Disiplin dengan Kasih Sayang (DKS) – Bagian 5 (terakhir)

foto bersama ibu elly risman

Pentingnya mengajarkan keterampilan mengatasi emosi/kendali diri dan keterampilan sosial

  1. Komponen ‘mengajarkan’ sering diabaikan dalam pendisiplinan anak
  2. Orang dewasa harus membantu anak dan remaja mengembangkan kemampuan yang mereka perlukan untuk mencegah mereka mengulangi tingkah laku negatif
  3. Mereka harus diajari: tidak berekasi atas dasar emosi, memikirkan konsekuensi dan bagaimana membantu diri sendiri melakukan apa yang mereka tidak suka.

Keterampilan harus diajarkan, tidak bisa sebatas disampaikan secara lisan:

  1. Temukan apa saja keterampilan yang hilang
  2. Role play (ulangi lagi kejadiannya, tambahkan dengan melatihkan keterampilan tersebut)

Tujuan mengajarkan keterampilan untuk mengatasi emosi:

  1. Untuk tetap di jalur yang benar dan hidup sehat secara produktif
  2. Untuk menenangkan diri at mereka sangat marah/sedih
  3. Untuk menggunakan kata-kata bukan aksi
  4. Untuk menaati aturan yang tidak mereka setujui/tidak mereka suka
  5. Untuk mempehatikan perasaan orang lain
  6. Untuk tetap fokus
  7. Untuk berhenti saat mereka merasa tidak ingin berhenti
  8. Untuk membuat mereka mau mengerjakan sesuatu, bahkan ketika mereka tidak ingin bekerja
  9. Untuk menangasi rasa frustasi/kecewa
  10. Untuk menangani kesuksesan
  11. Untuk memperhatikan ruang orang lain
  12. Untuk merespon orang yang berwenang
  13. Untuk bekerjasama dengan orang lain
  14. Untuk mengambil gilirannta
  15. Untuk bersikap sopan dan penuh hormat
  16. Untuk tetap hormat bahkan ketika orang lain bersikap kasar
  17. Untuk berkata’Tidak” kepada teman sebaya
  18. Untuk meminta bantuan saat mereka membutuhkannya

Cara mengajarkan keterampilan mengatasi emosi/kendali diri dan keterampilan sosial:

  1. Bertanyalah terlebih dahulu
  2. Anak belajar melalui permainan
  3. Berikan contoh yang baik
  4. Memberikan pengertian tentang cara kerja otak EPA
  5. Mengkaji ulang tingkah laku yang dapat diterima bersama anak
  6. Temukan keterampilan yang hilang
  7. Bagaimana cara mengajarkan keterampilan yang hilang tersebut.

Dalam mengajarkan anak/menegur/menegakkan disiplin, selalu dan selalu gunakan kalimat pendek. Kalimat pendek lebih efektif. Selain itu, biasakan menggunakan kalimat kalimat suruhan daripada larangan. Bu Elly tidak melarang kata ‘jangan’, tapi jangan menggunakan kata itu terlalu rutin dan tanpa alasan yang jelas. Kata ‘jangan’ tetap dibutuhkan, terutama untuk hal-hal yang sifatnya mencegah dari bahaya. Gunakan kata ‘jangan’ seperlunya. Mengakapa kalimat negatif sebaiknya dibatasi, karena pesan positif akan lebih mudah diterima. Di alam bawah sadar, anak akan mengulang-ulang dalam dirinya sendiri. Terpatri sampai kapanpun, tidak membutuhkan dorongan dari luar. Contoh pesan positif dalam kalimat pendek: jaga solatmu tepat waktu, tahan pandanganmu, pelihara kemaluanmu. Manfaat kalimat pendek: menghindari debat dan pemborosan energi, berefek baik untuk dua belah pihak, dan membuat anak menerima lebih cepat.

Dua cara efektif dalam mengatasi situasi frustasi dan marah sendiri:

  1. Menggunakan kalimat-kalimat singkat berulang. Ketimbang memborbardir dengan cermah panjang.
  2. Berpegang pada ‘aturan dua kalimat’. Yanki berhenti bicara setelah mengatakan dua kalimat. Karena semakin panjang kalimat, akan semakin diabaikan oleh pendengar (Sandra Halperin, Ph.D)

Alasan mengulangi kalimat-kalimat singkat:

  1. Lebih baik menggunakan kalimat pendek untuk meminta anak melakukan sesuatu yang benar daripada melarang mereka berhenti melakukan yang salah.
  2. Lebih efektif mengatakan “makan yang sehat” atau “ingat langsing” daripada mengatakan “jangan makan cokelat”.
  3. Pengulangan kata ‘jangan’ yang terlalu sering dan rutin justru membuat anak mudah mengabaikan apa yang diucapkan.
  4. Mengatakan perintah diawali dengan kata “Lakukan…” akan mempermudah anak melakukan apa yang diminta, daripada sebaliknya.
  5. Segera setelah menerima pesan positif yang berulang, anak akan mengulang pesan tersebut bagi dirinya sendiri dan tidak membutuhkan dorongan dari luar serta tidak membutuhkan banyak energi dari orang tua untuk membuat mereka mengingatnya.
  6. Kalimat pendek yang baiknya diucapkan adalah yang bersifat direktif, positif, serta berfokus pada tingkah laku khusus yang perlu dipelajari anak.
  7. Kalimat tersebut terdisri dari 1-3 kata, dan sebaiknya berisi pengingat bagi anak untuk mengendalikan diri.

