Semangat ASI: Semangat Cerdas, Semangat Rajin


ibu-ibu pejuang ASI, semangat boleh, tapi jangan tuntut tubuh kita berlebihan yah. yang harus diingat adalah: 1) produksi dipengaruhi prolaktin, keluarnya ASI dipengaruhi oksitosin. oksitosin bekerja kalau ibu rileks, dan terjadilah LDR. 2) produksi ASI menyesuaikan kebutuhan bayi; beberapa ibu diberi rezeki lebih (karena itulah mereka bisa donor) dan sisanya diberi rezeki pas, tapi in shaa Allah yang ASInya kurang ga ada (mari kaji ulang lagi ilmu ASI kita, mungkin ada yang terlewat dipelajari). jadi tidak perlu risau kalau hasil pas-pasan, selagi tidak kurang, tetap syukuri. 3) yang penting ASI itu CUKUP, bukan MELIMPAH. 4) produksi dominan dipengaruhi  paradigma si ibu, disusul dengan intensitas bayi menyusui langsung dengan perlekatan yang BENAR; dan bukan dipengaruhi oleh jenis, merk, dan tipe breastpump. bagaimanapun, pompa cuma alat, dan teknik memerah ASI pang dianjurkan justru dengan teknik marmet, yang murni menggunakan tangan tanpa bantuan mekanis. jadi, bagaimanapun teknik perah dan apapun pompa ibu, satu hal yang pasti: tetap positif thinking, perbaiki perlekatan saat menyusui, dan tingkatkan intensitas menyusui langsung. 5) disiplin adalah hal MUTLAK, kalau ingin anak kita full ASI. jangan tanya kenapa hasil perah sedikit, kalau perah 2-4 jam sekali saja kita tidak sanggup.

semangat perlu, memaksa berlebihan tak perlu; tapi banyak belajar dan disiplin perah adalah kunci sukses ASI. mari semangat, semangat cerdas, semangat rajin. ^^

Advertisements

[CeritASI] Jadwal Menyusui dan Pumping Saat Cuti dan Saat Kembali Ke Kantor


Alhamdulillah, saya akhirnya ngerasain juga nonstop ng-ASI dan perah. Hehehehe. Dengan lahirnya Azzam, anak ke-2 ini, saya merasa dapet tantangan baru. Ada pengalaman yang gak saya rasakan waktu jaman Daanish dulu. A whole new world, a new challenge!

Selain pengalaman tandem nursing yang udah saya banyak saya ceritain, salah satunya di sini, tantangan lainnya adalah mengatur ritme menyusui dan pumping untuk dua bayi sekaligus. Heiyaaaa, ini dia salah satu resep cepet kurus ala saya. Mwikikikik.

Ada yang mau tau ga gambaran awal ritme menyusui dan pumping saya? Ada? Enggg, mau tau aja apa mau tau banget? 😉

Biar enak bacanya, daripada saya curhat kemana-mana kalo bikin tulisan naratif dalam paragraf gitu, mending kita bikin poin-poin aja lah yaw. Okeh, selamat menikmati! ^^

1. Jadwal Selama Cuti (full time di rumah, jadwal hanya gambaran, tidak bener-benar persis)

    • Jam 05:00 biasanya Daanish bangun duluan, menyusui Daanish.
    • Jam 06:00 menyusul Azzam bangun, menyusui Azzam.
    • Jam 08:00 menyusui Azzam dan perah bersamaan.
    • Jam 10:30 menyusui Azzam.
    • Jam 12:00 tandem menyusui Daanish dan Azzam untuk tidur siang.
    • Jam 13:30 menyusui Azzam.
    • Jam 15:00 menyusui Azzam.
    • Jam 16:30 menyusui Azzam dan perah bersamaan.
    • Jam 18:00 menyusui Azzam (kadang juga tandem Daanish-Azzam).
    • Jam 19:30 tandem menyusui Daanish dan Azzam untuk tidur malam.
    • Jam 21:00 menyusui Azzam dan perah bersamaan.
    • Jam 24:00 menyusui Azzam.
    • Jam 03:00 menyusui Azzam.

Jadi, intinya, dalam sehari biasanaya saya tandem menyusui Daanish-Azzam 2-4 kali dan perah 2-3 kali. Liat jadwal, keliatannya saya kerjaannya kaya cuma menyusui dan perah doang ya seharian. padahal, emang iya! Hahahaha. Enggak, ding. Kalo Azzam lagi lumayan tenang dan lama tidurnya, saya biasanya gak bangunin dia buat menyusu, kecuali kalo bobonya sampe tiga jam lebih. Saya sempet sering eksekusi aneka resep kue selama cuti kok. Cuma ya itu, kondisinya harus kondusif dulu. Salah satunya, Azzam pulas dan Daanish asyik main sendiri. 😉

2. Jadwal Setelah Masuk Kerja

    • Jam 05:00 biasanya Daanish bangun duluan, menyusui Daanish.
    • Jam 06:00 menyusul Azzam bangun, menyusui Azzam.
    • Jam 07:00 perah di rumah.
    • Jam 07:30 menyusui Azzam.
    • Jam 10:00 perah di kantor.
    • Jam 12:30 perah di kantor.
    • Jam 15:00 perah di kantor.
    • Jam 17:00 perah di rumah.
    • Jam 18:00 menyusui Azzam
    • Jam 19:00 menyusui Daanish
    • Jam 20:30 tandem menyusui Daanish-Azzam untuk tidur malam, atau bergantian
    • Jam 22:30 menyusui Azzam.
    • Jam 01:00 menyusui Azzam.
    • Jam 02:00 menyusui Daanish.
    • Jam 03:30 menyusui Azzam.

