali.

Di suatu hari liburnya, tiba-tiba Yayahnya Daanish-Azzam wara-wiri. Mulai dari dapur, diambilnya tusuk sate. Ke lemari penyimpanan makanan, ia ambil sedotan minuman. Terakhir, karena tampak bingung, dia tanya di mana bisa dapet kertas karton manila di rumah ini. Waktu dia bilang mau bikin baling-baling, segera saya rekomendasikan kertas di buku gambarnya anak-anak. Semua halamannya sudah penuh sapuan warna. Kami pernah mencoretnya dengan pesil warna. Pernah juga kami buat lukisan dengan menempelkan cat air di jari-jemari kami. Pendeknya, kertas itu sudah terlalu meriah dengan coretan bolpen, sapuan cat air dengan media jari, dan goresan crayon aneka warna. Begitu lengkap bahannya, segera dengan penuh semangat (baca: cinta) ia kerjakan proyek mininya.

Baling-baling sederhana ini dibuat Ayayah untuk Daanish dan Azzam yg tengah sakit. Ada sepotong cinta di sana, dan semoga ia sampai hingga relung kalbu anak-anak, menggantikan apapun hal buruk yg pernah hinggap dan menetap di jiwa mereka. Semoga.

image