Hal-hal yang perlu diperhatikan:

  1. Anak-anak peka terhadap harapan orang dewasa
  2. Seringlah memuji
  3. Pujilah perbuatannya dan bukan orangnya
  4. Pujian sederhana juga kerap berhasil
  5. Bantu mereka melihat masa depan
  6. Menggambarkan masa depan dengan istilah yang emosional.

Kapan kalimat panjang bisa dilontarkan? Pada saat santai atau suasana settingan yang nyaman dimana memungkinkan pembicaraan panjang dari hati ke hati antara orang tua dan anak.

Kunci DKS:

  1. Perhatikan perasaan
  2. Kalimat tanya
  3. Aturan BMM: berfikir, memilih, mengambil keputusan
  4. Kalimat pendek dan positif

Menurut saya, kekuatan dari seminar Ibu Elly adalah penjelasan teknisnya yang dibuat sesederhana mungkin dan penguatannya lewat contoh di lapangan. Contoh ini benar-benar riil karena merupakan pengalaman masa kecil Ibu Elly sendiri maupun pengalamannya menghadapi berbagai kasus pelik anak dan remaja. Inilah yang membuat paparan Ibu Elly terasa hidup, menggungah, dan mampu mengaduk-aduk emosi pesertanya. Seminar YKBH adalah seminar yang menurut saya sangat layak untuk diikuti, didalami, bahkan secara berkalai diulangi. Sebab parenting dan dunia sekitarnya membutuhkan pengasahan agar tetap mumpuni dijalani sesuai dengan jaman yang melingkupinya.

Disiplin dengan Kasih Sayang (DKS) – Bagian 4

hands-out materi seminar

DKS digunakan orang tua dalam mengambil keputusan bagaimana:

  1. Mencegah atau berespon terhadap kenakalan anak atau tingkah lakunya yang tidak patut.
  2. Mempertimbangkan perasaan dibalik perilaku anak. Membantu anak sadar diri dan menggunakan pikirannya, barulah mengambil tindakan yang menguatkan harga diri dan tanggung jawab anak.
  3. Menekankan pada proses belajar, sehingga mencapai makna sebenarnya dari kata: DISIPLIN.

Dua aspek perasaan yang harus diperhatikan:

  1. Perasaan apa yang mendorong perbuatan/kelakuan anak?
  2. Bagaimana perasaan anak setelah pendisiplinan terjadi? Jangan sampai anak merasa terhina, bodoh, takut.

Tiga hal agar disiplin bisa mengubah tingkah laku:

  1. Anak menyadari perasaan yang mendorong mereka melanggar peraturan
  2. Mereka harus mampu memikirkan apa yang mereka lakukan dan yang mungkin terjadi dari perbuatannya, termasuk apa akibatnya untuk orang lain.
  3. Anak harus mampu memperhitungkan bagaimana caranya agar tidak melakukan tindakan semata-mata hanya karena dorongan perasaan

5 prinsip pendekatan DKS

  1. Pikirkan perasaan anak
  2. Mengajukan pertanyaan untuk merubah tingkah laku
  3. Ajarkan keterampilan untuk tidak mengulangi tingkah laku negatif
  4. Gunakan kalimat singkat dan aturan dua kalimat
  5. Fokus pada hal positif

Manfaat menggunakan 5 langkah DKS

  1. Memahami cara berfikir anak untuk bisa mendisiplinkannya
  2. Beralih dari model hukuman yang menyakitkan ke model pendisiplinan yang efektif dan tidak merusak harga serta kepercayaan diri anak.
  3. Memahami mengapa anak menjadi ‘nakal kronis’ dan menghindarinya

Saat pelanggaran disiplin terjadi, lakukan SLP-B (pada anak yang lebih kecil)

  1. Stop
  2. Lihat dan dengar
  3. Pikirkan: apa yang mendorong perbuatan anak?
  4. Bertindak

Contoh: terjadi kasus anak kita menggigit anak tetangga hingga memar/luka dan si anak tetangga menangis kencang. Lakukan: bersihkan luka, balut/perban, tenangkan si anak, pulangkan pada orang tuanya, meminta maaf. Lanjutkan: pangku anak kita, jangan tanyakan siapa yang memulainya, namun tanyakan bagaimana perasaannya, akan terbaca alasan ia melakukannya. Jika ternyata penyebabnya adalah anak kita yang merasa lelah/capek, tidurkan ia, jika lapar, beri makan, selesaikan dengan solusi yang menjawab sumber masalah/perasaan si anak. Meneriaki anak atau memarahinya dengan keras sambil mengomel panjang adalah tidak tepat. Tidak menyelesaikan masalah, tidak membuat anak berhenti mengulanginya, dan yang jelas, tidak relevan. Sebab utamanya hanya mengantuk/lapar dan hal-hal yang membuat perasaannya kacau. Bantu ia melakukan manajemen emosi. Perlakukan dan ahndle emosinya dengan baik. Kalau sudah tenang dan stabil, baru mulai beri input positif. Berlemah lembutlah pada anak. Nabi Musa AS diperintahkan untuk berbicara dengan lemah lembut pada Firaun. Bayangkan! Anak kita tak lebih buruk dari Firaun, kan?