Sejak masuk kantor, saya merasa sangat lelah kalau harus sering-sering tandem. Akhirnya saya siasati waktunya, sambil terus berusaha bicara pada Daanish dan Azzam. Alhamdulillah mereka pelan-pelan bisa ngerti, loh. Paling saya seharian cuma sekali tandem, atau malah gak sama sekali. Hehehe. Memang ya, bayi-bayi itu dasarnya cerdas. Kalau diajak ngomong baik-baik, pelan-pelan, nanti mereka akan paham juga. Sejak masuk kerja, tentu saja, yang saya bikin makin gencar adalah: ritme pumping! Yaeyalah! Secara si Azzam mah kuat bener minum ASIPnya. Rakanya dulu umur segini paling ngabisin 300 ml ASIP. Lha ini adeknya bisa ampir 500 ml ASIP. Ajegileeee! Bubun kudu lebih semangat lagi ngumpulin ASIP buat Azzam ya, Nak! Oya, sekarang karena Daanish udah 23 bulan, jadi dia juga gak saya kasih ASIP di media dot lagi, biar gak susah nyapih dotnya nanti. Daanish gak mau juga sih minum ASIP di gelas. Akhirnya, dia ngandelin jadwal menyusu langsung aja, kadang cuma 2 kali, kadang kalau lagi manja, ya bisa sering juga sih, sampe 5-6 kali bahkan.

Setelah masuk kantor lagi, memang terasa lebih capek daripada waktu di rumah dulu. Eh, tapi waktu di rumah juga capek ding, soalnya ga ada jeda, plus anak-anak jadi nemplok melulu. Hihihi. Eniwei, saya mulai menikmati aktifitas dobel ini; ya jadi ibu bekerja, ya jadi ibu perah/ibu menyusui untuk anak-anak. Perasaan juga jadi lebih ringan, saya juga alhamdulillah lebih PD bisa kasih ASI ke anak-anak. Bener, pengalaman adalah guru paling wokeh! Uhuy! ^^

 

[Testimonial] Unimom Mezzo VS Medela Harmony


pompa

Pernah beberapa kali saya ditanya soal rekomendasi breastpump. Kali ini saya sempatkan tulis perbandingan dua pompa manual yang udah saya coba. Thanks to Santy, sahabat lama yang juga ibu pejuang ASI, yang melungsurkan pompa manual Medela Harmonynya ke saya secara cuma-cuma. Tadinya saya mau beli baru, tapi khawatir gak cocok, saya sounding di status FB jika ada teman-teman yang mau menjual pompa bekas layak pakainya. Sebelumnya, saya sudah mencoba dua pompa, Unimom Mezzo manual dan Little Giant Mosella elektrik. Kapan-kapan in shaa Allah saya tulis juga testimonial yang elektrik, meskipun sampai saat ini saya belum punya pembanding sesama BP elektrik.

Biar bisa komparasi apple to apple, saya bandingkan si Mezzo dan si Harmony dulu lah ya. Semoga informasi ini bisa sedikit membantu para Ibu dan Ayah ASI yang lagi bingung pilih pompa.

1. Mezzo dari Unimom

image

Kelebihan:

  • Harganya terjangkau (dulu saya beli 200-210 ribu, sekarang sekitar 285 ribu)
  • Spare part banyak, harga terjangkau
  • Partisi yang disteril sedikit dan mudah dilepas-pasang, sehingga irit waktu dan tenaga untuk membersihkannya (cuma ada 3 bagian yang harus disteril, terdiri dari corong sekaligus badan pompa, silikon corong, dan katup/valve. kalau tutup corong dan tuas pompa sih gak perlu disteril yah)
  • Hisapannya cenderung tidak menyakitkan, cocok untuk ibu yang baru mulai belajar perah dengan BP
  • Corong yang bersentuhan dengan PD dilapisi dengan silikon massager, yang memberi efek pijat untuk mempermudah LDR
  • Corong berukuran besar (bukan diameternya, ya, tapi tingginya), sehingga lebih banyak area PD yang masuk, sehingga makin mudah pengeluaran ASI
  • Badan pompa yang transparan membuat ibu mudah melihat kuantitas ASI yang keluar (buat saya ini penting! melihat ASI deras bisa bikin aktifitas pompa jadi makin menyenangkan! hehehe :D)
  • Diameter badan pompa yang bersambung dengan botol berukuran standar, sehingga botol bisa diganti dengan merk apa saja, termasuk berbagai merk botol dot
  • Posisi katup yang agak tinggi dari leher botol penampung, memungkinkan kita untuk perah ASI hingga batas maksimal leher botol (misal, saya pakai botol penampung 150 ml, tapi saya bisa menggunakannya hingga 180 ml)
  • Memiliki penutup corong untuk melindungi corong dari masuknya kotoran saat melakukan jeda pumping. penutup ini juga bisa berfungsi sebagai dudukan botol agar botol tak mudah terguling

Kekurangan:

  • Katup/valve mudah robek, yang bisa mengurangi kinerja pompa (pompa menjadi lemah hisapannya)
  • Corong yang dilapisi dengan silikon sering membuat ASIP terjebak di antara kedua lapisannya, sehingga ASIP bocor dan merembes ke luar
  • Bagi ibu yang sudah terbiasa dengan ritual pompa dengan BP merk lain, Unimom akan terasa longgar dan kurang menghisap
  • Untuk membawanya butuh ruang lebih besar, karena corong dan badan pompa menyatu
  • Tuas tidak ergonomis (tidak bisa berputar 360 derajat)

2. Harmony dari Medela

image

Kelebihan:

