Disiplin dengan Kasih Sayang (DKS) – Bagian 5 (terakhir)

foto bersama ibu elly risman

Pentingnya mengajarkan keterampilan mengatasi emosi/kendali diri dan keterampilan sosial

  1. Komponen ‘mengajarkan’ sering diabaikan dalam pendisiplinan anak
  2. Orang dewasa harus membantu anak dan remaja mengembangkan kemampuan yang mereka perlukan untuk mencegah mereka mengulangi tingkah laku negatif
  3. Mereka harus diajari: tidak berekasi atas dasar emosi, memikirkan konsekuensi dan bagaimana membantu diri sendiri melakukan apa yang mereka tidak suka.

Keterampilan harus diajarkan, tidak bisa sebatas disampaikan secara lisan:

  1. Temukan apa saja keterampilan yang hilang
  2. Role play (ulangi lagi kejadiannya, tambahkan dengan melatihkan keterampilan tersebut)

Tujuan mengajarkan keterampilan untuk mengatasi emosi:

  1. Untuk tetap di jalur yang benar dan hidup sehat secara produktif
  2. Untuk menenangkan diri at mereka sangat marah/sedih
  3. Untuk menggunakan kata-kata bukan aksi
  4. Untuk menaati aturan yang tidak mereka setujui/tidak mereka suka
  5. Untuk mempehatikan perasaan orang lain
  6. Untuk tetap fokus
  7. Untuk berhenti saat mereka merasa tidak ingin berhenti
  8. Untuk membuat mereka mau mengerjakan sesuatu, bahkan ketika mereka tidak ingin bekerja
  9. Untuk menangasi rasa frustasi/kecewa
  10. Untuk menangani kesuksesan
  11. Untuk memperhatikan ruang orang lain
  12. Untuk merespon orang yang berwenang
  13. Untuk bekerjasama dengan orang lain
  14. Untuk mengambil gilirannta
  15. Untuk bersikap sopan dan penuh hormat
  16. Untuk tetap hormat bahkan ketika orang lain bersikap kasar
  17. Untuk berkata’Tidak” kepada teman sebaya
  18. Untuk meminta bantuan saat mereka membutuhkannya

Cara mengajarkan keterampilan mengatasi emosi/kendali diri dan keterampilan sosial:

  1. Bertanyalah terlebih dahulu
  2. Anak belajar melalui permainan
  3. Berikan contoh yang baik
  4. Memberikan pengertian tentang cara kerja otak EPA
  5. Mengkaji ulang tingkah laku yang dapat diterima bersama anak
  6. Temukan keterampilan yang hilang
  7. Bagaimana cara mengajarkan keterampilan yang hilang tersebut.

Dalam mengajarkan anak/menegur/menegakkan disiplin, selalu dan selalu gunakan kalimat pendek. Kalimat pendek lebih efektif. Selain itu, biasakan menggunakan kalimat kalimat suruhan daripada larangan. Bu Elly tidak melarang kata ‘jangan’, tapi jangan menggunakan kata itu terlalu rutin dan tanpa alasan yang jelas. Kata ‘jangan’ tetap dibutuhkan, terutama untuk hal-hal yang sifatnya mencegah dari bahaya. Gunakan kata ‘jangan’ seperlunya. Mengakapa kalimat negatif sebaiknya dibatasi, karena pesan positif akan lebih mudah diterima. Di alam bawah sadar, anak akan mengulang-ulang dalam dirinya sendiri. Terpatri sampai kapanpun, tidak membutuhkan dorongan dari luar. Contoh pesan positif dalam kalimat pendek: jaga solatmu tepat waktu, tahan pandanganmu, pelihara kemaluanmu. Manfaat kalimat pendek: menghindari debat dan pemborosan energi, berefek baik untuk dua belah pihak, dan membuat anak menerima lebih cepat.

Dua cara efektif dalam mengatasi situasi frustasi dan marah sendiri:

  1. Menggunakan kalimat-kalimat singkat berulang. Ketimbang memborbardir dengan cermah panjang.
  2. Berpegang pada ‘aturan dua kalimat’. Yanki berhenti bicara setelah mengatakan dua kalimat. Karena semakin panjang kalimat, akan semakin diabaikan oleh pendengar (Sandra Halperin, Ph.D)

Alasan mengulangi kalimat-kalimat singkat:

  1. Lebih baik menggunakan kalimat pendek untuk meminta anak melakukan sesuatu yang benar daripada melarang mereka berhenti melakukan yang salah.
  2. Lebih efektif mengatakan “makan yang sehat” atau “ingat langsing” daripada mengatakan “jangan makan cokelat”.
  3. Pengulangan kata ‘jangan’ yang terlalu sering dan rutin justru membuat anak mudah mengabaikan apa yang diucapkan.
  4. Mengatakan perintah diawali dengan kata “Lakukan…” akan mempermudah anak melakukan apa yang diminta, daripada sebaliknya.
  5. Segera setelah menerima pesan positif yang berulang, anak akan mengulang pesan tersebut bagi dirinya sendiri dan tidak membutuhkan dorongan dari luar serta tidak membutuhkan banyak energi dari orang tua untuk membuat mereka mengingatnya.
  6. Kalimat pendek yang baiknya diucapkan adalah yang bersifat direktif, positif, serta berfokus pada tingkah laku khusus yang perlu dipelajari anak.
  7. Kalimat tersebut terdisri dari 1-3 kata, dan sebaiknya berisi pengingat bagi anak untuk mengendalikan diri.

Hal-hal yang perlu diperhatikan:

  1. Anak-anak peka terhadap harapan orang dewasa
  2. Seringlah memuji
  3. Pujilah perbuatannya dan bukan orangnya
  4. Pujian sederhana juga kerap berhasil
  5. Bantu mereka melihat masa depan
  6. Menggambarkan masa depan dengan istilah yang emosional.

Kapan kalimat panjang bisa dilontarkan? Pada saat santai atau suasana settingan yang nyaman dimana memungkinkan pembicaraan panjang dari hati ke hati antara orang tua dan anak.

Kunci DKS:

  1. Perhatikan perasaan
  2. Kalimat tanya
  3. Aturan BMM: berfikir, memilih, mengambil keputusan
  4. Kalimat pendek dan positif

Menurut saya, kekuatan dari seminar Ibu Elly adalah penjelasan teknisnya yang dibuat sesederhana mungkin dan penguatannya lewat contoh di lapangan. Contoh ini benar-benar riil karena merupakan pengalaman masa kecil Ibu Elly sendiri maupun pengalamannya menghadapi berbagai kasus pelik anak dan remaja. Inilah yang membuat paparan Ibu Elly terasa hidup, menggungah, dan mampu mengaduk-aduk emosi pesertanya. Seminar YKBH adalah seminar yang menurut saya sangat layak untuk diikuti, didalami, bahkan secara berkalai diulangi. Sebab parenting dan dunia sekitarnya membutuhkan pengasahan agar tetap mumpuni dijalani sesuai dengan jaman yang melingkupinya.

Disiplin dengan Kasih Sayang (DKS) – Bagian 4

hands-out materi seminar

DKS digunakan orang tua dalam mengambil keputusan bagaimana:

  1. Mencegah atau berespon terhadap kenakalan anak atau tingkah lakunya yang tidak patut.
  2. Mempertimbangkan perasaan dibalik perilaku anak. Membantu anak sadar diri dan menggunakan pikirannya, barulah mengambil tindakan yang menguatkan harga diri dan tanggung jawab anak.
  3. Menekankan pada proses belajar, sehingga mencapai makna sebenarnya dari kata: DISIPLIN.

Dua aspek perasaan yang harus diperhatikan:

  1. Perasaan apa yang mendorong perbuatan/kelakuan anak?
  2. Bagaimana perasaan anak setelah pendisiplinan terjadi? Jangan sampai anak merasa terhina, bodoh, takut.

Tiga hal agar disiplin bisa mengubah tingkah laku:

  1. Anak menyadari perasaan yang mendorong mereka melanggar peraturan
  2. Mereka harus mampu memikirkan apa yang mereka lakukan dan yang mungkin terjadi dari perbuatannya, termasuk apa akibatnya untuk orang lain.
  3. Anak harus mampu memperhitungkan bagaimana caranya agar tidak melakukan tindakan semata-mata hanya karena dorongan perasaan

5 prinsip pendekatan DKS

  1. Pikirkan perasaan anak
  2. Mengajukan pertanyaan untuk merubah tingkah laku
  3. Ajarkan keterampilan untuk tidak mengulangi tingkah laku negatif
  4. Gunakan kalimat singkat dan aturan dua kalimat
  5. Fokus pada hal positif

Manfaat menggunakan 5 langkah DKS

  1. Memahami cara berfikir anak untuk bisa mendisiplinkannya
  2. Beralih dari model hukuman yang menyakitkan ke model pendisiplinan yang efektif dan tidak merusak harga serta kepercayaan diri anak.
  3. Memahami mengapa anak menjadi ‘nakal kronis’ dan menghindarinya

Saat pelanggaran disiplin terjadi, lakukan SLP-B (pada anak yang lebih kecil)

  1. Stop
  2. Lihat dan dengar
  3. Pikirkan: apa yang mendorong perbuatan anak?
  4. Bertindak

Contoh: terjadi kasus anak kita menggigit anak tetangga hingga memar/luka dan si anak tetangga menangis kencang. Lakukan: bersihkan luka, balut/perban, tenangkan si anak, pulangkan pada orang tuanya, meminta maaf. Lanjutkan: pangku anak kita, jangan tanyakan siapa yang memulainya, namun tanyakan bagaimana perasaannya, akan terbaca alasan ia melakukannya. Jika ternyata penyebabnya adalah anak kita yang merasa lelah/capek, tidurkan ia, jika lapar, beri makan, selesaikan dengan solusi yang menjawab sumber masalah/perasaan si anak. Meneriaki anak atau memarahinya dengan keras sambil mengomel panjang adalah tidak tepat. Tidak menyelesaikan masalah, tidak membuat anak berhenti mengulanginya, dan yang jelas, tidak relevan. Sebab utamanya hanya mengantuk/lapar dan hal-hal yang membuat perasaannya kacau. Bantu ia melakukan manajemen emosi. Perlakukan dan ahndle emosinya dengan baik. Kalau sudah tenang dan stabil, baru mulai beri input positif. Berlemah lembutlah pada anak. Nabi Musa AS diperintahkan untuk berbicara dengan lemah lembut pada Firaun. Bayangkan! Anak kita tak lebih buruk dari Firaun, kan?