Sementara pada anak yang lebih besar, pengimplementasian SLP-B* adalah sama, dengan perubahan pada bagian ‘B’ adalah baca bahasa tubuhnya, tebak perasaannya, beri nama (misalnya: Oh, kamu panik, ketakutan, capek, dst.), lalu terimalah apa yang dirasakan anak. Pada saat ini, penting bagi orang tua harus mencoba untuk menerima dulu perasaan tersebut meskipun mungkin salah dan membuat tidak nyaman, baru setelahnya mengarahkan anak pelan-pelan ke proses berpikir.

Contoh: Ada anak remaja pulang hingga larut malam, jam 12 malam baru tiba di rumah. Ayah dan Ibu gusar, khawatir, sekaligus merasa kesal dan marah. Diperburuk dengan kondisi dimana ponsel si anak tak bisa dihubungi. Berapa banyak orang tua sanggup menahan amarahnya ketika si anak tiba di rumah? Yang disarankan untuk dilakukan orang tua: redam emosi, lihat keadaan fisik dan ekspresi anak (apakah ia kelelahan, kelaparan, kesakitan, dsb), dari situ orang tua coba selami perasaan anak, sambil ditanyakan juga tidak apa-apa (tanyakan apakah ia lapar/lelah/dll, tanyakan mengapa ia terlambat, tanyakan mengapa ponselnya tidak dapat dihubungi/ia tidak berusaha menghubungi), tanyakan dan tanyakan yang banyak sebelum membiarkan justifikasi dan praduga buruk kita menjadi kian liar dan menyulut emosi, setelah ia menjawab, namai kondisinya (Jadi, kamu belum makan ya dari siang? Jadi kamu kecapean dorong motormu yang rusak? Dll), setelah itu terima apa yang dirasakan anak. Jika situasi memungkinkan langsung menasihati, nasihati/beri perintah dengan kalimat pendek dan direktif. Jika tidak memungkinkan, cari waktu lain, kondisikan.

Anak yang melanggar aturan, bukan tak paham aturan. Mereka sesaat lupa akan aturannya karena terbawa perasaannya. Misalnya: anak sedang senang berlari, lupa kalau tidak boleh berlari heboh di dalam rumah, akibatnya guci Ibu pecah. Ingat, anak di bawah 20 tahun yang belum sempurna neuronnya terhubung ke direktur otak, masih belum matang proses berpikirnya. Apalagi anak 0-7 tahun yang memang pusat rasanya masih jauh lebih dominan.

Anggapan kita yang keliru tentang tingkah laku:

  1. Tingkah laku berkaitan dengan pemikiran
  2. Kita percaya semua orang selalu memikirkan apa yang ia lakukan: SEBELUM, SELAMA, dan SETELAH mereka melakukan sesuatu.

Pada kenyataannya, sebagian besar tingkah laku didorong ole PERASAAN/EMOSI daripada hasil PEMIKIRAN – lantas apakah anak harus dihukum karena hal tersebut? Galilah terlebih dahulu perasaan/emosi yang melatarbelakangi suatu tingkah laku negatif, baru carikan solusinya. Jangan dahulukan amarah dan kekerasan. Anak yang dibesarkan dengan kemarahan, hanya otak di bagian reptil (tengah), reptile of the brain yang bekerja dan berkutat di situ saja, tidak berkembang ke otak bangain lainnya, kecerdasan anak tidak terstimulasi. Balik lagi seperi yang sudah diungkapkan Ibu Elly sebelumnya, Allah ciptakan anak cerdas, anak menjadi mundur kecerdasannya di tangan orang tua. Ketidakmampuan orang tua menggali latar belakang perasaan/emosi juga akan membuat anak tumbuh tanpa mengenali perasaannya karena selama ini perasaannya tidak diperhatikan. Anak terpenjara dengan emosi negatif yang dimilikinya, jangankan mau memahami perasaan orang lain, mengidentifikasi perasaannya sendiri ia tak mahir.

Kekeliruan dalam pengasuhan membawa kita pada jaman di mana anak umur 10-16 tahun saat ini membawa sifat cenderung bunuh diri. Bu Elly sedang menangani dua orang anak perempuan yang terus-terusan menyilet tangannya dengan pisau cukur. Justru bukan dengan tujuan agar meninggal. Mereka melakukannya, mengeluarkan darahnya, menfotonya, lalu mengirimkannya untuk menekan (eg, kirim ke pacarnya sambil mengancam kenapa tidak balas sms, dst). Banyak anak-anak depresi bertanya: mengapa aku dilahirkan, mengapa aku tidak dikehendaki?

Berhati-hatilah dalam bersikap dan berkata-kata pada anak. Anak yang tertekan justru akan melahirkan lebih banyak masalah lagi. Merdekakan jiwa anakmu, buat ia bahagia, why bother what people say/think? Bahagia haruslah jadi salah satu tujuan kita dalam mendidik anak.

Dengan memahami perasaan anak, kita akan lebih mudah untuk menunjukkan bahwa ia mampu menjadi lebih baik. YKBH pernah melakukan pendampingan pada anak yang menadi gamer addict akut. Kini setelah lepas dari masalanya, anak tersebut malah bekerjasama dengan YKBH. Ialah penemu aplikasi Kakatu, sebuah aplikasi yang menjadi filter penggunaan smartphone. Kekurangan pun bisa diubah menjadi kekuatan, asalkan diarahkan dengan tepat.