  • Tuas sangat ergonomis, cocok untuk ibu sibuk atau ibu yang harus perah sambil menyusui (dan ini hal yang paling saya suka dari Harmony)
  • Dibandingkan Unimom, ruang yang dibutuhkan untuk membawanya lebih kecil. Karena corong dan badan pompa bisa dilepas. (Saya menggunakan wadah kedap udara yang setengah kali lebih kecil untuk membawa Harmony ke kantor, ketimbang Unimom)
  • Corong tunggal tanpa lapisan membuat ASI yang keluar tidak akan merembes/bocor
  • Di versi lama dalam paket terdapat 2 corong, yang silikon dan yang plastik. Corong silikon sangat nyaman dan memberi efek pijat untuk memudahkan LDR
  • Hisapan lebih kuat dari Unimom, tapi juga tidak terlalu menyakitkan. Cocok untuk Ibu yang ingin hisapan kuat saat pumping
  • Spare part banyak, karena merupakan salah satu merk pompa terkenal dan banyak penggunanya
  • Pompa tampak terlihat lebih kokoh dengan bahan plastik yang lebih tahan lama dari Unimom
  • Memiliki dudukan botol agar pompa tidak mudah terguling saat diletakkan

Kekurangan:

  • Harganya cukup tinggi (dulu jaman saya beli Unimom, harganya 450 ribu, sekarang sudah 575 ribu)
  • Harga spare part cukup mahal
  • Partisi lebih banyak dan lebih sulit dibongkar-pasang (Ada 4 bagian yang harus disteril: corong, badan pompa, katup plastik, dan pelapis katup silikon. pelapis katup ini kecil dan sangat tipis, riskan hilang. penjual biasanya merekomendasikan untuk tidak membukanya dari katup plastiknya saat membersihkan, meskipun di buku manual merekomendasikan sebaliknya
  • Sementara, silikon di bagian tuas tidak direkomendasikan untuk disteril, meskipun karena tekanan udara, sangat mungkin bagian ujung menonjol menyentuh ASI. Solusinya: dicuci bersih dan disiram air hangat)
  • Di versi yang baru, cuma terdapat corong plastik (corong silikon dijual terpisah). Corong ini kaku dan tidak memiliki efek pijat seperti corong silikon
  • Tidak memiliki penutup corong untuk melindungi corong dari kotoran saat mengganti botol (kalau botol sebelumnya sudah penuh ASIP) atau saat jeda lainnya saat perah

Itu yang saya rasakan ya, selama memakai Unimom dan Harmony. Mungkin lain ibu akan lain pula testimonialnya. Tapi buat saya, secara fungsi dan kenyamanan, kedua pompa ini 11-12 lah. Dua-duanya sama baiknya. Saran saya, kalau memang budgetnya mepet, gak perlu beli Harmony yang mahal, Unimom udah lebih dari cukup. Tapi kalo punya dana lebih, gak rugi punya Harmony. Tuas ergonomisnya itu sangat membantu saat harus pumping sambil menyusui. Kalau saya sih hobby menyusui sambil pumping. Selain karena gampang LDR, juga efisiensi waktu. Saya jadi gak harus punya waktu khusus untuk pumping, terutama selama saya di rumah. Kalau di kantor sih emang harus punya waktu-waktu khusus untuk perah, ya. Juga, kalau sudah terbiasa perah dengan BP lainnya, mungkin Unimom akan terasa kurang kuat hisapannya, dan Harmony bisa jadi solusinya. Semoga membantu sedikit yah tulisan ini. Apapun pilihannya, tetep semangat ASI selalu! ^^

[CeritASI] [TandemNursing] Cara Jitu Cepat Kurus! (2)


Eaaa… lanjut lagi di sini curcolan a la emak-emaknye. Heran yah, perasaan kemaren-kemaren mau nulis gak sempet melulu. Sekarang giliran udah mulai nulis, gak bisa berenti. Tulisan sederhana yang harusnya jadi satu tulisan pendek aja, bisa jadi dua tulisan gini. Dasar emak-emak, disuruh cerita mah, semangat 45. Mumpung hari pahlawan baru lewat sehari! *gagal cari alesan yang tepat 😀

Setahun usia Daanish, dan saya tetap “berat”, perut pun tetap “mbuncit”. Penyemangat hati saya cuman satu: saya gak diet dan gak mau diet demi ASI buat Daanish. Hihihi. Hidup ibu ASI yang lebih cinta ASInya cukup ketimbang mikirin bentuk tubuh deh pokoknya. I heart you, mommies! Sungguh! *nyari temen 😀

Setahun lebih usia Daanish, selain tetap berat, perut kok perasaan tambah maju, yah? Tiga bulan berlalu dan saya baru nyadar: saya beneran hamil! Jadi yaaah, yang tiga bulan terakhir itu saya memang gemuk lucu nggemesin karena memang hamil anak ke dua. (Tunggu, tunggu. Loh, itu kan yang tiga bulan terakhir, yang setelah Daanish umur setaun. Kalo yang 1-2 bulan awal masuk kerja itu, yang dikira hamil dalam bus itu, yang angka timbangan gak turun dan yang gak bisa pake baju seragam kantor itu, apaaa?) Mwehehehe. Let the past be the past ya, pemirsah. Gak baik mengungkin masa lalu, ah. *modus ga mau dibilang gemuk 😀

Setelah tau hamil anak ke dua, saya stop dong bingung-bingung mikirin BB. Soalnya, hamil adalah alasan paling oke buat makan banyak sekaligus pembenaran paling tak terbantahkan untuk setiap kg pertambahan BB. Hihihi. Eh, klausul keren nih, statemen barusan kayaknya kudu dipatenkan. Jadi yang mau merujuk, harus mencantumkan sumbernya ya. 😉 Ayo-ayo sini, yang merasa senasib sepenanggunan dengan saya. Sini, jangan malu-malu. Hihihi.

Singkat cerita, lahirlah Azzam, anak ke dua saya. (Kenapa ceritanya disingkat, karena kalo gak bisa ada jilid 3, 4, 5 dst ini tulisan :p). Azzam lahir saat Rakanya belum genap berusia 20 bulan. Otomatis, saya masih harus juga memenuhi hak Daanish akan ASI. Karena sudah NWP selama hamil Azzam, begitu Azzam lahir saya bertekad lanjut dengan tandem nursing; menyusui dua bayi bersamaan.