Sementara pada anak yang lebih besar, pengimplementasian SLP-B* adalah sama, dengan perubahan pada bagian ‘B’ adalah baca bahasa tubuhnya, tebak perasaannya, beri nama (misalnya: Oh, kamu panik, ketakutan, capek, dst.), lalu terimalah apa yang dirasakan anak. Pada saat ini, penting bagi orang tua harus mencoba untuk menerima dulu perasaan tersebut meskipun mungkin salah dan membuat tidak nyaman, baru setelahnya mengarahkan anak pelan-pelan ke proses berpikir.

Contoh: Ada anak remaja pulang hingga larut malam, jam 12 malam baru tiba di rumah. Ayah dan Ibu gusar, khawatir, sekaligus merasa kesal dan marah. Diperburuk dengan kondisi dimana ponsel si anak tak bisa dihubungi. Berapa banyak orang tua sanggup menahan amarahnya ketika si anak tiba di rumah? Yang disarankan untuk dilakukan orang tua: redam emosi, lihat keadaan fisik dan ekspresi anak (apakah ia kelelahan, kelaparan, kesakitan, dsb), dari situ orang tua coba selami perasaan anak, sambil ditanyakan juga tidak apa-apa (tanyakan apakah ia lapar/lelah/dll, tanyakan mengapa ia terlambat, tanyakan mengapa ponselnya tidak dapat dihubungi/ia tidak berusaha menghubungi), tanyakan dan tanyakan yang banyak sebelum membiarkan justifikasi dan praduga buruk kita menjadi kian liar dan menyulut emosi, setelah ia menjawab, namai kondisinya (Jadi, kamu belum makan ya dari siang? Jadi kamu kecapean dorong motormu yang rusak? Dll), setelah itu terima apa yang dirasakan anak. Jika situasi memungkinkan langsung menasihati, nasihati/beri perintah dengan kalimat pendek dan direktif. Jika tidak memungkinkan, cari waktu lain, kondisikan.

Anak yang melanggar aturan, bukan tak paham aturan. Mereka sesaat lupa akan aturannya karena terbawa perasaannya. Misalnya: anak sedang senang berlari, lupa kalau tidak boleh berlari heboh di dalam rumah, akibatnya guci Ibu pecah. Ingat, anak di bawah 20 tahun yang belum sempurna neuronnya terhubung ke direktur otak, masih belum matang proses berpikirnya. Apalagi anak 0-7 tahun yang memang pusat rasanya masih jauh lebih dominan.

Anggapan kita yang keliru tentang tingkah laku:

  1. Tingkah laku berkaitan dengan pemikiran
  2. Kita percaya semua orang selalu memikirkan apa yang ia lakukan: SEBELUM, SELAMA, dan SETELAH mereka melakukan sesuatu.

Pada kenyataannya, sebagian besar tingkah laku didorong ole PERASAAN/EMOSI daripada hasil PEMIKIRAN – lantas apakah anak harus dihukum karena hal tersebut? Galilah terlebih dahulu perasaan/emosi yang melatarbelakangi suatu tingkah laku negatif, baru carikan solusinya. Jangan dahulukan amarah dan kekerasan. Anak yang dibesarkan dengan kemarahan, hanya otak di bagian reptil (tengah), reptile of the brain yang bekerja dan berkutat di situ saja, tidak berkembang ke otak bangain lainnya, kecerdasan anak tidak terstimulasi. Balik lagi seperi yang sudah diungkapkan Ibu Elly sebelumnya, Allah ciptakan anak cerdas, anak menjadi mundur kecerdasannya di tangan orang tua. Ketidakmampuan orang tua menggali latar belakang perasaan/emosi juga akan membuat anak tumbuh tanpa mengenali perasaannya karena selama ini perasaannya tidak diperhatikan. Anak terpenjara dengan emosi negatif yang dimilikinya, jangankan mau memahami perasaan orang lain, mengidentifikasi perasaannya sendiri ia tak mahir.

Kekeliruan dalam pengasuhan membawa kita pada jaman di mana anak umur 10-16 tahun saat ini membawa sifat cenderung bunuh diri. Bu Elly sedang menangani dua orang anak perempuan yang terus-terusan menyilet tangannya dengan pisau cukur. Justru bukan dengan tujuan agar meninggal. Mereka melakukannya, mengeluarkan darahnya, menfotonya, lalu mengirimkannya untuk menekan (eg, kirim ke pacarnya sambil mengancam kenapa tidak balas sms, dst). Banyak anak-anak depresi bertanya: mengapa aku dilahirkan, mengapa aku tidak dikehendaki?

Berhati-hatilah dalam bersikap dan berkata-kata pada anak. Anak yang tertekan justru akan melahirkan lebih banyak masalah lagi. Merdekakan jiwa anakmu, buat ia bahagia, why bother what people say/think? Bahagia haruslah jadi salah satu tujuan kita dalam mendidik anak.

Dengan memahami perasaan anak, kita akan lebih mudah untuk menunjukkan bahwa ia mampu menjadi lebih baik. YKBH pernah melakukan pendampingan pada anak yang menadi gamer addict akut. Kini setelah lepas dari masalanya, anak tersebut malah bekerjasama dengan YKBH. Ialah penemu aplikasi Kakatu, sebuah aplikasi yang menjadi filter penggunaan smartphone. Kekurangan pun bisa diubah menjadi kekuatan, asalkan diarahkan dengan tepat.

Biasakanlah untuk sering bertanya pada anak. Entah menanyakan keadannya, ataupun perasaannya, termasuk saat ia melakukan pelanggaran. Mengapa harus bertanya? Karena dengan brtanya akan menumbuhkan kesadaran akan diri sendiri. Alur yang terjadi saat kita bertanya adalah: lemparan pertanyaan -> pertanyaan tersebut diterima dan dicoba direspon anak dengan jawaban -> menjawab mendorong proses berpikiranak -> berpikir menjadi trigger anak untuk mulai mengecek dan memeriksa keadaan dirinya -> dengan memeriksa keadaanya, akan tumbuh kesadaran akan dirinya sendiri (termasuk sadar akan kesalahan dan sadar untuk tidak mengulanginya lagi). Selalu menggunakan kalimat tanya pada anak-anak, juga membantu agar mereka mau look in (melihat ke dalam dirinya sendiri, melakukan pengecekan, berujung kesadaran).

Dalam memberikan pertanyaan, yang harus diperhatikan adalah:

  1. Tidak menjatuhkan anak
  2. Membuat anak sadar diri
  3. Tidak mengundang reaksi negatif anak

Bandingkan saat kita bereaksi tehadap kesalahan anak dengan memerintah dan dengan bertanya. Misalnya: saat kaki anak naik ke atas meja, apakah kita memilih kalimat “Turunkan kakimu!” atau “Nak, kakimu ada di mana?” Yang manakah kalimat yang lebih cenderung mampu membuat anak sadar diri?

Bertanya menimbulkan efek:

  1. Anak memperhatikan yang dilakukannya
  2. Membuat anak berpikir sebelum merespon
  3. Menggugah kesadaran diri
  4. Anak mengenali dirinya
  5. Tahu apa yang akan dilakukan lain kali
  6. Tanggung jawab ada pada anak
  7. Otoritas internal

Sementara, saat kita memilih untuk mengeluarkan kalimat perintah, yang terjadi justru:

  1. Anak tidak memperhatikan tingkah lakunya
  2. Anak tidak berfikir, hanya patuh
  3. Tidak membangun kesadaran diri/internal tentang tingkah laku
  4. Selalu perlu dikendalikan
  5. Tidak tahu apa yang harus dilakukan lain kali
  6. Tanggung jawab terhadap orang tua
  7. Otoritas eksternal

Contoh: Ibu Elly pernah melakukan pendampingan pada dua orang doktor (salah satunya beroleh gelar phd dari Harvard Uni), yang mengaku tak pernah sekalipun mengambil keputusan dalam hidupnya. Mereka yang secara akademis tampak luar biasa, ternyata mengalami timpang dalam hidupnya. Mereka tidak punya otoritas akan hidupnya, kebingungan saat sendiri, kesulitan mengambil keputusan. Salah satu dari doktor tersebut hipersensitif terhadap keadaan lingkungan sekitar. Dia tidak bisa berada dekat dengan orang lain yang dianggap mengganggunya. Ibu Elly bilang, kalau ada orang yang bersin di dekatnya, tidak tunggu ganti hari ia akan segera pesan tiket ke Singapore, menemui dokter langganannya dan melakukan pemeriksaan medis. Sampai segitunya dia merasa terganggu saat ada orang lain di dekatnya.

Dalam menentukan aturan atau menegakkan disiplin, biasakan menyusun prioritas dan batasan tingkah laku yang diharapkan secara MASUK AKAL, jangan sepihak, libatkan anak. Kalau tidak masuk akal, kasihan anak, dan akan membuat kita lelah. Batasan harus jelas karena akan membuat anak aman, nyaman, dan terlindungi. Ia bebas bermanuver dalam batas, menciptakan rasa tentram selama berada dalam batas.

Kelonggaran dan ketidakdisiplinan atau malah disiplin yang terlalu keras kerap muncul sebagai akibat dari ketakutan ortu yang berlebihan akan masa depan anaknya. Misalnya: orang tua terlalu takut anaknya jatuh/sakit, akhirnya hanya diijinkan main di dalam rumah. Termasuk, menurut saya, orang tua yang tidak belajar RUM/RUD, maunya anak sakit common cold/salesma lekas sembuh, lalu memberondong anak dengan obat-obatan tak perlu, termasuk antibiotik. Padahal antibiotik tidak perlu, dan obat pelega tenggorokan, penekan batuk, pereda mual, dan pereda gejala flu lainnya telah secara empiris dibuktikan TIDAK mengurangi durasi sakit sama sekali.

Sebagai dasar merumuskan aturan, katakan pada anak, mengapa aturan perlu:

  1. Kami peduli denganmu
  2. Kami ingin kamu terlindungi dan aman
  3. Kami ingin budi bahasamu baik
  4. Kami ingin kamu mandiri dan bertanggung jawab
  5. Kami ingin kamu tahu bagaimana belajar hidup bersama orang lain dan menyenangkan

Kunci membuat aturan:

  1. Aturan: seperangkat harapan terhadap anak berupa panduan dan batasan
  2. Didasari: kepedualian, cinta, dan kesepakatan
  3. Prioritaskan yang penting dulu
  4. Masuk akal
  5. Libatkan anak
  6. Jelas dan positif
  7. Konsisten
  8. Konsekuensi

Ciptakan aturan yang menjaga, dan tidak menekan. Aturan didasari atas kepedulian dan cinta, ketakutan pada Allah atas amanah-Nya yang klak harus dipertanggungjawabkan.