Biasakanlah untuk sering bertanya pada anak. Entah menanyakan keadannya, ataupun perasaannya, termasuk saat ia melakukan pelanggaran. Mengapa harus bertanya? Karena dengan brtanya akan menumbuhkan kesadaran akan diri sendiri. Alur yang terjadi saat kita bertanya adalah: lemparan pertanyaan -> pertanyaan tersebut diterima dan dicoba direspon anak dengan jawaban -> menjawab mendorong proses berpikiranak -> berpikir menjadi trigger anak untuk mulai mengecek dan memeriksa keadaan dirinya -> dengan memeriksa keadaanya, akan tumbuh kesadaran akan dirinya sendiri (termasuk sadar akan kesalahan dan sadar untuk tidak mengulanginya lagi). Selalu menggunakan kalimat tanya pada anak-anak, juga membantu agar mereka mau look in (melihat ke dalam dirinya sendiri, melakukan pengecekan, berujung kesadaran).

Dalam memberikan pertanyaan, yang harus diperhatikan adalah:

  1. Tidak menjatuhkan anak
  2. Membuat anak sadar diri
  3. Tidak mengundang reaksi negatif anak

Bandingkan saat kita bereaksi tehadap kesalahan anak dengan memerintah dan dengan bertanya. Misalnya: saat kaki anak naik ke atas meja, apakah kita memilih kalimat “Turunkan kakimu!” atau “Nak, kakimu ada di mana?” Yang manakah kalimat yang lebih cenderung mampu membuat anak sadar diri?

Bertanya menimbulkan efek:

  1. Anak memperhatikan yang dilakukannya
  2. Membuat anak berpikir sebelum merespon
  3. Menggugah kesadaran diri
  4. Anak mengenali dirinya
  5. Tahu apa yang akan dilakukan lain kali
  6. Tanggung jawab ada pada anak
  7. Otoritas internal

Sementara, saat kita memilih untuk mengeluarkan kalimat perintah, yang terjadi justru:

  1. Anak tidak memperhatikan tingkah lakunya
  2. Anak tidak berfikir, hanya patuh
  3. Tidak membangun kesadaran diri/internal tentang tingkah laku
  4. Selalu perlu dikendalikan
  5. Tidak tahu apa yang harus dilakukan lain kali
  6. Tanggung jawab terhadap orang tua
  7. Otoritas eksternal

Contoh: Ibu Elly pernah melakukan pendampingan pada dua orang doktor (salah satunya beroleh gelar phd dari Harvard Uni), yang mengaku tak pernah sekalipun mengambil keputusan dalam hidupnya. Mereka yang secara akademis tampak luar biasa, ternyata mengalami timpang dalam hidupnya. Mereka tidak punya otoritas akan hidupnya, kebingungan saat sendiri, kesulitan mengambil keputusan. Salah satu dari doktor tersebut hipersensitif terhadap keadaan lingkungan sekitar. Dia tidak bisa berada dekat dengan orang lain yang dianggap mengganggunya. Ibu Elly bilang, kalau ada orang yang bersin di dekatnya, tidak tunggu ganti hari ia akan segera pesan tiket ke Singapore, menemui dokter langganannya dan melakukan pemeriksaan medis. Sampai segitunya dia merasa terganggu saat ada orang lain di dekatnya.

Dalam menentukan aturan atau menegakkan disiplin, biasakan menyusun prioritas dan batasan tingkah laku yang diharapkan secara MASUK AKAL, jangan sepihak, libatkan anak. Kalau tidak masuk akal, kasihan anak, dan akan membuat kita lelah. Batasan harus jelas karena akan membuat anak aman, nyaman, dan terlindungi. Ia bebas bermanuver dalam batas, menciptakan rasa tentram selama berada dalam batas.

Kelonggaran dan ketidakdisiplinan atau malah disiplin yang terlalu keras kerap muncul sebagai akibat dari ketakutan ortu yang berlebihan akan masa depan anaknya. Misalnya: orang tua terlalu takut anaknya jatuh/sakit, akhirnya hanya diijinkan main di dalam rumah. Termasuk, menurut saya, orang tua yang tidak belajar RUM/RUD, maunya anak sakit common cold/salesma lekas sembuh, lalu memberondong anak dengan obat-obatan tak perlu, termasuk antibiotik. Padahal antibiotik tidak perlu, dan obat pelega tenggorokan, penekan batuk, pereda mual, dan pereda gejala flu lainnya telah secara empiris dibuktikan TIDAK mengurangi durasi sakit sama sekali.

Sebagai dasar merumuskan aturan, katakan pada anak, mengapa aturan perlu:

  1. Kami peduli denganmu
  2. Kami ingin kamu terlindungi dan aman
  3. Kami ingin budi bahasamu baik
  4. Kami ingin kamu mandiri dan bertanggung jawab
  5. Kami ingin kamu tahu bagaimana belajar hidup bersama orang lain dan menyenangkan

Kunci membuat aturan:

  1. Aturan: seperangkat harapan terhadap anak berupa panduan dan batasan
  2. Didasari: kepedualian, cinta, dan kesepakatan
  3. Prioritaskan yang penting dulu
  4. Masuk akal
  5. Libatkan anak
  6. Jelas dan positif
  7. Konsisten
  8. Konsekuensi

Ciptakan aturan yang menjaga, dan tidak menekan. Aturan didasari atas kepedulian dan cinta, ketakutan pada Allah atas amanah-Nya yang klak harus dipertanggungjawabkan.