Tandem nursing (TN) itu rasanya nano-nano banget loh, para pembaca yang unyu-unyu. Pada awalnya saya gak tahan sama nyeri jahitan dan kontraksi pengerutan rahim yang kerap jadi berkali lipat sakitnya kalo sedang TN. Sakiiiittttt beneran deh. Jauh lebih sakit daripada pengalaman perdana nyusui anak pertama dulu. Baik menyusui bergantian maupun barengan sekali waktu, dua-duanya butuh kesabaran. Sabar nahan sakit. Sabar nahan capek.

Inget rasa nyeri puting juga kan waktu awal-awal menyusui? Ini juga sama, mana kanan dan kiri pula. Beuhhh, kalo gak demi anak dan inget kalo dalam setiap tetes ASI itu ada ganjaran dari Allah aja, nyerah deh nyerah. Huhuhu. Saking stressnya, sesekali saya juga mojok di kamar, nangis. Kadang gak tahan sakitnya. Kadang gak kuat lelahnya. Kadang gak mampu ngendaliin emosinya. Macem-macem deh. 😥

Rasa ‘cuma’ berfungsi sebagai ‘sapi perah’ juga mendadak membumbung. Saya merasa useless. Merasa gak ada guna yang lain selain ngasih ASI ke anak-anak. Entah kenapa ada saat-saat dimana saya ngerasa kecil sekali, kalo ‘cuma bisanya’ menyusui tanpa henti. Gak bisa pegang kerjaan rumah, gak bisa bikinin cemilan Daanish, gak bisa produktif nulis, dan sedang gak aktif kerja di kantor pula. Seharian kerjanya cuma menyusui dan menyusui lagi. Lepas si kakak, lanjut si adek. Baru istirahat bentar, si kakak bangun. Mau rebahan bentat karena sehari semalam belum tidur, eh, setengah jam sekali si adek minta ASI. Di sela-selanya, saya harus mulai pumping, supaya anak-anak punya stok ASIP cukup saat saya mulai kerja nanti. Lelah? Bangeeet! Lahir batin malah. Huhuhu. Saya yang waktu anak pertama gak ngalamin baby blues, kali ini ngalamin berkali-kali. Duh…

Perjuangan dimulai dari hari pertama Azzam lahir. Belum bisa nemuin ritme yang pas antara saya, Daanish, dan Azzam, saya harus bertempur sendirian sejak malam pertama Azzam lahir. RS gak mengizinkan keluarga laki-laki menunggui pasien di bangsal ibu bersalin di atas jam 9 malam. Rasanya? Pengen teriak, deh! Orang tua dan mertua saya jauh. Saya terpaksa SC dan jahitan luar biasa nyerinya. Bangun saya belum bisa, miring pun dipaksakan. Suster kurang sigap saat dimintai tolong. Hasbunallah wa nikmal wakiil nikmal maula wa nikman nasiir, Allah sebaik-baik penguat, dan dari-Nyalah kekuatan yang entah dari mana itu bisa muncul. Pokoknya akhirnya Azzam bisa full ASI dari awal, saya mulai perah dari hari pertama, dan sesekali menyusui Daanish di RS (di rumah dia minum ASIP).

Lanjut to the next battle, sebulan usia Azzam, suami harus dinas ke Thailand selama 6 hari. Oh, penderitaan belum berakhir ternyata. Saya bergantung sekali pada suami kalau sudah namanya malam hari. Sering, TN terlalu sulit dilakukan karena saya terlalu drop. Saat itulah satu bayi ditimang suami, sementara saya menyusui yang satunya. Baru setelah yang disusui itu tenang, saya lanjut menyusui yang nomor antrian berikutnya. Lhaa, kalau suami gak ada, saya (baca: kami) gimana dong? Sambil berderai-derai air mata, entah bagaimana, akhirnya terlewati juga seminggu itu. Dengan bonus jackpot, saya menemukan 3 posisi baru buat TN yang minim lecet dan sakit. Alhmdulillah.

Masih harus menerima medan pertempuran lain sebagai tanda kasih dari Allah, selama sembilan hari penuh di masa pra dan pasca Idul Adha kemarin, saya ditinggal oleh ART pulang kampung. Ini lebih parah lagi. Nyeri jahitan tentu saja masih, kerjaan rumah full dipegang saya, urusan bayi 21 bulan dan 1 bulan selama 24 jam juga saya pegang. Serunya, entah kenapa minggu itu suami luar biasa sibuk di kantornya. Sabtu Minggu pun tetep ngantor. Hari kerja jangan ditanya, kalo gak pulang larut ya laruuuut banget. Hehehehe. Ada banyak momen dimana saya harus menahan kantuk 2-3 hari; begadang melebihi saat menulis tesis S2 dulu. Dengan lelah fisik, mental, dan pikiran, 10 hari pun berlalu. Ini momen terberat sampai saat ini, dan tentu saja ada banyak sekali mendung, hujan, dan badai di dalamnya. Selama cuti, ini momen paling mellow sedunia deh pokoknya. 😉

Nah, 3 momen besar itu mungkin yang membantu saya cepet kurus. Di luar itu, diet kebetulan saya juga didukung oleh proses TN plus pumping harian yang udah meningkat frekuensinya jadi 3x sehari sekarang. Sekarng sih TN udah makin jago. Alhamdulillah nyeri bekas SC dan kontraksi rahim juga udah gak ada lagi. Makin lancar makin okeh deh tandem nursingnya. Hayuk sini, ada yang mau berguru? *pletak, sok keren amat! :p

Jadi yah, kalo mau cepet kurus, jalanilh TN. Kalo mau TN, punyalah anak dalam usia berdekatan. Hahaha, logical fallacies! Enggak ding. Saya percaya yng saya jalani sudah ditentukan oleh Allah. Termasuk skenario yang mengharuskan saya TN. Saat ini, saya masih aktif menyusui Daanish yang 22 bulan dan Azzam yang 2 bulan. Daanish menyusu 4-6x sehari. Kalo si newborn Azzam bisa 1-2 jam sekali, karena bayi ASI mudah laper dan haus. Di sela-sela itu saya perah 2-3 kali sehari, dengan perolehan sangay bervariasi, mulai dari 100 hingga 400 ml per hari. Ritme ituuu aja tiap harinya.