Tidak semua hal dalam aturan disiplin anak harus dilibatkan, ada yang memang sudah given, darurat dan urgent.

Penerapan aturan:

  1. Dasarnya: kesepakatan dan konsekuensi
  2. saling respek
  3. Jelaskan aturan dan pastikan anak mengerti
  4. Pastikan aturan sangat perlu
  5. Fahamkan konsekuensi perlu
  6. Terapkan
  7. Evaluasi

Displin dengan Kasih Sayang (DKS) – Bagian 3


INTI MATERI

Bismillah. Kalau dua postingan saya sebelumnya ‘baru’ sebatas prolog aka pembuka, mulai posingan yang ini kita akan masuk materi inti seminar Ibu Elly minggu lalu. Beberapa bagian memang mengulang poin-poin di prolog, tapi dengan pendalaman materi yang lebih detil. Seluruh poin dalam hands out yang dibagikan pada peserta seminar, sudah saya masukkan ke catatan ini, dengan penambahan penjelasan lisan dan contoh kasus yang Ibu Elly sampaikan. Beberapa slide yang Ibu Elly tayangkan namun tidak tertera dalam materi cetak, tidak semuanya sempat saya tuliskan ulang. Selain jarak pandang yang membatasi (minus saya cukup tinggi sehingga butuh jarak yang cukup dekat untuk melihat tulisan dengan jelas), kadang kecepatan saya menulis ulang juga kalah cepat dengan jeda waktu penampila slide. Tetapi semaksimal mungkin, yang masih sanggup tertangkap indera penglihatan dan pendengaran, saya coba tuliskan kembali di sini. Gaya tulisan di sini lebih dekat ke gaya tulis ala saya, ketimbang gaya bicara ala Ibu Elly. Jadi penggunaan frase, diksi, dan parafrase bisa jadi menjadi gaya yang sangat berbeda dengan aslinya. Semoga keaslian makna tersirat yang ingin disampaikan Ibu Elly, juga bisa sampai ke pembaca blog ini, meski hanya lewat penulisan ulang ala saya yang jelas masih jauh dari sempurna. Nah, mari siap-siap berasap dan merasa tertampar ya, seperti kami yang menyesaki ruang seminar saat itu. Gakpapa, asalkan setelah ini, meski sambil tertatih, kita perbaiki kesalahan pengasukan kita selama ini.

Apa dasarnya sehingga disiplin itu perlu dalam parenting? Dan mengapa kata ‘disiplin’ harus Ibu Elly rangkaikan dengan kata ‘kasih sayang’? Tidakkah ‘disiplin’ dan ‘kasih sayang’ kerap menjadi dua sisi mata tombak yang berseberangan. Dua mata penjuru angin yang tak kan bernah bertemu? Bagaimana cara mengelaborasikannya?

Disiplin perlu dan penting, karena, sekali lagi, anak adalah anugerah dan amanah Allah yang dititipkan langsung oleh Sang Maha Pencipta melalui rahim seorang ibu. Amanah dari Allah jelas bukan hal sembarangan, jelas bukan hal remeh. Sejenak, mari duduk dan membayangkan saudara-saudara kita yang harus berjuang mati-matian demi mendapatkan buah hati. Kenapa diperjuangkan? Sebab banyak yang ingin merasai menerima titipan itu. Yang pada akhirnya tak perlu bersusah payah, ataupun sudah meminang hasil dari upaya kerasnya mendapatkan buah hati, jangan lantas terlena. Coba rasakan kembali rasa bangga dan bahagia diberi Allah kesempatan menerima titipan yang begitu agung, ketika kita mendapat kesempatan mengasuh dan mendidik manusia-manusia baru. Luar biasa bukan? Oleh karenanya, mari perlakukan anak-anak sebaik mungkin, muliakan mereka. Kelak, kita orang tuanya akan Allah mintakan pertanggungjawaban atas apa-apa yang telah kita kerjakan terhadap amanah luar biasa itu.

Anak membutuhkan bimbingan dan latihan dengan cinta dan logika. Cinta saja tidak cukup, dan logika saja tidak menghidupi. Perpaduan antara cinta dan logika akan menggiring kita pada titik dimana terjadi saling menghormati dan menghargai antara orang tua dan anak. Maka, cintailah anak segenap hati, namun gunakan logika dalam mendidiknya. Disinilah, bagaimana disiplin harus selalu terhubung dengan kasih sayang, pernikahan antara logika dan cinta. Tsaaah… Hehehe.

Disiplin dalam parenting merupakan serangkaian petunjuk tentang bagaimana berperilaku yang seharusnya. Bagaimana kita ingin anak-anak bersikap? Adab seperti apa yang kita ingin ada di rumah kita? Karakter yang bagaimana yang kita ingin tumbuh di diri anak-anak kita? Petunjuk ini haruslah berupa pengasuhan yang baik, agar tertanam perilaku yang baik pada anak.

Tidak hanya itu, disiplin memiliki fungsi untuk memberi tahu anak apa yang boleh dilakukan, dan mengapa; dan juga yang tidak boleh, dan mengapa. Ada kata ‘mengapa’ setelah orang tua menentukan apa yang boleh dan tak boleh. Dan ini sangat penting. Menjelaskan mengapa A boleh dan B tak boleh harus dengan alasan (reason why). Alasan ini harus dipikirkan, dirumuskan dan dicari validitasnya. Tidak boleh asal apalagi tak dipersiapkan! No no no.

Pada proses penegakan disiplin, dalam perjalanannya, akan timbul tanda tanya pada benak anak. Tentu. Karena anak-anak cerdas yang Allah ciptakan tak mungkin serta merta tunduk tanpa sanggahan pada setiap aturan yang diberikan orang tuanya. Pertanyaan macam, “Mengapa aku harus makan buah dan sayur?”, “Mengapa sebagai Muslim aku harus salat 5 waktu?”, dsb tak pelak akan tiba juga di telinga kita. Inilah salah satu tanda berlangsungnya proses terhubungnya serabut otak pada anak. Karena munculnya pertanyaan ini adalah hal yang pasti, maka orang tua harus berwawasan dalam perumusan alasan akan aturan yang ingin ditegakkan. Rumusan alasan ini kelak juga akan mempermudah jika anak mulai menguji orangtuanya, tentang sejauh mana aturan itu ditegakkan. Karena sejatinya, anak-anak akan mulai bertanya sebab dua hal dalam hidupnya: ia belum tahu dan ingin tahu, atau, ia tahu dan ia ingin menguji orangyang dilempari pertanyaan. Keduanya butuh jawaban valid, keduanya butuh jawaban yang dipersiapkan. Saat jawaban belum siap, jangan berikan jawaban yang tidak bertanggung jawab, apalagi bohong. Karena anak adalah makhluk cerdas, ajak ia berdiskusi, dan mintakan ijin darinya untuk mencari tahu lebih lanjut. Orang tuda tidak boleh malu mengakui kalau tidak tahu. So, stop ngeles gak jelas, apalagi tipu-tipu, yaa.

Saya suka waktu Ibu Elly bilang bahwa disiplin adalah membentuk kebiasaan dan meninggalkan kenangan. Membentuk kebiasaan mungkin hal yang biasa dikaitkan dengan disiplin. Tapi, meninggalkan kenangan, apa hubungannya dengan disiplin? Yes, sebab disiplin memerlukan wiring alias mengulang-ulang kebiasaan, jelas pengulangan ini akan terpatri lekat dalam ingatan anak. Ibu Elly memberi contoh yang sangat manis sekali, tentang hal ini. Jadi, di masa beliau masih duduk di bangku SMP, suatu hari ikutlah beliau dalam arak-arakan demonstrasi memprotes Soekarno. Di fase saat para aktivis gugur oleh senjata api para aparat militer, termasuk saat gugurnya Arief Rahman Hakim, itulah beliau ada di tengah-tangan kompulan massa yang tetiba menjadi mencekap lantaran banyaknya korban bersimbah darah berjatuhan di mana-mana. Sambil lari tunggang langgang, Ibu Elly pulang ke rumah. Ketakutan dan gemetar, ia disambut Ayahnya di depan rumah. Tahu apa yang Ayah beliau bilang? “Kenapa kamu lari? Balik ke sana dan jangan kembali. Ayah lebih rela kamu mati di sana, daripada mati dirumah digigit nyamuk!” ucap sang Ayah. Begitulah Ibu Elly mengenang caranya bertahan, kuatnya berjuang, dan tangguhnya berusaha. Maka inilah modal Ibu Elly masih dan rela berjuang di tengah minimnya perhatian dan bantuan pemerintah akan kasus-kasus remaja bermasalah yang ia hadapi. Inilah sumber tenaganya, bahwa ia harus rela mati dalam perjuangan, ketimbang mati dalam keadaan nyaman. Tahu kan, bagaimana lantangnya beliau meneriaki kita bahwa negeri ini darurat pornografi. Tahu kan, bagaimana perjuangan beliau mendampingi para remaja BLAST (bored, lonely, angry, stressed, tired) yang menghadapi aneka permasalahan pelik yang bahkan tak sanggup ditampung daya nalar kita, atau bahkan tak sanggup ditampung kuasa rasa di hati kita. Selagi benar, ia akan terus bergaung, begitu ujarnya mantap.

Tapi di saat itu, Ibundanya keluar tergopoh-gopoh dari dalam rumah, ikut menyambutnya. Luar biasa yang perempuan itu lakukan demi melihat gumpal gurat ketakutan yang terpampang jelas di raut Elly Risman muda. “Kamu belum makan kan, Nak? Lapar? Belum salat juga, kan?” cecarnya. “Sebentar, biarkan Elly masuk dulu, makan dan salat, ya. Baru setelah itu, kamu balik ke sana kan, Nak?” lanjut perempuan itu. Lihat bagaimana Ibunya mencari jalan tengah konflik antara Ibu Elly dan Ayahnya, dengan tetap menghormati sang suami namun cerdas melindungi putrinya, hatta di depan ayah kandungnya sendiri. Perempuan itu mampu menghadirkan ketenangan dalam ketakutan yang teramat pada jiwa Ibu Elly saat itu, sekaligus menjadi penguatnya. Ibu Elly menceritakan fragmen yang menurutnya masih vividly terekam jelas tiap detiknya lengkap dengan tiap ekspresi para pelaku di dalamnya itu, dengan suara berubah dari sangat ceria, menjadi bergetar haru. Seperti itulah ia mengenang Ayah dan Ibunya. Maka sekali lagi, disiplin JUGA adalah tentang meninggalkan jejak kenangan di benak anak-anak kita. Seperti apa kita ingin dikenang oleh anak-anak kita kelak?