Tidak semua hal dalam aturan disiplin anak harus dilibatkan, ada yang memang sudah given, darurat dan urgent.

Penerapan aturan:

  1. Dasarnya: kesepakatan dan konsekuensi
  2. saling respek
  3. Jelaskan aturan dan pastikan anak mengerti
  4. Pastikan aturan sangat perlu
  5. Fahamkan konsekuensi perlu
  6. Terapkan
  7. Evaluasi

Disiplin dengan Kasih Sayang (DKS) – Bagian 2


Saya jatuh cinta dengan gaya bicara Ibu Elly, sejak awal jumpa. Sebagai sesama orang Sumatera, saya mampu mendeteksi ke-Sumatera-an beliau dari logat bicaranya, ada cengkok khas di sana. Tapi jangan tanya soal caranya menyapa pendengar, orang Jakarta banget! Hahaha. Berkali-kali ia melempar jokes, lalu kami tertawa riuh, dan di ujungnya ia bertanya, “Siape yang elu ketawain? Diri sendiri? Alhamdulillah, masih pada waras, ya!” Yes, we laugh at ourself. Melihat ke dalam, memeriksa tindakan dan ucapan yang sebenarnya tidak penting, saking tidak pentingnya jadi tidak berguna, saking tidak bergunannya jadi tidak berpengaruh dalam pola asuh. Sadar kalau salah, tapi terus dan tetap saja dilakukan. See, kita memang butuh ditolong oleh psikolog, minimal via seminar parenting semacam ini lah.

Ibu Elly mengingatkan pentingnya berulang kali mempertanyakan dahulu ke diri sendiri tentang sejauh apa kewenangan kita terhadap anak. Siapa kita, siapa anak kita? Anak bukan milik kita, ia titipan Allah. Ia amanah besar yang Allah turunkan langsung tanpa perantara, dijadikan dari satu sel sperma dan satu sel telur, dititipkan lewat rahim, dilahirkan dari tubuh seorang Ibu. Anak bukan tempat melakukan kesewenangan. Sebab ia amanah dari langit, menumbuhkannya pun tak sembarangan.

Penting untuk megingat tentang urgensi penanaman disiplin pada anak di usai awal hidupnya. Batasan yang disepakati sebatgai aturan di rumah harus tegas sejak anak berusia 0-7 tahun, usia inilah fase penanaman aturan, karena di usia ini anak masih bisa diatur, karena serabut otak belum bersambungan. Di atas usia 7 tahun, anak-anak yang mulai tersambung serabut otaknya akan mulai menguji batasan yg ditetapkan. Misalnya: ia sengaja melanggar batas waktu bermain, sengaja menghabiskan lebih dari jatahnya jajan, hanya untuk meihat reaksi orang tuanya. Jika batasan sudah jelas dan disiplin sudah tertanam, membantu anak meluruskannya kembali akan lebih mudah, ketimbang jika di usia awal anak dibuat bingung dengan ketidakjelasan aturan. Ketidak jelasan ini bisa karena aturan kerap berubah, aturan tidak jelas batasannya, atau orang tua yang tidak konsisten melaksanakannya.

Terkait dengan hal di atas, Ibu Elly mengingatkan tentang The V of LoVe. Lipat jari manis dan kelingking tangan kiri, lalu tegakkan sisa tiga jari yang lain. V adalah posisi antara jari tengah dan telunjuk. Masukkan jari telunjuk tangan kanan ke rongga V, inilah V of LoVe. Bagian menyempit di bagian bawah ‘V’ adalah fase 0-7 tahun. Telunjuk adalah simbol disiplin. Telunjuk yang menekan ke sudut ‘V’, menggambarkan mudahnya penanaman disiplin di usia dini, lalu merenggangnya bagian tengah dan atas ‘V’ menggambarkan bahwa dengan makin bertambahnya usia anak, pola asuh pun mulai bergeser menjadi kian ‘longgar’. Hal ini berarti pada usia anak yang kian dewasa, orang tua tak bisa lagi melakukan top down approach (bahasa penulis ini sih, bukan bahasa Ibu Elly :D), melainkan berusaha menjadi sahabat anak dan menjadikan dirinya tempat ternyaman bagi anak untuk berbagi. Pola ini bisa diterapkan jika orang tua mengasuh sendiri anaknya. Mendelegasikan pengasuhan kepada orang lain seringkali berakibat sebaliknya, tercipta pola ‘V’ terbalik, dimana anak pada usia 0-7 tahun justru mendapatkan kelonggaran, akses tanpa batas dan aturan yang tidak jelas, sehingga ketika anak masuk ke fase ‘menguji batasan’, orang tua baru mulai mengencangkan aturan dan mengeraskan hukuman. Sudut sempit pada ‘V’ terbalik ada di atas menggambarkan sulitnya anak pada fase lanjut untuk diperlakukan keras dan kaku. Tekanan ini justru beresiko pada ‘lompatan’ anak-anak ke luar jalurnya, misalnya: kenakalan remaja, seks bebas, pemakaian obat-obatan terlarang, penyimpangan seks, dll.