Tapi, ibu-ibu inget gak tuh rasa laper, haus, ngantuk, dan lelah kalo abis nyusui si kecil? Nah, itu saya mungkin bisa dibilang 2x lipet rasanya. Karena dua bayi yang harus disusui itu. Kadang kayak abis nyangkul di sawah deh rasanya setelah seharian menyusui dll itu. *Halah, kayak tau aja rasanya nyangkul di sawah :)) Kadang juga bingung kalo jadi gak rajin ke kamar kecil jadinya. Mungkin gak karena hampir seluruh makanan cuman kulonuwon aja dan terus bablas jadi ASI dan diambil sama dua bayi saya ya?

Makan sih saya gak senafsu jaman nyusuin Daanish, kadang cuma 2x sehari. Tapi kalo ngemil sih jagonya. Alasan bikin cemilan buat Daanish, ujung-ujungnya saya juga yang ngabisin. Yang pasti masuk tiap haris tentunya buah dan sayur. Kemaren-kemaren sempet aktif minum madu/air madu juga, tapi sekarang lagi abis madunya. Sesekali minum UHT, bukan karena khasiatnya, tapi lebih karea kepengen. Sesekali juga beli tape ketan. Lagi-lagi lebih karen sayanya yang ngidam.

image

Meskipun kadang-kadang pusing kalo kurang makan/minum, tapi sekarang saya bisa berbinar-binar liat angka digital di timbangan. Mimpi muluk-muluk yang dulu itu, udah jadi kenyataan. Kenyataan yang terlalu indah malah. Angkanya gak cuma turun ke masa sebelum hamil anak pertama, tapi terus merosot ke angka pada masa sebelum/awal nikah. Cihuy, eh, alhamdulillaaaaaah! ^^ *peluk timbangan erat-erat

[CeritASI] [TandemNursing] Cara Jitu Cepat Kurus! (1)


OCD mah lewaaat! Diet karbo juga lewaaat! FC juga lewaaat! Hihihihi… Ampuuun, saya gak bermaksud provokatif, lho. Pun, gak bermaksud nyindir-nyindir soal BB para busui. Baca dulu sampe abis yah, semoga ada hal baik yang bisa diambil hikmahnya.

Oke, saya memang gak bisa bilang kalo cara diet a la tandem nursing ini lebih baik dari cara dien A, B, C, dst. Karena saya gak pernah nyoba diet dengan metode apapun. Plus, “keberhasilan” saat saya tandem nursing pun buat saya adalah bonus. Serius, jadi kurus sama sekali bukan target saya. Ayolah, percaya saya, biar tulisan saya laris manis sampe abis. *eh, loh?!

Sebelumnya, saya mau cerita gimana sedihnya saya dulu setelah masuk kerja usai cuti bersalin anak pertama. Kejadiannya bukan di awal-awal banget masuk kerja, sudah berjalan 1-2 bulan setelahnya. Rute dari rumah ke kantor memang salah satunya dijalani dengan menumpang bus trans Jakarta. Koridor Cililitan-Grogol termasuk koridor yang rame, bahkan di jam ngantor “agak siangan” seperti yang saya jalani.

Pada satu hari yang indah itu, saya ikut berjejalan masuk ke dalam bus. Selalu menjadi tempat favorit, di area khusus wanita saya berdiri nyempil. Gemblokan lengkap, tas kerja dan aneka pritilan kerja, plus satu tas pendingin (cooler bag) lucu berisi seperangkat breast-pump, botol-botol penyimpan ASIP, cooler gel, dan hand sanitizer. Yep, inilah saya, pahlawan bertopeng! Hihihi, bukan, bukan. Saya resmi jadi ibu bekerja plus ibu perah mulai dari hari pertama masuk kerja pasca cuti bersalin Daanish. Oh, indahnya duniaaa… 😉

Belum, ini sih belum sampe ke bagian sedihnya, jadi jangan nangis dulu dong, ah. Bikin saya ga enak aja :p. Nah, sesaat setelah nyempil di depan para wanita yang duduk itulah, momen paling menyedihkan itu terjadi. Tetiba seorang perempuan muda yang cantik (eh, cantik ga yah? lupa! :D) berdiri dan menatap saya penuh iba. “Ibu, silahkan duduk, Ibu sedang hamil, kan?” ujarnya tulus. Oh my! Sekalipun ingin saya berterima kasih atas sopan santun dan ketulusannya, saya sempat cuma mematung. Alih-alih duduk dan bilang ‘makasih’, saya malah manghadapkan jari telunjuk kanan ke muka sendiri dan dengan polosnya bertanya balik, “Saya?” Dan perbuatan bodoh saya itu diikuti dengan anggukan lembut perempuan muda tadi seraya diiringi tatapan mata-mata yang kian banyak tertuju pada perut saya. Aaah, saya pengen ngilang detik itu juga! Ngilang bentar terus cari penghapus ingatan biar orang-orang di bus tadi amnesia kalo ada saya di dalem bus.

Saya bisa saja menyelamatkan harga diri saya dan mengangkat harga diri si perempuan muda dengan bilang ‘iya, terima kasih’, lalu sekonyong-konyong duduk manis di bangku yang disediakan. Toh, gak ada yang tau kalo saya bohong. Plus, bonusnya saya dapet tempat duduk di tengah macetnya lalin hari itu. Tapi, dengan kuyu dan setengah menunduk, saya jujur bilang, “Gak, Mba, saya gak lagi hamil. Silahkan bangkunya untuk yang lain.” Keliatan keren dan gentle-woman (gyahaha, gender-oriented banget nih penulis :D) sekali yah, pernyataan saya itu. Efeknya dooong, yang luar biasa. Seharian saya gak PD di kantor. Baju luaran yang gedombrong saya tutupkan ke perut, jilbab pashminanya juga. Masih kurang usaha, bolak-balik deh ke kamar kecil demi melihat dengan mata kepala sendiri bayangan tentang seberapa mirip orang hamilnya saya saat itu.