Sampai sini, berat sekali yah urusan tentang disiplin SAJA itu. Saya pikir menegakkan aturan A, B, C, dengan konsekuensi D, E, F, saja cukup. Ternyata oh ternyata, sampai harus melekatkan kenangan baik di benak anak puluhan tahun ke depan, bahkan sampai saat saya telah tiada. Ya Allah, mampukan kami, dengan bimbingan dan pertolongan-Mu, Rabb.

Kenali anak sesuai fase hidupnya. Karena pusat perasaan berkembang dengan sangat dominan di fase awal kehidupan anak, utamanya 0-7 tahun, maka hal-hal yang harus diperhatikan adalah unsur rasa, yakni:

  1. Anggap penting perasaan anak. Kenali dan pahami perasaan anak.
  2. Ajari anak mengenali perasaannya sendiri.
  3. Ajari anak merasakan apa yang dirasakan orang lain.
  4. Ajari anak-anak menjadi pribadi yang bahagia dan mampu membahagiakan orang lain.

Karena pusat rasa berkembang lebih dahulu dan dominan, serabut-serabut otak belum mulai terhubung secara signifikan. Oleh sebab itu parenting di usia 0-7 tahun adalah bicara tentang pearasaan, bukan pembelajaran kognitif. Penakanan pada aspek kognitif di usia ini bisa dikatakan percuma, karena kesiapan fisiologis otaknya memang belum matang untuk itu. Karena alasan inilah pelajaran calistung di bawah 7 tahun KURANG efektif. Pengasuhan anak tidak boleh lepas dari pengetahuan tentang struktur otak dan cara kerjanya – Brain Based Parenting. Parenting yang menggunakan Al-Quran, Hadits dan dijalankan dengan memperhatikan perkembangan struktur dan fungsi otak akan menghasilkan metode parenting yang menyenangkan.

Pada fase 0-7 tahun adalah fase emas untuk memulai penanaman disiplin, sebab pada rentang usia ini friksi belum besar, hal ini terkain dengan perkembangan struktur otak anak. Persiapkan diri, sebab mulai usia di atas 7 tahun, neuron otak anak mulai terhubung secara cepat dan di sinilah mulai muncul perdebatan (pertanyaan) akan hal-hal yang diajarkan orang tua. Neuron yang mulai terhubung tak lantas menjadikan otak anak sepenuhnya tersambung dan berada di bawah satu kendali direktur otak, kematangan sambungan serabut hingga ke direktur otak ini baru dicapai pada usia 20-25 tahun. Anak yang tumbuh dengan kondisi pengasuhan yang baik matang lebih cepat di usia kisaran 20 tahun, sementara rata-rata matang di usia 25 tahun .Semakin cerdas anak akibat semakin banyaknya hubungan antar neuron otak ini, semakin kritis anak dan orang tua harus kian melonggar (sebagaimana penjelasan The V of LoVe). Melonggar dan melunaknya orang tua di fase dewasa seharusnya tak menjadi masalah sebab fondasi kokohnya sudah dibangun sejak awal. Ingat selalu kurva ‘V’ ini, dan jangan terbalik!

Selain mengenali fase hidup anak, kenali pula sifat dan karakter masing-masing anak. Cara penegakan disiplin bisa berbeda antara anak satu dengan lainnya, sebab tiap anak adalah pribadi yang unik. Tidak ada cara terbaik dalam menegakkan disiplin, yang ada teori yang serupa namun diimplementasikan berbeda agar tepat sesuai dengan karakter masing-masing anak.

Dalam pelaksanaanya, disiplin haruslah dilaksanakan dengan memperhatikan perasaan anak dan harus berorientasi pada pemindahan tanggung jawab dari pundak ortu (otoritas eksternal) ke pundak anak (otoritas internal). Dengan orientasi tersebut, diharapkan disiplin mampu memicu proses berpikir anak dan proses pengambilan keputusan untuk dan atas nama dirinya.

Otoritas Internal vs Eksternal:

  1. Kalau bertumpu pada otoritas eksternal/orang tua, ketika anak bermasalah sulit mengembangkan kesadaran internal tentang apa yang harus dilakukan ketika orang tua tidak ada.
  2. Otoritas eksternal penting dalam membantu anak mencari jalan keselamatan hidupnya.
  3. Otoritas internal akan menumbuhkan kesadaran diri (membuat anak menyadari apa yang telah/sedang dilakukan) dan lalu mengambil keputusan bagaimana meresponnya dengan tepat/yang terbaik, tanpa harus diberitahu orang tua (bermuara pada kemandirian anak dan kemampuannya mengambil keputusan).
  4. Kesadaran diri adalah awal pengembangan otoritas internal.

Langkah menumbuhkan otoritas internal:

  1. Buat aturan
  2. Sepakati bersama
  3. Diterapkan, kalau ada pelanggaran ditanyakan mengapa
  4. Konsekuensi dan evaluasi

Disiplin yang ditegakkan dengan baik dan benar seharusnya membantu memindahkan kontrol dari tangan orang tua ke tangan anak. Kenapa pemindahan kontrol ini jadi sedemikian penting? Sebab orang tua tak mungkin selamanya ada di sisi anak. Sebab harta orang tua tak selamanya bisa menjamin hidup anak. Untuk ini, orang tua tidak boleh lembek, tidak tegaan, dll.

Disiplin dengan Kasih Sayang (DKS) – Bagian 2


Saya jatuh cinta dengan gaya bicara Ibu Elly, sejak awal jumpa. Sebagai sesama orang Sumatera, saya mampu mendeteksi ke-Sumatera-an beliau dari logat bicaranya, ada cengkok khas di sana. Tapi jangan tanya soal caranya menyapa pendengar, orang Jakarta banget! Hahaha. Berkali-kali ia melempar jokes, lalu kami tertawa riuh, dan di ujungnya ia bertanya, “Siape yang elu ketawain? Diri sendiri? Alhamdulillah, masih pada waras, ya!” Yes, we laugh at ourself. Melihat ke dalam, memeriksa tindakan dan ucapan yang sebenarnya tidak penting, saking tidak pentingnya jadi tidak berguna, saking tidak bergunannya jadi tidak berpengaruh dalam pola asuh. Sadar kalau salah, tapi terus dan tetap saja dilakukan. See, kita memang butuh ditolong oleh psikolog, minimal via seminar parenting semacam ini lah.

Ibu Elly mengingatkan pentingnya berulang kali mempertanyakan dahulu ke diri sendiri tentang sejauh apa kewenangan kita terhadap anak. Siapa kita, siapa anak kita? Anak bukan milik kita, ia titipan Allah. Ia amanah besar yang Allah turunkan langsung tanpa perantara, dijadikan dari satu sel sperma dan satu sel telur, dititipkan lewat rahim, dilahirkan dari tubuh seorang Ibu. Anak bukan tempat melakukan kesewenangan. Sebab ia amanah dari langit, menumbuhkannya pun tak sembarangan.

Penting untuk megingat tentang urgensi penanaman disiplin pada anak di usai awal hidupnya. Batasan yang disepakati sebatgai aturan di rumah harus tegas sejak anak berusia 0-7 tahun, usia inilah fase penanaman aturan, karena di usia ini anak masih bisa diatur, karena serabut otak belum bersambungan. Di atas usia 7 tahun, anak-anak yang mulai tersambung serabut otaknya akan mulai menguji batasan yg ditetapkan. Misalnya: ia sengaja melanggar batas waktu bermain, sengaja menghabiskan lebih dari jatahnya jajan, hanya untuk meihat reaksi orang tuanya. Jika batasan sudah jelas dan disiplin sudah tertanam, membantu anak meluruskannya kembali akan lebih mudah, ketimbang jika di usia awal anak dibuat bingung dengan ketidakjelasan aturan. Ketidak jelasan ini bisa karena aturan kerap berubah, aturan tidak jelas batasannya, atau orang tua yang tidak konsisten melaksanakannya.

Terkait dengan hal di atas, Ibu Elly mengingatkan tentang The V of LoVe. Lipat jari manis dan kelingking tangan kiri, lalu tegakkan sisa tiga jari yang lain. V adalah posisi antara jari tengah dan telunjuk. Masukkan jari telunjuk tangan kanan ke rongga V, inilah V of LoVe. Bagian menyempit di bagian bawah ‘V’ adalah fase 0-7 tahun. Telunjuk adalah simbol disiplin. Telunjuk yang menekan ke sudut ‘V’, menggambarkan mudahnya penanaman disiplin di usia dini, lalu merenggangnya bagian tengah dan atas ‘V’ menggambarkan bahwa dengan makin bertambahnya usia anak, pola asuh pun mulai bergeser menjadi kian ‘longgar’. Hal ini berarti pada usia anak yang kian dewasa, orang tua tak bisa lagi melakukan top down approach (bahasa penulis ini sih, bukan bahasa Ibu Elly :D), melainkan berusaha menjadi sahabat anak dan menjadikan dirinya tempat ternyaman bagi anak untuk berbagi. Pola ini bisa diterapkan jika orang tua mengasuh sendiri anaknya. Mendelegasikan pengasuhan kepada orang lain seringkali berakibat sebaliknya, tercipta pola ‘V’ terbalik, dimana anak pada usia 0-7 tahun justru mendapatkan kelonggaran, akses tanpa batas dan aturan yang tidak jelas, sehingga ketika anak masuk ke fase ‘menguji batasan’, orang tua baru mulai mengencangkan aturan dan mengeraskan hukuman. Sudut sempit pada ‘V’ terbalik ada di atas menggambarkan sulitnya anak pada fase lanjut untuk diperlakukan keras dan kaku. Tekanan ini justru beresiko pada ‘lompatan’ anak-anak ke luar jalurnya, misalnya: kenakalan remaja, seks bebas, pemakaian obat-obatan terlarang, penyimpangan seks, dll.