Penting untuk diingat dalam parenting, bahwa selalu akan menjadi pekerjaan besar bagi para orang tua untuk menciptakan harmoni antara keunikan pada masing-masing anak, fleksibilitas dalam pelaksanaan peraturan, dan batasan yang tegas serta masuk akal sehingga dalam pelaksanaannya aturan disiplin bisa lebih mudah dan mungkin untuk diterapkan (feasible). Dalami keunikan pada diri anak, gaya parenting yang berhasil untuk anak satu, belum tentu cocok untuk anak lain. Contohnya, anak Ibu Elly yang pertama dan kedua, berhasil dengan pola penegakan disiplin dengan menuliskan aturan rumah pada kertas yang ditempel di kulkas. Ketika pelanggaran terjadi, anak-anak diminta berjalan ke depan kulkas, membaca ulang aturan, menyadari kesalahan, dan lalu menerima konsekuensi pelanggarannya. Pada anak ke tiga, cara ini tidak bisa Ibu Elly terapkan. Pada usia enam tahun, putri ketiganya dengan tegas bilang bahwa dia tidak mau melihat kulkas tiap melakukan kesalahan, dia bilang, dia bukan dan tidak seperti kedua kakaknya. Maka Ibu Elly pun tidak menerapkan cara tersebut pada putri ke-3 nya.

Tahukah kita, kalau sebagai akibat pola asuh yang diterima saat kita kecil dan pengulangan kebiasaan lewat proses wiring, masing-masing kita punya ‘tombol’ yang bisa teraktivasi begitu tekanan melanda. Itulah sebabnya, seorang anak perempuan yang dididik dengan teriakan dan bentakan penuh amarah, akan tumbuh menjadi ibu pemarah yang juga akan dengan mudahnya berteriak dan membentak anak-anaknya. Pun, seorang anak lelaki yang dibentuk disiplinnya lewat pukulan dan kekerasan, akan tumbuh jadi ayah yang keras dan mudah melayangkan pukulan dan hukuman fisik pada anak-anaknya.

Selain ‘tombol’ mengerikan yang siap menghajar anak-anak kita kapan saja akibat urusan dalam diri orang tua yang tak beres, ada pula orang tua dengan senjata ‘palu’ dalam mendidik anak. Orang tua ini hanya punya ‘palu’ (baca: kekerasan) yang terus dijadikan senjata menghadapi ketidakmampuannya mengendalikan situasi tertentu saat membersamai anak. ‘Tombol’ dan ‘palu’ sebagai hasil dari sampah masa lalu ini adalah salah satu poin yang sejak awal sessi sudah Ibu Elly ingatkan untuk diselesaikan terlebih dahulu: inner child within.

Saya tertegun waktu Ibu Elly bilang, bahwa Allah sungguh telah menciptakan makhluk sempurna dan cerdas ketika menghadirkan anak-anak di dunia. Kemunduran kecerdasan, baik kognitif maupun kecerdasan sosial, justru terjadi karena asalah asuh yang dilakukan orang tuanya. Orang tua berpotensi besar memundurkan kecerdasan anak. Orang tua berpotensi besar merusak dan atau membuat anak jadi lebih tidak baik daripada proses awalnya anak diciptakan Allah. Subhanallah, kitakah orang tua yang ‘membuat mundur’ anak-anak kita? 😥

Oleh karenanya, perenting adalah proses belajar orang tua. Parenting adalah proses panjang yang hasilnya tak bisa dilihat segera. Orang tua harus belajar demi menemukan dan merumuskan cara terbaik dalam mendidik masing-masing anak. Dalam berproses ini, keluarga muslim hendaknya berpegang pada Al-Quran dan Hadits. Ingatkan selalu, bahwa dalam agama Islam, tugas utama orang tua adalah memuliakan anak dan mengajarkan mereka akhlak yang baik. Jadi, anak-anak tidak boleh dihinakan dan dijatuhkan harga dirinya dengan kata-kata dan hukuman yang tak pantas. Sebagian besar hukuman reaktif justru merusak harga diri anak, dan dalam banyak hal karena dielaborasikan dengan kemarahan, hukuman pun menjadi tidak efektif karena anak tak paham mengapa ia dihukum dan tak membuahkan hasil yang baik di masa yang akan datang. Pun, keteladananan adalah hal mutlak jika ingin membentuk pribadi dan karakter positif pada anak.

Penegakan disiplin sejak anak masih kecil adalah hal penting yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Namun pada fase ini, orang tua dituntut bijak dalam melaksanakan disiplin. Hadiah dan hukuman kebanyakan tidak efektif di rentang usia ini. Hadiah boleh diberikan asalkan tidak diiiming-imingkan sebelum suatu proses/hasil dicapai. Memberi iming-iming hadiah sebelum anak berhasil akan menumbuhkan sifat bergantung pada hadiah, atau berorientasi hadiah. Hadiah boleh diberikan setelah anak berhasil, tanpa diberitahu sebelumnya. Jadi sifatnya adalah sebagai kejutan atau sebagai ungkapan terima kasih dan kasih sayang atas apa yang telah diupayakan si anak.