Sayangnya, di kantor gak ada cermin ajaib punya ibu tirinya si Snow White. Saya cuma dikasih potret jujur tentang diri saya; yang membuat saya mahfum kenapa perempuan muda tadi bersikap demikian. Yah, saya terima, sudah nasib. Di atas timbangan, kenaikan BB selama hamil Daanish yang hampir 20kg itu, nyatanya memang baru berkurang separuhnya. Ditambah, saya juga mencintai pembenaran bahwa busui cenderung lebih mudah lapar dibanding bumil. Dan berpegang erat pada klausul bahwa ada pantangan buat bumil, tapi gak ada namanya pantangan buat busui. Semakin banyak saya memproduksi ASI, semakin banyak dan seringlah saya makan, semakin gembullah diri ini. Semakin, oh semakin-makinnya. 😥

Saya percaya, waktu gak cuma bisa bikin luka hati terobati. Saya juga percaya bahwa waktu bisa bikin BB saya balik lagi. Seenggaknya balik ke BB sebelum hamil Daanish lah. Kalo ngarep balik ke BB sebelum ato di awal nikah sih, saya udah yakin ga bisa. Nah, mimpi yang saya setel udah gak muluk-muluk kan sebenernya?

Mulai saat itu, bilang ‘bye bye’ deh ke para baju kesayangan yang gak muat, muat tapi maksa, dan muat tapi bikin keliatan hamil. Huhuhu… Eh, gambar cuma ilustrasi, tidak untuk diminta lantaran udah gak muat lagi loh yaaa. 😉

image

Lagian selain kepada sang waktu, saya juga bergantung nan berpegangan erat pada proses menyusui dan pumping. Saya percaya pada kata-kata manis di berbagai artikel, “menyusui dapat membantu menurunkan berat badan ibu,” sebagai salah satu manifestasi manfaat menyusui. Sayangnya, sampai Daanish jelang setahun, angka di timbangan tak kunjung turun ke titik yang diharapkan. Mimpi tinggal mimpi. Sekarang target saya turunin lagi, ‘asalkan gak ada orang di bus kasih saya duduk karena ngira saya hamil aja, saya udah bersyukur banget!’ Oke, itu aja targetnya. Gak muluk-muluk mau kurus lagi kayak dulu, deh. Enggak. Cuman jangan dikira hamil aja. Titik.

[CeritASI] [TandemNursing] Hore! Nemu Posisi Cihuy!


Ealah, meskipun judulnya provokatif, tapi inget judul folder di dalam tanda kurung kotakya, yak. Wihihiw 😀

Ini cerita lamaaa sebenernya, tapi baru sempet nulisnya. Sejak ganti ke android nih, jadi males ngetik-ngetik. Kalo buat ngetik panjang saya udah terlanjur cinta, cyiiinnn, sama iphone jadoel saya. Sensitivitas de-el-el plus jam terbang pemakaiannya juara!

Oke, balik ke fokus. Perjuangan ekstra berat itu dimulai pada saat si Mas kudu ke Thailand selama 6 hari, meninggalkan saya, Daanish yang 21 bulan, Azzam yang sebulan, dan (memang ada) ART di rumah. Memang semua urusan rumah sudah tertangani dengan si Ibu asisten, tapi anak-anak tetap di bawah tanggung jawab saya. Yang bikin kesel, saat butuh energi besar begini, nyeri bekas SC tuh ya, masihhh kerasa. Ini nih yang dibilang orang-orang kalo SC tuh cenderung lebih lama pulihnya. Di saya sih, emang bener.

Suami sudah wanti-wanti, demi melihat saya kerap kesakitan bahkan menitikkan air mata saat tandem nursing, kalo saat malam hari Daanish boleh bobo sama asisten di rumah. Biar Azzam aja yang bobo sama saya. Pengalaman dulu kalo saya yang dinas ke luar kota dan harus ninggalin Daanish di rumah, Yayahnya juga gak sanggup ditinggal berduaan dengan Daanish di malam hari, padahal dulu belum ada Azzam loh. Soalnya cuma si Ibu asisten yang bisa bujukin Daanish minum ASIP malem hari dan nidurin lagi setelah dia kebangun. Makanya si Mas ngerti banget beratnya harus tidur semaleman, apalagi dengan dua bayi, apalagi selama seminggu. Dan, apalagi Azzam belum nemu pola tidurnya dan masih naik-turun dengan fase growth spurtnya. Aaaa…, “apalagi”nya banyak beneeer. >,<

Ternyata, beda dengan keadaan kalo ga ada saya, pas ga ada Yayahnya si Daanish justru nempeeel mulu sama saya. Otomatis bobo malem pun pengennya bareng. Niat hati sih mau nidurin dua anak ini satu-satu, karena kalo menyusu dua-duanya suka lamaaa banget. Dan saya saat itu masih belum jago juga cari posisi uenak buat tandem nursing.
Rencana tinggal rencana. Begitu ditinggal asisten istirahat, Daanish dan Azzam yang perlahan mulai ngantuk bersamaan, justru rewel bersamaan. Dua-duanya nangis sekenceng-kencengnya, dua-duanya minta nen, dua-duanya mau saat itu juga. Namanya bayi, mana ada yang mau ngalah. Haus, laper, ngantuk. Perfect combination!