Penting untuk diingat dalam parenting, bahwa selalu akan menjadi pekerjaan besar bagi para orang tua untuk menciptakan harmoni antara keunikan pada masing-masing anak, fleksibilitas dalam pelaksanaan peraturan, dan batasan yang tegas serta masuk akal sehingga dalam pelaksanaannya aturan disiplin bisa lebih mudah dan mungkin untuk diterapkan (feasible). Dalami keunikan pada diri anak, gaya parenting yang berhasil untuk anak satu, belum tentu cocok untuk anak lain. Contohnya, anak Ibu Elly yang pertama dan kedua, berhasil dengan pola penegakan disiplin dengan menuliskan aturan rumah pada kertas yang ditempel di kulkas. Ketika pelanggaran terjadi, anak-anak diminta berjalan ke depan kulkas, membaca ulang aturan, menyadari kesalahan, dan lalu menerima konsekuensi pelanggarannya. Pada anak ke tiga, cara ini tidak bisa Ibu Elly terapkan. Pada usia enam tahun, putri ketiganya dengan tegas bilang bahwa dia tidak mau melihat kulkas tiap melakukan kesalahan, dia bilang, dia bukan dan tidak seperti kedua kakaknya. Maka Ibu Elly pun tidak menerapkan cara tersebut pada putri ke-3 nya.

Tahukah kita, kalau sebagai akibat pola asuh yang diterima saat kita kecil dan pengulangan kebiasaan lewat proses wiring, masing-masing kita punya ‘tombol’ yang bisa teraktivasi begitu tekanan melanda. Itulah sebabnya, seorang anak perempuan yang dididik dengan teriakan dan bentakan penuh amarah, akan tumbuh menjadi ibu pemarah yang juga akan dengan mudahnya berteriak dan membentak anak-anaknya. Pun, seorang anak lelaki yang dibentuk disiplinnya lewat pukulan dan kekerasan, akan tumbuh jadi ayah yang keras dan mudah melayangkan pukulan dan hukuman fisik pada anak-anaknya.

Selain ‘tombol’ mengerikan yang siap menghajar anak-anak kita kapan saja akibat urusan dalam diri orang tua yang tak beres, ada pula orang tua dengan senjata ‘palu’ dalam mendidik anak. Orang tua ini hanya punya ‘palu’ (baca: kekerasan) yang terus dijadikan senjata menghadapi ketidakmampuannya mengendalikan situasi tertentu saat membersamai anak. ‘Tombol’ dan ‘palu’ sebagai hasil dari sampah masa lalu ini adalah salah satu poin yang sejak awal sessi sudah Ibu Elly ingatkan untuk diselesaikan terlebih dahulu: inner child within.

Saya tertegun waktu Ibu Elly bilang, bahwa Allah sungguh telah menciptakan makhluk sempurna dan cerdas ketika menghadirkan anak-anak di dunia. Kemunduran kecerdasan, baik kognitif maupun kecerdasan sosial, justru terjadi karena asalah asuh yang dilakukan orang tuanya. Orang tua berpotensi besar memundurkan kecerdasan anak. Orang tua berpotensi besar merusak dan atau membuat anak jadi lebih tidak baik daripada proses awalnya anak diciptakan Allah. Subhanallah, kitakah orang tua yang ‘membuat mundur’ anak-anak kita? 😥

Oleh karenanya, perenting adalah proses belajar orang tua. Parenting adalah proses panjang yang hasilnya tak bisa dilihat segera. Orang tua harus belajar demi menemukan dan merumuskan cara terbaik dalam mendidik masing-masing anak. Dalam berproses ini, keluarga muslim hendaknya berpegang pada Al-Quran dan Hadits. Ingatkan selalu, bahwa dalam agama Islam, tugas utama orang tua adalah memuliakan anak dan mengajarkan mereka akhlak yang baik. Jadi, anak-anak tidak boleh dihinakan dan dijatuhkan harga dirinya dengan kata-kata dan hukuman yang tak pantas. Sebagian besar hukuman reaktif justru merusak harga diri anak, dan dalam banyak hal karena dielaborasikan dengan kemarahan, hukuman pun menjadi tidak efektif karena anak tak paham mengapa ia dihukum dan tak membuahkan hasil yang baik di masa yang akan datang. Pun, keteladananan adalah hal mutlak jika ingin membentuk pribadi dan karakter positif pada anak.

Penegakan disiplin sejak anak masih kecil adalah hal penting yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Namun pada fase ini, orang tua dituntut bijak dalam melaksanakan disiplin. Hadiah dan hukuman kebanyakan tidak efektif di rentang usia ini. Hadiah boleh diberikan asalkan tidak diiiming-imingkan sebelum suatu proses/hasil dicapai. Memberi iming-iming hadiah sebelum anak berhasil akan menumbuhkan sifat bergantung pada hadiah, atau berorientasi hadiah. Hadiah boleh diberikan setelah anak berhasil, tanpa diberitahu sebelumnya. Jadi sifatnya adalah sebagai kejutan atau sebagai ungkapan terima kasih dan kasih sayang atas apa yang telah diupayakan si anak.

Dalam Islam, memukul memang diperbolehkan. Tapi ingat syaratnya yang berderet, memukul boleh jika dilakukan di telapak kaki dan pemukulnya harus dibungkus/dilapis sesuatu yang tidak mengenai kulit langsung. Bayangkan jika kita tengah marah dan ingin memukul, lalu buru-buru mencari kain atau pembungkus untuk membungkus tangan dan alat pukul, bisa dipastikan kemarahan sudah mereda dan menguap setelahnya. Pukulan tak beraturan akan membuat anak merasa dirinya jelek atau tak berguna. Anak-anak boleh dihukum dan diberi hadiah, jika anak sudah mengerti aturan. Jadi terlebih dahulu anak harus paham aturan dan aturan mainnya, paham batasannya kapan disebut menuruti dan kapan disebut melanggar, paham akibat atau konsekuensinya, baru terapkan punish and reward.

Sebisa mungkin, usahakan sesering mungkin tersenyum, terutama di depan anak. Secara fisiologis, senyum membuat otot wajah tertarik dan mengakibatkan batang otak mendingin. Proses ini memicu seretonin mengalir ke otak. Seretonin memberi efek tenang dan anti agresivitas. Dan jika senyum ini dilihat oleh orang lain lalu memicu orang tersebut untuk tersenyum, maka efek yang sama pun terjadi. Inilah sebabnya senyum adalah sedekah buat diri sendiri dan orang lain. Dicoba deh, kalau lagi marah sama anak, cubit atau marah-marahlah sambil senyum, dijamin, gak bakal bisa! Hehehe.

Karena asah-asih-asuh anak-anak adalah urusan antara orang tua dan anak, maka tetapkan model dan gaya parenting anda sendiri. Jangan ikut-ikutan, parenting harus punya prinsip. No matter what people say. Kemampuan orang tua bertahan dan menguat selama proses pengasuhan adalah mutlak. Di kantor YKBH di Jatibening, ada sessi gratis konsultasi untuk umum. Dari hasil pendampingan para remaja bermasalah YKBH, ditemukan kenyataan bahwa pada umumnya kedekatan antar orang tua (baca: keharmonisan pernikahan) umumnya berada pada titik terendah pada saat anak beranjak remaja. Kondisi tidak harmonis ini jelas melemahkan dan memperburuk tekanan yang terjadi pada remaja bermasalah. Gratis konsultasi YKBH bisa dilaksanakan bila orang tua sanggup menemani anaknya selama proses pendampingan, awalnya sebanyak 12x pendampingan. Rata-rata orang tua ini gugur selama prosesnya, dengan menyisakan masalah pelik yang mungkin saja tak terselesaikan. Ini menunjukkan lemahnya hubungan kedua orang tua, dan melemahnya kemampuan untuk secara konsisten bertahan melakukan pendampingan terhadap anak. Pernikahan melemah, anak berkutat dalam kubangan masalahnya. Parenting sangat mungkin membuat seluruh anggota keluarga jatuh bangun saat menjalaninya. Tetapkan prinsip bersama, jalani dengan kuat, dan jangan lupa banyak tersenyum.

Terakhir sebelum masuk ke materi Ibu Elly mengingatkan agar masing-masing kita memiliki kemampuan untuk memproyeksikan tindakan. Pikirkan dari sekarang, sebelum tindakan diambil, apakah yang kita lakukan ke anak akan berakibat baik atau buruk? Keburukan yang kita tebar, bak proyektor, kelak akan muncul dalam wujud yang lebih besar, lebih masif. Bayangkan keburukan sebesar apa yang akan muncul di diri anak kita setelah ia dewasa akibat keburukan ‘kecil’ yang rajin kita tebar sehari-hari. Berpikir sebelum bertindak, bayangkan, proyeksikan.

Ketika Anak-Anak Harus Terluka (4): Curhatlah Dengan Psikolog Anak, Meski Cuma Via Chatting!  


Sekarang saya mau flash-back ke chat history dengan psikolog anak pertama saya. Awalnya sih, saya menghubungi ibu psikolog cantik ini karena mau minta rekomen dari dia buat psikolog anaknya Daanish, eh ternyata dia juga psikolog anak toh. Sayang aja sih yaa, jauhnya gak ketulungan. Hihihi. Dan dengan sabar dan baik hatinya, temen masa SMP-SMA saya ini mau banget dengerin emak galau bin lebay macem saya curhat ke dia. Beneran, saat itu saya masih super galau loh. Itu kan belum lama dari kejadian. Saya juga masih bingung mau cerita detil ke siapa, mau cari solusi gimana, dan mau nyikapinnya juga gimana. Huhuhu. Untunglah ibu sholihat ini mau bantu.

Baiklah, saya bagi sedikit poin-poin dari beliau, ya. Tujuannya cuma berbagi, ya. Siapa tau ada yang bisa diaplikasikan atau siapa tau ada yang mengalami kasus serupa.