Dalam Islam, memukul memang diperbolehkan. Tapi ingat syaratnya yang berderet, memukul boleh jika dilakukan di telapak kaki dan pemukulnya harus dibungkus/dilapis sesuatu yang tidak mengenai kulit langsung. Bayangkan jika kita tengah marah dan ingin memukul, lalu buru-buru mencari kain atau pembungkus untuk membungkus tangan dan alat pukul, bisa dipastikan kemarahan sudah mereda dan menguap setelahnya. Pukulan tak beraturan akan membuat anak merasa dirinya jelek atau tak berguna. Anak-anak boleh dihukum dan diberi hadiah, jika anak sudah mengerti aturan. Jadi terlebih dahulu anak harus paham aturan dan aturan mainnya, paham batasannya kapan disebut menuruti dan kapan disebut melanggar, paham akibat atau konsekuensinya, baru terapkan punish and reward.

Sebisa mungkin, usahakan sesering mungkin tersenyum, terutama di depan anak. Secara fisiologis, senyum membuat otot wajah tertarik dan mengakibatkan batang otak mendingin. Proses ini memicu seretonin mengalir ke otak. Seretonin memberi efek tenang dan anti agresivitas. Dan jika senyum ini dilihat oleh orang lain lalu memicu orang tersebut untuk tersenyum, maka efek yang sama pun terjadi. Inilah sebabnya senyum adalah sedekah buat diri sendiri dan orang lain. Dicoba deh, kalau lagi marah sama anak, cubit atau marah-marahlah sambil senyum, dijamin, gak bakal bisa! Hehehe.

Karena asah-asih-asuh anak-anak adalah urusan antara orang tua dan anak, maka tetapkan model dan gaya parenting anda sendiri. Jangan ikut-ikutan, parenting harus punya prinsip. No matter what people say. Kemampuan orang tua bertahan dan menguat selama proses pengasuhan adalah mutlak. Di kantor YKBH di Jatibening, ada sessi gratis konsultasi untuk umum. Dari hasil pendampingan para remaja bermasalah YKBH, ditemukan kenyataan bahwa pada umumnya kedekatan antar orang tua (baca: keharmonisan pernikahan) umumnya berada pada titik terendah pada saat anak beranjak remaja. Kondisi tidak harmonis ini jelas melemahkan dan memperburuk tekanan yang terjadi pada remaja bermasalah. Gratis konsultasi YKBH bisa dilaksanakan bila orang tua sanggup menemani anaknya selama proses pendampingan, awalnya sebanyak 12x pendampingan. Rata-rata orang tua ini gugur selama prosesnya, dengan menyisakan masalah pelik yang mungkin saja tak terselesaikan. Ini menunjukkan lemahnya hubungan kedua orang tua, dan melemahnya kemampuan untuk secara konsisten bertahan melakukan pendampingan terhadap anak. Pernikahan melemah, anak berkutat dalam kubangan masalahnya. Parenting sangat mungkin membuat seluruh anggota keluarga jatuh bangun saat menjalaninya. Tetapkan prinsip bersama, jalani dengan kuat, dan jangan lupa banyak tersenyum.

Terakhir sebelum masuk ke materi Ibu Elly mengingatkan agar masing-masing kita memiliki kemampuan untuk memproyeksikan tindakan. Pikirkan dari sekarang, sebelum tindakan diambil, apakah yang kita lakukan ke anak akan berakibat baik atau buruk? Keburukan yang kita tebar, bak proyektor, kelak akan muncul dalam wujud yang lebih besar, lebih masif. Bayangkan keburukan sebesar apa yang akan muncul di diri anak kita setelah ia dewasa akibat keburukan ‘kecil’ yang rajin kita tebar sehari-hari. Berpikir sebelum bertindak, bayangkan, proyeksikan.

Disiplin Dengan Kasih Sayang (DKS) – Bagian 1

susana panggung seminar

Giya Wulan Sari Bekasi, Kamis, 10 September 2015

Elly Risman – Yayasan Kita dan Buah Hati & Hagitama Parenting Organizer

PROLOG

Bahagia sekali rasanya ketika akhirnya saya bisa duduk di sini, di tengah 250-an lautan manusia yang 90% lebihnya berisi kaum hawa, untuk kemudian menyumpal ruangan ini dengan satu tanda tanya besar di kepala kami: hendak dibawa ke mana arah pengasuhan anak-anak kami.

Dan perempuan yang kerap menangani anak-anak bermasalah bagian dari generasi BLAST ini pun kerap memanggil dirinya sendiri “Nenek”. Tak heran, perempuan Aceh yang pernah mengenyam pendidikan tanpa gelas di Florida State University demi mewujudkan mimpi ‘Membangun Sekolah Orang Tua” dan sudah dikarunia cucu ini memang sudah berusia 64 tahun. Usia senja yang tak menyurutkan semangatnya. Ia bahkan lebih tua dari ibu kandung saya sendiri. Tapi jangan tanya energi yang beliau tularkan pada kami; kami tak henti menertawakan kebakhilan kami dalam pengasuhan anak-anak selama ini. Pun, kuasanya tak pelak kerap membuat kami meremang bulu kuduk, demi kisah-kisah hampir tak masuk akal dari kasus-kasus yang ditanganinya. Keunikan caranya bertutur dan kerap memaksa kami jujur, tak gagal pula membuat kami menjatuhkan tetes demi tetes air mata, entah mengingat “dosa” kami dalam hal pendidikan dan pengasuhan anak, entah membayang jauh ke depan tentang betapa jauh perlakuan bruk kami telah merusak anak-anak luar biasa yang telah Allah anugerahkan selama ini.

Astaghfirullahaladziim.