Akhirnya, by the power of kepepet, saya puter otak buat cari posisi menyusui bersamaan yng bisa nyaman buat para bayi juga buat saya. Saya kapok nyobain posisi yang sambil tiduran. Kasian Daanish yang ditimpah sebagian badan adiknya. Kasian adiknya yang separuh badannya gak mantep tersangga. Dan kasian saya yang karena mereka gak nyaman, akhirnya puting lecet karena ditarik anak-anak. Huhuhuhu. 😥

Melalui perjuangan panjang di malam-malam panjang, akhirnyaaa nemu juga tiga posisi yang akhirnya jadi andelan kalo mau nyusuin bareng. Syaratnya cuma satu: siapin bantal yang buanyaaak. Mwehehehe. 😀

Pertama, saya duduk bersila, punggung diganjel bantal dan senderan di tembok, dan kedua paha juga diganjel bantal kanan dan kiri. Lalu, saya posisikan Azzam tiduran di paha kiri. Di atas paha kiri dikasih bantal lagi, Azzam tidur melintang seperti posisi menyusui biasa. Daanish menyusu di PD kanan sambil duduk. Posisi badannya menghadap saya, dengan bagian dadanya menempel ke tulang rusuk saya. Nyetel ketinggian badan si Daanish biar pas dengan PD kanan, tentu saja, pake bantal!

Kedua, dengan posisi saya dan Azzam masih sama, tapi Daanishnya bobo dengan posisi cradle. Hayooo yang busui, inget ga sama artikel/penjelasan dari RS/bidan tentang berbagai posisi menyusui? Yap, cradle adalah posisi seperti memegang bola di sisi kanan/kiri. Jadi, si anak tiduran dengan kepala di bawah ketiak ibu (maju sedikit sampi mampu menyusu langsung di PD), sementara badannya membujur di belakang tubuh ibu. Enaknya posisi ke dua ini, saya bisa handsfree! Asalkan posisinya semua tepat tersangga dengan aneka bantal, dijamin puting gak lecet dan dua tangan bisa bebas ngapaib aja, termasuk internetan. *eh?!

Ketiga, nyontek panduan tandem nursing buat bayi kembar, dimana kedua bayi craddle di sisi kanan dan kiri ibu. Tapi karena ini bukan bayi kembar, melaikan bayi dengan usia dan postur tubuh beda banget, jadi ngepasinnya susah banget. Kalo kurang pas, yang ada puting berasa ketarik ke kanan dan kiri dan sakitnya lumayan. Hiks hiks. Tapi dengan bantuan banyak bantal dan dicoba berkali-kali sampe dapet yang pas, akhirnya berhasil juga.

Oya, posisi apapun itu, pastikan membuat si bayi yang lebih mungil settle duluan yak, jangan kebalik. Soalnya bayi yang lebih kecil jam terbang menyusunya juga belum banyak. Gak nyaman dikit, bisa-bisa puting lecet atau perlekatan salah atau dia gak nyaman. Sebaliknya, si kakak biasanya udah mahir menyusu dengan posisi bagaimanapun. Plus, dia sudah bisa diajak bicara pelan-pelan kalo kita pengen dia bergeser sedikit supaya bisa lebih nyaman.

Saya pengen deh menyertai tulisan ini dengan foto sebagai ilustrasi, tapi belum sempet berfoto. Jiyahhh. 😉 Maksudnya sih biar ibu-ibu yang mau tandem nursing bisa punya masukan juga tentang posisi menyusui bersamaan. Apalagi untuk kasus bukan bayi kembar alias kakak-adik seperti saya. Kebayang pengalaman sendiri, saya juga jungkir balik supaya nemu posisi yang lumayan nyaman gini. Nanti deh, ya, saya coba usahakan ilustrasinya.

Akhirnya, seminggu dengan malam-malam nyaris tanpa tidur dan percobaan posisi menyusui dua bayi pun terlewati. Di akhir minggu, punggung saya pegel, jahitan masih nyeri, dan puting masih perih; tapi saya bersyukur karena dengan berbinar-binar bisa cerita ke suami tentang “penemuan” tiga posisi cihuy ini. Hadiahnya? Pelukan hangat dan ucapan terima kasih bertubi-tubi dooong! Ihihihi…

Sekali lagi, terima kasih Allah akan amanah dua bayi ini. Mereka bener-bener memaksa saya untuk belajar! ^^

[DiaryIbubun] [CeritASI] Growth Spurt? Tenang, Produksi ASI Bisa Menyesuaikan, Kok!


Bayi growth spurt, PD bengkak, badan panas dingin, sakit kepala, mual-mual, nyeri di simpul luka jahitan, dan kontraksi rahim adalah kombinasi yang super cihuy deh! Ah, enjoy motherhood! 😉

***

Azzam yang biasanya cenderung tidur nyenyak dan lama, tetiba jadi agak rewel dan susah sekali terlelap malam Jumat lalu. Bukan cuma itu, frekuensi menyusu malam yang biasanya cuma 3-4 kali lantaran nyenyaknya, berubah jadi kian sering. Mungkin bukan ‘sering’, lebih tepatnya hampir gak mau lepas. Sekali menyusu bisa lebih dari satu jam. Tertidur sebentar lalu minta lagi. Gantian PD kanan kiri pun Azzam seperti tetap kelaparan dan kehausan. Saya mulai feeling, sedang growth spurt kali ya ini anak? Eh, tapi apa bisa growth spurt di usia sedini ini? Saya kok gak ada ingatan Daanish juga begini ya seumur Azzam dulu?