  1. Jangan cepat melabeli anak “trauma”. Kata “trauma” sebaiknya gak buru-buru disematkan pada anak yang telah mengalami kejadian buruk. Dalam terminologi psikologi, kata ini hanya digunakan untuk kasus berat dimana telah terbukti jelas beratnya kejadian buruk yang menimpa anak, dan imbasnya pun terlihat nyata dengan adanya perubahan sikap drastis pada diri anak. Pelabelan juga akan membuat anak terpojok sebagai korban, dan membuat orang sekitar (terutama orang tuanya) akan lebih tertekan menghadapi kondisi si anak. Kata ini berkonotasi cukup negatif, dan kata berkonotasi negatif jelas amat dihindari oleh para psikolog. Ingat, kata negatif, memberi nuansa negatif, dan mentransfer juga energi negatif. Label negatif, pasti ada dampak negatifnya, walaupun secara kasat mata tidak nampak. Tenang, dan pikirkan hal positif lainnya selain ‘labelling’.
  2. Usia Daanish (saat itu 2,5 tahun), adalah usia modelling. Anak biasanya gemar meniru apa yang dilihatnya. Semakin banyak terpapar aktivitas negatif, semakin banyak hal negatif yang ditiru. Tapi, biasanya bukan karena trauma, hanya meniru.
  3. Trauma tidaknya seorang anak juga tergantung durasi ia terpapar suatu kejadian buruk. Paparan itu biasanya minimal 6 bulan, kurang dari itu biasanya belum terbentuk trauma.
  4. Cemas boleh, tapi usahakan senetral mungkin saat memaparkan kronologis. Biarkan working diagnosis dari psikolog berjalan untuk menentuka trauma tidaknya anak, juga saran penangakan anak yang tepat.
  5. Membawa anak yang diduga terpapar kejadian negatif ke psikolog adalah langkah tepat. Apalagi jika merasa anak butuh dibantu. Apalagi jika kejadiannya tidak terdokumentasi dengan baik (minim bukti). Psikolog juga akan memantau intelegensi dan karakter/kepribadian si anak. Observasi dan assesmen dari psikolog dapat membantu mermuskan penanganan yang tepat. Sebab dengan kasus yang sama sekalipun, penanganan bisa berbeda. Umur batita memang tidak banyak bisa menerima assesmen, apalagi dengan alat bantu. Lebih banyak diobservasi.
  6. Berusahalah bersikap positif! Hilangkan rasa sedih, dan mulailah memperbaiki. Beritahu anak apa yang sebaiknya ia lakukan, ingatkan jika ia salah. Tiap keluarga punya nilai masing-masing, berpeganglah pada nilai-nilai itu. Memberi tahu anak memang baik, tapi yang terbaik adalah MEMBERI CONTOH.
  7. Biasanya untuk usia Daanish, kalau memang anaknya tidak terlalu sensitif/peka, dengan arahan yang tepat sikap/perilaku anak bisa kembali normal.
  8. Untuk Azzam, kalau ada ketakutan ketika makan akibat perlakuan kasar pengasuh saat memberi makan dulu, bisa diupayakan pendekatan yang lebih intens. Libatkan banyak sentuhan fisik: pelukan, ciuman, kehangatan saat bermain bersama. Bantu anak menenangkan dirinya dan banjiri ia dengan cinta dan kasih sayang.
  9. Secara umum di usia Daanish, anak-anak memang berada pada usia aktif dan pada fase negativistik. Umumnya tampak suka membangkang, self-centered, menolak, dsb.
  10. Dalam kasus Daanish, yang menonjol lainnya adalah penolakan terhadap aktivitas toilet training. Ini juga banyak faktor, bisa memang ada kekerasan, bisa juga karena baru baginya. Ada anak yang jijik, malas, takut, dsb saat memulai toilet training. Penting untuk diobservasi, seberapa berlebihan tantrumnya saat toilet training? Jika anak sampai berteriak, menangis kencang, melempar barang dalam durasi lama, bisa dikategorikan tantrum berleihan/kasar.
  11. Daanish bisa saja sejak awal punya tmperamen sensitif, sikap ART bisa memperburuk. Karakter agak sulit diubah, tapi bisa dikendalikan. Daanish bisa diajari agar tidak marah berlebihan saat ia sedih/kecewa. Temperamen adalah bawaan lahir, dan umumnya genetis.
  12. Sibling rivalry mungkin memng hadir antara Daanish dan Azzam, dan bisa saja diperburuk oleh role model yang salah dari ART. Tapi anak bisa diarahkan. Ubah sikap negatif ke positif. Misal saat Daanish menarik kasar rambut Azzam hingga adiknya menangis, bisa dikomentari dengan membantu Daanish memegang kepala adiknya dengan lembut sambil bilang, “Oh, Daanish maksudnya mau sayang adek kan, ya? Sini sini, kita elus kepalanya Dek Azzam yuk, Daan.”
  13. Catatan buat saya, ibunya: harus bisa release perasaan negatif (bisa dengan meditasi, olahraga, ibadah, dll). Perasaan bersalah pasti ada dan berdampak lama, jadi yang paling pertama harus dilakukan: MENERIMA keadaan dulu. Menerima bahwa kejadiannya memang sudah terlanjur terjadi. Pembawaan sensitif lebih rentan dengan traumatik, tapi dengan menerima setidaknya efek negatif bisa diredam. Menerima adalah proses. Jalani, yakini. Jangan terlalu membebani diri sendiri. Hargai setiap usaha yang sudah diupayakan maksimal. For your children, you are the BEST, you are the UNIVERSE!

Nah, akhirnya tulisan ini jadinya emang poin-poin doang ya, buka ala-ala diary kayak tulisan saya biasanya. Mungkin gak runut, mungkin juga ada yang agak sulit dipahami. Tapi saya berusaha tulis selengkap mungkin. Karena ini konsul pertama saya dengan ahlinya, yaitu psikolog anak. Perlu diketahui, karena konsulnya via chatting, pastinya gak sama dengan hasil observasi/asesmen langsung. Tapi kenapa saya bagi, karena poinnya banyak banget yang ‘ngena’ buat saya. Dan sharing pertama ini bener-bener mengubah sikan dan cara pandang saya, terutama soal pelabelan, penerimaan akan kejadian yang sudah lewat, dan upaya membebaskan diri dari rasa bersalah. Nantinya, bahkan beberapa poin klop kok sama hasil observasi dan asesmen dengan ahli kedua, Ibu Astrid W.E.N, M.Psi di Klinik Kancil. Psikolog Astrid tentunya saya dapet dari rekomendasi psikolog pertama yang saya ajak chatting ini. Sayang lagi di Jerman sih, kalo deket sih, saya datengin. Pertolongan pertamanya bener-bener berguna banget. Makasih banyak, Ibu Afilla Dwitasari, M.Psi. Semoga Allah bales kebaikan Ewi dengan kebaikan berlipat, yah! ^^

image

Pilihan tepat bingit deh curhat sama psikolog saat ketemu masalah beginian. Jelas pengetahuan psikologi anak saya super minim, jelas juga saya butuh bantuan buat menghadapi masalah ini. Curhat dengan temen n keluarga mungkin bikin adem hati sebentar. Lha, terus detilnya saya harus gimana, kan harus saya cari tau juga keleus! Untungnya selain emang udah temenan, Ewi punya ‘ilmu’nya buat ngehandle kacaunya saya saat itu. Ibarat kotak P3K, dia kasih saya pertolongan pertama yang saya butuhkan supaya lukanya gak tambah buruk. Asiknya lagi, masukan buat anaknya dapet, saran buat orang tuanya (terutama ibunya) juga dapet. Cihuy, kaaan! Ah, pokoknya berhutang budi banget deh sama Ewi. Makasih banyak ya, Wi, makasih banget! ^^

Ketika Anak-Anak Harus Terluka (3): Ibubun Gak Gaul, Sih!


“Bubun, bubun! Bubun, (b)isa ya, (b)isaaa! (Pe)sawat, Bubun!” Suara Daanish trdengar nyaring dan makin keras. Yes, dia teriak dari dalam kamar sampai ke beberapa langkah sebelum menabrak saya di dapur. Namanya lagi heboh masak bin buru-buru, bisa ditebak yang saya lakukan untuk meresponnya. “Ya, Daanish. Ya, ya,” jawab saya sekenanya. Dan ketika ia masih terus meminta perhatian, saya cuma menambahkan satu kata, “Iyaaaaaa…!” Ih, kalau saya jadi Daanish, pasti kesel lah ya. Lagi seru-serunya pengen nunjukin sesuatu, diresponnya ‘gitu doang’, dengan nada tinggi bin ga enak pula bilang ‘iya’-nya.

daan pazel

Begitu noleh ke belakang, pemandangan di belakang punggung saya bener-bener bikin nyesel karena udah bersikap ngeselin tadi. Dia menunggu dengan sabar sambil menatap lurus ke arah saya, matanya berbinar bangga, ditunjukkannya rangkaian pazel kembang yang berhasil disatukannya, memanjang, dan disebutnya ‘pesawat’. Malam sebelumnya, ia masih merengek-rengek seperti sebelumnya karna belum bisa menyambung rangkaian pazel itu. Kadang kedua pazel dia posisikan sama-sama vertikal/horizontal, kadang gigi pazel yang harusnya saling gigit gak dia pasangkan dengan tepat, kadang kurang tenaga mengancingkan pazelnya, macem-macem lah.

“Daanish hebat!” puji saya sungguh-sungguh. Melihatnya ‘melompat’ dari gak bisa jadi bisa tepat di depan mata itu bener-bener bikin saya seneng. Selama ini, udah terlalu banyak momen ‘kami’ yang terlewatkan gitu aja. Ada bagusnya juga sih cuti panjang ini, jadi arena riil saya bertarung sama ego diri sendiri. Belajar dari bener-bener kacau ngendaliin emosi jadi agak mendingan ngontrol emosi. Belajar dari memelihara perasaan gak-PD-gak-bisa-gak-mungkin jadi mengumpulkan energi positif kayak tiap bangun pagi bilang, “Saya ibu cantik, keren, pinter, dan pasti bisa nge-handle anak-anak seharian di rumah”. Mwahahahaha. Nyatanya sih saya masih gagal tiap harinya. 😀

Tapi beneran, saya seneng bisa bareng anak-anak. Saya gak lagi mikir harus bareng mereka karena saya udah berdosa sama mereka. Saya bareng-bareng karena saya hepi bisa bareng-bareng. Saya menikmati bisa bareng-bareng, karena tau gak bisa selamanya bisa bareng, dan gak lama lagi momen bareng-bareng ini bakal selesai. Karena mau selesai cepet, saya harus hepi sehepi-hepinya. Suatu saat saya bakal ingethari-hari yang saya habiskan bertiga di rumah, seperti juga selalu dan selamanya saya bakal inget apa yang bikin kami bisa bareng-bareng kayak gini. Kejadian yang kayak baru kemaren aja menimpa kami. Ternyata, udah tiga bulan berlalu, loh.