Tahu apa yang diminta oleh Ibu Elly Risman di awal perjumpaan kami? Ia meminta kami semua untuk duduk, layaknya sesama orang tua bicara dengan sesama sesama ortu tanpa gelar dan jabatan. Ia minta kami letakkan segala gelar dan jabatan, baik jabatan formal maupun sosial Ia mengajak kami untuk duduk dan bicara tentang pengasuhan, bicara tentang tanggung jawab dunia akhirat akan amanah bernama buah hati. Selanjutnya, ia mengajukan syarat agar kami sampaikan apa yang kami dapat hari ini kepada minimal tiga orang tua lain yang mana anak-anak kami bermain dengan anak-anak mereka.

Kenapa harus disebarkan? Ibu Elly bilang, jangan pongah, jangan pernah bilang akalu anak-anak kita ‘aman’ dari apapun predator yang mengitarinya. Selagi anak kita adalah generasi masa kini, yang menganal game, internet, dan dunia majemuk lainnya, maka duduk dan bersantai seolah anak tak kan tersentuh buruknya dunia luar adalah tindakan yang sangat tak diharapkan.

Kenapa harus disebarkan? Karena Ibu Elly bilang, generasi kita, generasi anak dan cucu kita adalah generasi darurat pornografi. Saat ini, beliau tengah menangani kasus dua orang anak yang kecanduan pornografi (tidak disebutkan usianya); satu orang anak yang tak bisa lepas sehari pun tanpa maturbasi (bahkan kadang lebih dari sekali maturbasi dalam sehari), dan satu lagi kasus pelajar yang berhubungan badan di toilet sekolahnya. Kasus lain sebelumnya, beliau pernah menemani seorang anak kelas 3 SD yang berhubungan suami istri dengan teman sekolahnya. Innalillahi. Inilah teman-teman anak-anak kita. Inilah generasi anak-anak kita. Inilah, beratnya tantangan pendidikan kita ke depan.

Sampai sini, materi belum dimulai. Saya sudah merasa sesak. Sesak sekali sampai menuliskan kembali pun membuat saya menangis. Ya Allah, harus bagaimana kami?

susana panggung seminar

susana panggung seminar

Harus belajar. Biarlah orang tua kita dahulu mungkin mencipta kesalahan, ketidaktahuannya, kekurangan informasinya, keterbatasan risetnya. Biarlah. Generasi anak-anak kita menghadapi badai yang lebih berat. Kita, orang tuanya, harus bersiap lebih lagi daripada orang tua kita. Tak berilmu, carilah ilmu. Investasikan uang bukan Cuma untuk sekolah anak, tapi juga untuk SEKOLAH ORANG TUA. Mari belajar, mari perbaiki sebelum kita membuat keruasakan yang lebih parah.

Selama ini, masalah paling umum di Indonesia adalah para orang tua yang lemah dalam hal penegakan disiplin, decision making process, dan writing skills. Kita menjadi orang tua yang galak, tapi tidak tegaan. Kita menumbuhkan anak-anak kehilangan kemampuan untuk mengendalikan dan mengontrol dirinya. Acapkali, orangtua bicara terlalu banyak, dan bicara koruptif, hal yang akhirnya jarang membuat anak tumbuh untuk bisa mengambil keputusannya sendiri.

Sulitnya menegakkan disiplin juga disebabkan inkonsistensi dengan pasangan. Ayah dan Ibu dibesarkan dengan kondisi keluarga dan pengalaman masa kecil yang berbeda, dan hal ini pasti akan mempengaruhi gaya pengasuhan. Orang tua juga kerap tak selesai dengan dirinya sendiri, dengan sampah masa lalunya, dengan trauma dan pengalaman buruk yang membelenggunya. Inilah yang Ibu Elly sebut: inner child within. Selesaikan dulu masalah dengan anak kecil di dalam diri anda sendiri, di dalam diri pasangan anda. Dengan ini, anda selesaikan masalah dengan pasangan anda. Tentang pernikahan yang harus sejalan, dengan pola pengasuhan yang harus seirama. Jadilah orang tua yang selesai dengan diri sendiri; selesai dengan urusan dan pergulatan diri sendiri. Orang tua yang tak selesai dengan inner child within, hanya akan melahirkan anak-anak yang kebingungan.

Pengasuhan adalah pengalaman dan pembiasaan. Parenting is all about wiring (wire: cable). Misalnya, ketika Ibu Elly meminta salah satu Ibu menceritakan bagaimana kebiasaannya setelah bangun tidur sejak kecil dulu, si Ibu menjawab kalau ia dibiasakan merapikan tempat tidur, baru melakukan aktivitas lain. Pertanyaan serupa dilemparkan ke seorang Bapak, dan ia menjawab bahwa ia tak dibiasakan merapikan tempat tidur, ia duduk begitu bangun tidur, baru beraktivitas. Jadi, inilah potret keluarga Indonesia tercinta: seorang Ibu dengan wiring kebiasaan bangun tidur beres-beres, Ayah duduk-duduk. Maka, siapa yang setiap pagi berteriak tentang beres-beres? Dan siapa yang duduk-duduk dulu sebelum melakukan yang lain. Pertanyaan: bagaimanakah anak anda? Bingung, yes? Sedah berapa lama kita bertahan dengan tata cara membingungkan anak begini? Mau sampai berapa lama lagi?