Hasil guglang-gugling nyambi menyusui, menggendong, dan menenangkan Azzam, saya ketemu satu artikel seputar GS di webnya The Urban Mama. Ternyata paling dini bahkan GS bisa dimulai sejak usia bayi beberapa hari, loh. Bahkan ketika dia baru pulang dari klinik/RS tempatnya dilahirkan. Weeew, kasian ya dedek bayi, dan kasian juga ibunya. 😦

Bisa ditebak hasil dari kelelahan begadang itu, Jumat pagi saya merasa kepala berat sekali. Itupun masih disertai mual-mual setelah minum beberapa teguk air putih. Saya ‘bed-rest’-kan diri sendiri. Menyusui sambil tidur serta berusaha membuat diri tidur saat Azzam tidur, meski sekejap, demi membayar hak tidur malam yang tidak terpenuhi. Makin siang, bukannya makin enak, saya justru merasa menggigil. Padahal Bekasi panasnya mantep! Padahal, oh nooo… badan saya mulai demam. Kalau sudah begini baru deh repot komat-kamit berdoa: Ya, Allah, saya mau sehat, kasihan bayi saya. Huhuhu.

Mungkin karena kondisi tubuh menurun itu, simpul jahitan bekas operasi juga jadi terasa nyeri. Perasaan, lebih nyeri dari yang beberapa hari terakhir malah. 😦 Tambah lengkap, kontraksi pengerutan rahim pasca melahirkan juga lagi intens-intensnya. Aw aww… tambah gak bisa bangun deh saya.

Paginya Azzam gak mandi loh. Soalnya saya sakit, pengasuh Daanish masih takut pegang bayi merah, sementara suami kerja. Azzam juga terpaksa gak dijemur hari itu. Huhuhu. Maaf ya, Nak. Supaya Azzam gak terlalu gampang ‘asem’, yang biasanya dipakaikan clodi, saya pakaikan pospak. Irit tenaga sayanya juga. Bener-bener lagi gak sanggup gantiin clodi tiap 2-3 jam sekali. Belum lagi cuci-kucek clodi kalo Azzam BAB. Aaa, nyerah deh nyerah kalo lagi remuk redam begini. Sekali lagi, maaf ya, Nak.

Setelah makan sepotong donat kentang hasil eksekusi hari sebelumnya dan minum parasetamol, baru terasa badan mulai ringan. Keringat keluar dan berat di kepala pun terbang. Alhamdulillah, mual lenyap dan efek anti-nyeri si parcet juga ampuh menyetop nyeri jahitan dan kontraksi rahim. Meskipun masih lumayan lemes dan pusing, setidaknya saya sudah mampu bangun sedikit. Sorenya pun ‘asem’-nya Azzam hilang sudah, berkat mandi air hangat yang juga mudah-mudahan bisa sedikit meredakan uring-uringannya. Soalnya, sepanjang pagi sampai sore hari Jumat itu, Azzam masih GS: susah lepas nen dan susah tidur nyenyak. Cup cup cup, sabar ya, Nak!

Dan, masa GS Azzam pun masih berlanjut ke malam Sabtu sampai Sabtu sore, lanjut lagi malam Minggu. Belum tau deh, hari Minggu ini masih terus ga tuh percepatan pertumbuhan di tubuhnya. Kalo di artikel sih GS memang bisa berlangsung sampai 2-3 hari, bahkan seminggu. Nantinya, setelah fase itu selesai, bayi akan tidur lebih nyenyak dan lama dari biasanya. Seolah-olah dia habis kelelahan melakukan pekerjaan yang luar biasa berat. Hihihi, lucu deh, para bayi itu. 😉

Sabar ya, Azzam. InsyaAllah Bubun Yayah juga sabar nungguin Azam GS. Inget kata Yayah ya, Nak, “Mau tambah pinter harus lewatin GS dulu. Hayooo, kamu mau tambah pinter apa, ya? Kami pengeeen deh cepet liat ‘keahlian’ barumu”. Ayok Ganbarou bareng-bareng!

20130915-114323.jpg

Satu hal yang saya catat, tentu saja karena lagi GS, Azzam jadi seriiing dan lamaaa banget menyusunya, dan ini bikin PD saya bengkak melulu. Bisa ditebak, teori produksi ASI yang menyesuaikan permintaan bayi itu bener banget! Gak perlu khawatir meski bayi menyusu terus-terusan hamlir tanpa jeda, ASI kita insyaa Allah cukup kok, Buibu. Dan meskipun bayi menangis dan rewel tanpa henti, itu bukan berarti ASI kurang. Dia butuh ketenangan, kenyamanan dan dekalam Ayah Ibunya. That’s all!

Saya sih ngebayangin GS itu kayak sel-sel maupun kecerdasannya bertambah berkali lipat lebih dari biasanya. Hehe, bener gak ya? Soalnya GS kan diterjemahkan sebagai ‘percepatan pertumbukan’. Kalo dalam fisika kan percepatan itu berbanding lurus dengan kecepatan dan berbanding terbalik dengan waktu. Ciyeeehhhh, keluar deh ilmu SMA dulu. 😀 Jadi jelaslah kalo saar GS itu ada kecepatan tumbuh yang berlangsung dalam tempo waktu yang sebentar. Lha, saya menerjemahkan ‘sesuatu yang tumbuh cepat dalam waktu singkat’ itu kayak sel-sel yang membelah lebih banyak atau kebisaan/kecerdasan bayi yang bertambah lebih cepat. Saat ini jelas si bayi lagi dalam keadaan yang gak sama seperti hari-hari biasa. Wajar dia butuh energi besar; makanya dia menyusu banyak dan sering. Wajar dia merasa gak nyaman; makanya dia susah tidur dan banyak nangis. Ah, seru ya pertumbuhan bayi itu.

Yang jelas, depak jauh-jauh deh pikiran kalo ASI kurang. Susui bayi sesering mungkin dan perbanyak makan-minum, dan voila! Biarkan prolaktin dan oksotosin bekerja sebaik-baiknya. Nah, supaya pabrik ASI bisa berproduksi dengan lancar yang kita butuhkah adalah: pikiran positif. So, bye bye lah itu pikiran aneh bin gak jelas. Mendingan peluk si kecil, untel-untelan gak mandi gapapa, yang penting: menyusuilah sekeras kepala mungkin! *Satu-satunya stubborn yang diijinkan ya ini! :D*