Saya masih sih nyimpen penyakit hati. Ujug-ujug bisa maafin cepet, ya gak mungkin lah. Tapi di sela rasa kecewa itu, saya memendam syukur, karena di hari Jumat itu, di bulan Ramadan pula, Allah kasih clue paling penting dalam hidup saya. Sehari sebelumnya, hari Kamis, belum lama saya pulang kantor, pintu rumah diketok kasar. Saya yang masih di kamar belum bisa segera keluar. Begitu buka pintu, saya mendapati Daanish sesenggukan di depan pintu. Sendirian. Gak lama, pengasuhnya, dengan dipegang dua tangannya, digiring seorang ibu. Keduanya terengah-engah. AR saya malah masih sempat setengah teriak-teriak. Saya suruh mereka berdua masuk. Soalnya udah rame di luar, tukang bangunan yang lagi kerja di samping rumah juga keliatan curi-curi pandang. Saya yang modelnya sok cool dan pada dasarnya emang gak gitu suka campur tangan urusan orang, cuma nunggu pengasuh Daanish dan si ibu tetangga menjelaskan masalahnya. Agak ribet dan jelimet. Gak jelas siapa yang salah, tapi intinya ART saya itu berantem heboh sama ART tetangga. Udahlah teriakannya kenceng kedengeran sekampung, kata-katanya kasar, pake ada acara si pengasuh Daanish bikin panik karena bebawaan balok kayu panjang berpaku pulak. Saya sebenernya gak gitu heran. Kalo urusan berantem, ART saya emang tipe gak mau kalah. Lha, ditegor baik-baik aja sama saya suka lebih kenceng jawabnya. Tapi saya pikir udah, masalahnya cuma sampe sini aja. Kan udah dilerai. Kan udah sama-sama tenang. Kan udah sama-sama janji gak mau manjangin masalah.

Besoknya, Jumat pagi yang penuh berkah itu, lawan berantem ART saya tiba-tiba ngajak ngobrol. Selain minta maaf, dia lapor tentang apa yang dia tau tentang ART saya. Dua informasi yang saya ingat: Daanish-Azzam sering ditinggal di rumah sendirian dalam jangka waktu lama hingga mereka menangis atau keluar rumah hingga tak jarang bala bantuan datang dari tetangga-tetangga lain, yang kedua, Daanish-Azzam sering dibawa keluyuran karena si ART hobbinya ‘sowan’ sana-sini.

Awalnya saya gak gitu gubris. Meski hati mulai sedikit resah. Di perjalanan menuju kantor, sempat saya BBM suami, “Yuk, pasang telepon rumah, ada yang gak beres.” Memang ada yang janggal sih selama ini, terutama kalau saya random calls ke hp ART atau hp yang saya tinggal di rumah. Macam-macam alasannya; baterai drop, lupa nge-cas, gak kedengeran, dll. Terutama kalo nelponnya bukan di jam makan siang dan bukan di jam jelang pulang kantor (ini kayak waktu pasti saya nelpon buat ngecek anak-anak). Tapi, sayangnya saya tutup telinga sama suara hati saat itu.

Mungkin karena alam bawah sadar saya sudah terlanjur terkontaminasi sama informasi paginya, di jalan saya sampai gak sadar dihipnotis orang. Gelang emas yang selama ini melilit manis namun tertutup baju lengan panjang, tetiba raib. Herannya, baru di depan pintung ruang kantor saya nyadarnya. Itu udah berlalu 1,5-2 jam dari kejadian. Oalah, yang ambil ternyata Bapak tua yang pura-pura kejang/keram di samping saya tadi di angkot tho. Tapi Allah itu adil, meski sempat linglung sejenak, saya tau saya harus lebih fokus pada masalah yang lebih utama. Hilang gelang tentu sedih, tapi saya lebih kepikiran urusan anak-anak. Dan begitulah cara Allah mengalihkan saya dari rasa sakit kehilangan harta benda. Alhamdulillah.

Pertolongan Allah pada Jumat berkah itu belum selesai. Dalam perjalanan pulang menuju rumah dimana saya harus melewati pasar tradisional , saya ketemu ART tetangga depan rumah. Nama ART ini sempet diucapkan si pelapor tadi pagi, sebagai saksi yang bisa membenarkan informasinya.  Dua tahun lebih lewat jalur pulang yang sama, baru ini saya ketemu orang komplek. Ini jalan-Nya, pikir saya. Refleks saya introgasi si mbak muda, semua saya tanyakan. Awalnya sih, gak mau cerita, lama-lama mengucur seperti keran. Informasi dari saksi ke-2 ini terlalu banyak. Bikin saya sakit ulu hati; sesak napas dan nyeri dada. Bukan cuma dua kenyataan tadi aja yang diiyakan, malah bonusnya lebih banyak: pukulan di paha/(mungkin) sisi kepala (toyoran?), teriakan ‘goblog’, ‘tolol’, ‘mampus’, dan pembiaran berlama-lama saat mereka menangis yang bikin si ART ini dan bossnya (tetangga depan rumah) gak 1-2 kali nolongin anak-anak. Jleb!

Sayangnya, Sabtu pagi si mbak cuci gosok gak dateng. Mbak ini baru beberapa bulan ikut saya, itu pun sering dia datang saya sudah ngantor. Karena dia pasti punya informasi yang bisa saya korek, saya udah rencana mau introgasi juga. Baru Minggu pagi saya bisa ajak dia ngobrol. Dan yak, bisa ditebak, informasi dua orang itu juga diiyakan. Plus, lagi-lagi, bonus cerita yang lebih bikin kaki lemes. Anak-anak ternyata gak cuma diteriaki kata-kata itu, tapi ada isi kebun binatang juga, dan bahkan Daanish pernah dia marahi di depan ART lain sambil bilang ‘anak setan’! Duh, kami aja gak pernah lho, marahin dia pake kata kasar begitu. Sedihnya lagi, anak-anak gak cuma dimarahi saat ‘bandel’, bahkan sekadar bobo cuma sebentar, atau pup melulu pun dia marah. Dan meski sekali pun pengasuh ini gak pernah saya marahin soal berantakannya mainan anak, ternyata dia yang marahin anak-anak, teriak-teriak sambil lempar kasar mainannya anak-anak. Pantes aja Daanish sering lempar mainan kalo marah, bahkan gak peduli kalo lemparannya itu nyakitin adeknya. Daanish memang keliatan tambah agresif attack ke Azzam belakangan itu. Masih banyak lagi lainnya, makein baju dan nyuapin yang kasar, bahkan Daanish pernah dipaksa cium clodi bekas pupnya sampai disorongkan di dekat hidung/mulutnya supaya Daanish tau pup itu bau. Gilaaa. Saya bukan sakit hati lagi dengernya, tapi udah berasa pengen makan idup-idup tu orang.

Meski dari Jumat saya udah gak bisa lagi pura-pura basa-basi dan haha-hihi sama si ART, masih saya tahan belum memecatnya. Saya butuh satu saksi lagi, biar genap empat orang, seperti dalam ajaran Islam. Satu saksi ini penentunya, sebab dia bukan dari kalangan ART yang bisa saja bersekongkol, dan sebab saya menelusuri kecilnya kemungkinan dia memendam itikad tak baik. Dialah si ibu tetangga depan rumah, yang mengontrak rumah depan cuma empat bulan selama rumahnya direnovasi. Sebelum dia ngontrak, kami gak saling kenal. Setelah dia pindah pun mungkin kemungkinan ketemu udah gak intens lagi. ART si ibu yang juga jadi saksi ke-2 saya juga udah dari jauh hari rencana mau berhenti abis lebaran. Jadi baik dia maupun ARTnya, kecil punya kemungkinan ‘merencanakan sesuatu’ dengan kasih info tentang ART saya. Karena dia juga ibu dari dua anak yang masih usia kanak-kanak, saya percaya dia gak mungkin bohong. Dan semua benar ternyata. Dia bahkan mendengar langsung dari dalam rumahnya teriakan melengking tinggi si pengasuh saat anak-anak menangis, dia akui sudah beberapa kali menolong anak-anak yang menangis sampai keluar rumah karena entah sudah berapa lama dibiarkan sendirian di rumah, atau dibiarkan menangis lama padahal si pengasuh ada di sana. Padahal, satu kali memang pernah saya pulang dalam keadaan heboh; Daanish-Azzam nangis bareng dan sudah ramai tetangga berkerumun. Saat itu, saya percaya aja saat si pengasuh bilang Daanish gak mau sabaran pake sendal sebelum main, sementara Azzam mau buru-buru main. Padahal, kata si Ibu, dia sudah denger anak-anak nangis lama banget dan gak juga ditenangkan, sampe akhirnya dia, anaknya, ARTnya, juga tetangga-tetangga lain dateng karena pengen liat apa yang terjadi dan bantuin nenangin anak-anak. Kalo sampe udah serame itu yang dateng, ya, berarti udah heboh kayak apa lah yaaa, sahut-sahutan tangisannya Azzam Daanish.

Saya pulang dari rumah si Ibu jelang magrib, lalu sempat berusaha menenangkan diri sebentar, baru sekitar jam 10 malam saya panggil si ART dari dalam kamarnya, dan memberhetikannya saat itu juga. Mempertimbangkan keselamatan anak-anak, temperamen dan ‘kegilaan’ si pengasuh kalo udah kecewa, networkingnya dia yang suka banget ngobrol sama semua orang dari satpam, tetangga depan gerbang sampe tetangga belakang komplek yang jumlahnya puluhan/ratusan, belum lagi temen-temen ex-PSKnya, preman-preman pasar, dll; saya pilih cari aman. Biar kami juga gak panjang-panjangin masalah ini, biar dia juga gak perlu memungkiri apapun (saya yakin 1000% dia gak akan ngaku, saya udah beberapa kali gesekan sama dia soalnya), dan kami gak mau juga lepas kendali memarahi dia. Saya cuma bilang kalo saya mau berhenti kerja, makanya gak butuh pengasuh lagi. Titik. Gak pake panjang-panjang, gak pake ribet-ribet.

Dan sejak dia bye-bye dari rumah itulah perjuangan sebenernya baru dimulai. Betapa terseok-seoknya saya dalam urusan bertetangga, sampe-sampe sebenernya udah banyak orang yang tau dan ‘nunggu ditanya’, tapi sayanya yang gak ngerti-ngerti. Setelah empat saksi itu, satu per satu orang angkat bicara, ada yang liat Daanish diseret pulang kasar, ada yang bilang sisa ASIP Azzam dibuang, ada yang bilang dia ternyata perokok berat, dan kalo hanya sekadar info dia ‘kasar’ mah, udah dari ujung ke ujung orang tau. Yang ga tau cuma siapa? Saya!

Kalo dipikir-pikir kenapa di depan beberapa orang tertentu dia cuek aja ‘jahat’ sama anak-anak, kemungkinan penyebabnya matching sama pernyataan yang sering dia bilang ke ART lain, “Bundanya Daanish mah gak bergaul, gak tau tetangga dia.” Ini mungkin jadi satu-satunya kebenaran dari si orang jahat ini yang mau gak mau harus saya terima. Ya, saya emang gak gaul. Kurang kepo-kepo. Kurang obral-obrol. Kurang basi-basi.

Yang jelas saya berubah sejak masalah ini hadir; suami dan anak-anak pun demikian. Saya berusaha memperbaiki hubungan dengan tetangga, meskipun kesulitan terbesar saya memang bergaul di komunitas baru. Saya berusaha menghafal nama ibu/ayah, anak, dan rumahnya tetangga selama saya cuti. Berusaha sowan ke tetangga entah sambil bawa makanan ala kadarnya apa. Berusaha sok PD nyambung obrolan ini itu. Pastinya tiga bulan ini gak cukup. Gak tiap hari juga keleus, saya bisa bergaul. Urusan domestik, termasuk tubuh yang butuh istirahat, pastinya lebih saya prioritaskan. Saya berusaha aja, tapi gak ngoyo. Jadi jangan salahkan kalo hasilnya juga belum oke. Pokoknya saya belajar lah; mulai dari belajar bergaul dengan sekitar. Jatuh bangun mah biasa, yang penting semangat dulu, yekaaan? 😉

 

Ketika Anak-Anak Harus Terluka (2): Kenapa Harus ke Psikolog?


Pernah, dalam satu masa saat saya masih mencari tau kebenaran berita burung tentang “kejahatan” si pengasuh, seseorang berkata, “Kenapa sampai harus ke psikolog? Memang separah itu? Bukannya si pengasuh cuma agak kasar aja, ya?”

Adakah yang sependapat?

Saya tau, meski tidak secara langsung diucapkan, saya menangkap sirat keraguan dari beberapa orang yang caya curhati masalah ini. Mungkin, saya tampak berlebihan, ya, menyikapi masalah ini? Terlalu reaktif? Tidak berkepala dingin? Mengalami panic attack? Err… lebay?

Hehe. Gapapa. Anda juga boleh bilang gitu, kok. Wajar. Saya juga dulu sempet ragu-ragu pilih jalan ini. Meskipun ragu-ragunya gak lama. Tapi sekarang, saya mau bilang: ini salah satu pilihan terbaik dalam menghadapi masalah sedang saya hadapi. Bahkan saya mau sumbang saran, bila anda juga memiliki masalah serupa, dan bingung memulainya darimana, bagaimana kalau coba konsultasikan ke psikolog? Percaya,deh, curhat sana-sini pada awalnya memang membantu, tapi saat anda sampai di titik harus “memperbaiki” yang sudah “rusak”, bantuan paling tepat adalah bertanya [ada yang punya ‘ilmu’nya. Kenapa? Karena kalau alat elektronik rusak saja anda butuh bantuian tukang servis, apalagi jika yang rusak itu begitu abstrak dan tak berwujud bernama: jiwa? Serius, anda yakin bisa “membenahi”nya sendiri?

Nah, saya mau nyambung soal pilihan jawaban yang kemarin itu. Iyaaa, yang tentang pertanyaan ‘Kenapa bisa terjadi dan baru sekarang tau?’ itu loh. Ini ada hubungannya dengan bantuan ‘ilmuwan’ yang saya bilang tadi. Setelah sebulan berkutat, maju-mundur, nangis-bingung, kesel-marah, dan rupa-rupa warna emosi  datang dan pergi tanpa jeda, akhirnya saya menemukan jawaban. Karena saya juga manusia biasa yang butuh alasan-alasan untuk menjelaskan banyak hal yang bising bersliweran di benak saya, maka opsi jawaban ini menjadi salah satu penyembuh.

Pertama, anak-anak saya, secara verbal, belum mampu bercerita. Mereka berkomunikasi, bahkan Daanish bisa bicara, tapi belum bisa melaporkan sesuatu. Inilah kunci gagalnya saya mendeteksi dini kekerasan pada mereka.

anti kekerasan seksual anak posterKedua, besar kemungkinan, mereka belum memahami betul apa yang terjadi di dirinya. Ini bikin saya inget soal aneka poster maupun video pencegahan terjadinya kekerasan, terutama kekerasan seksual, pada anak yang begitu marak beredar paska terungkapnya kasus di JIS. Yap, anak-anak memang termasuk golongan vulnerable karena begitu polos dan lugu, dan celakanya ini yang dimanfaatkan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab. Jadi apakah kekerasan yang menimpanya itu buruk atau tidak, bahkan apa yang menimpanya itu sebenarnya “benda” apa, mereka tidak tau. Boro-boro mau melapor kan, wong mengidentifikasi saja mereka belum bisa.

Ketiga, anak-anak dengan dunia murninya, baru sampai pada pemahaman bahwa ada sepaket love and hate dalam suatu hubungan. Sepaket itu sudah merupakan “pasangan sah”, gak mungkin ada sendiri-sendiri. Itulah mengapa, seperti dijelaskan oleh Psikolog Astrid yang menangani Daanish, anak-anak biasanya akan tetap sayang/dekat dengan orang tua maupun pengasuh yang telah menyakiti, memarahi, ataupun melukainya. So sweet yah, anak-anak itu. Mereka memaafkan dengan lekas dan menerima dengan tanpa bertanya. Di benak mereka, perlakuan buruk itu seolah segera diseka dengan pemahaman, “Toh, besok-besok, orang tua/pengasuh akan kembali baik dan sayang lagi, kok,” atau “Aha, jadi beginilah ikatan itu, adakalanya disayang, adakalanya dimarahi. Okesip, kalau begitu, terima aja, deh”. Ah, jangankan anak-anak, hayooo ngaku, kadang kita aja yang udah dewasa mikirnya juga gitu, kan. Apalagi yang belum bisa move-on dari orang yang kerjaannya bikin sakit hati melulu, tapi di sisi lain juga bikin klepek-klepek karena cintanya. Aw aw. Eaaa, ngomongin cinta-cintaan deh yaaa, kita. 😀

Sssttt… balik ke topik. Hehehe. Nah, tiga jawaban itu yang sekarang saya kantongi. Apakah lantas karenanya saya bisa feel free terus ongkang-ongkang kaki sambil dadah-dadah ke rasa bersalah? I know you know the answer.

Kalau diperhatikan, ketiga jawaban di atas bukanlah garis finish. Ketiganya kian merefleksikan kelemahan pengasuhan saya selama ini, kekurang jelian saya membaca situasi dan kondisi harian, serta mengungkap sederet tugas ekstra yang justru harus saya kerjakan di sela tugas utama sebagai ibu. Ketiga jawaban itu menjadi tolakan pertama saya, sebab pertarungan berikutnya baru saja dimulai. PR begitu menumpuk. Kesalahan begitu banyak. Lubang yang harus ditambal bertebaran. Ibarat rumah, saya harus merenovasi besar-besaran.

Namun keberadaan ketiga jawaban itu yang bisa bikin saya sedikit demi sedikit bisa kembali on track. Saya jadi paham harus mulai dari mana, sebab saya tahu kesalahan saya di mana. Saya tau saya salah, tapi gak terus-terusan menyalahkan diri saya sendiri. Meskipun saya sesekali masih menyalahkan diri sendiri, saya tau kalau kesalahan itu masih bisa diperbaiki. Kenapa saya bisa mulai memperbaiki kesalahan? Yes, it is because I’ve got a (somehow) clear vision on where to start! Endless loop, eh? Hihihihi.

Yang mau saya tekankan, soal endless loop di atas, adalah bahwa saya menemukan jawaban sekaligus alasan untuk bangkit melalui konsultasi dengan ahli kejiwaan, sang psikolog. Banyak titik yang tidak saya sadari berpotensi menjadi titik kritis. Banyak sudut pandang yak gak pernah sama sekali terpikirkan sebelumnya. Meskipun psikolog-psikolog anak yang saya mintai pertolongan sebenernya fokus untuk recovery anak-anak, tapi seluruh ‘diagnosa’ terhadap anak-anak melibatkan saya dan suami. Mulai dari pemaparan kronologis, aktivitas harian, kejanggalan behaviour, sampai ke saran ke depannya; semua menghadirkan orang tua. Begitu orang tua dilibatkan, saya melihat masalah ini dari perspektif berbeda. Pendek kata, para psikolog ini membantu saya melihat dari luar kotak; baik melihat anak-anak, kami selaku orang tua, masalah ini, maupun masa lalu dan masa depan sebagai implikasinya.

Airplane-Oxygen-MasksSekarang saya mengerti, kenapa di peraturan keselamatan moda transportasi selalu ditekankan agar orang dewasa harus memprioritaskan keselamatan atas dirinya sendiri sebelum melakukan tidakan penyelamatan untuk anak-anak atau orang-orang lemah dalam tanggungannya. Sebab jalan ini memungkinkan penyelamatan untuk lebih banyak jiwa. Orang yang selamat, bisa menyelamatkan orang lain. Orang yang sehat, bisa menyehatkan orang lain. Hanya mereka yang memiliki “sesuatu”, bisa melakukan “sesuatu”. Secara kejiwaan, saya yang dewasa pun demikian. Kalau saya “sakit” dan gak tau kalau sedang “sakit”, lantas bagaimana cara saya mendiagnosa “penyakit” anak-anak, apalagi menolong mereka untuk sembuh?

 

Salah satu cara untuk sembuh adalah dengan terlebih dahulu tau kalau kita sakit. Sayangnya, kalau sakit fisik sih masih bisa lah diraba-raba. Lah, kalau sakitnya di jiwa? Maksud saya, sakit yang gak kerasa sakit itu bahaya, apalagi kalau dibiarkan berlarut-larut dan gak ketemu jalan keluarnya. (Mungkin, itu yah yang bikin Mr. Robin Williams memilih mengakhiri hidupnya. Karena dia gak tau sedang “sakit” atau pencarian “obat penyembuh”nya yang belum tuntas? Eh, stop, bukan mau bahas itu loooh. :D)

Beneran deh, kalau anda butuh pertolongan, saya sarankan untuk segera cari pertolongan. Pertolongan macam apa? Tentu saja yang tepat dan benar dan merupakan hasil diagnosa ahlinya. Bukan, psikolog bukan cuma untuk ‘orang gila’ atau ‘orang stress’ atau ‘orang depresi berat’, kok. Sejak ada kasus ini, buat saya psikolog adalah teman bicara yang TEPAT; mereka mendengar, mengolah cerita saya dengan instrumen, membantu menyusun ulang kejadian dari hasil observasi, lalu menawarkan solusi. Tentu saja mereka bukan Tuhan, dan sangat mungkin salah. Tapi kalau Allah tidak menakdirkan saya ketemu mereka, mungkin bukan di titik ini saya berdiri sekarang.